Nur Rachman 'Ray' (unpad.ac.id)

Saat ini hanya perusahaan pemerintah saja yang diketahui nirlaba, dan menjunjung service oriented. Biasanya dalam melakukan bisnis orang akan berpegang pada profit oriented. Terutama ketika baru memulai bisnis, sebisa mungkin mencari cara untuk meraup laba yang besar.

Tetapi sepertinya hal itu tidak berlaku untuk usaha restoran di Bandung yang satu ini. Restoran ini memiliki nama Surga Dunia yang dimiliki oleh seorang pemuda bernama Nur Rachman. Pasalnya, resto yang ia dirikan ini menerapkan pembayaran seikhlasnya bagi mereka yang tidak mampu.

Rumah Makan Surga Dunia (kompasiana.com)

Rachman yang tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir di program studi Kimia FMIPA Universitas Padjadjaran ini secara sadar melakoni usaha nirlaba ini. Ia memiliki misi kemanusiaan dalam melakoni usahanya tersebut.

Ia ingin membantu teman-teman mahasiswa maupun masyarakat yang kurang mampu untuk tetap bisa makan layak dengan membayar seikhlasnya. Tentu hal yang dilakukan Rachman ini menimbulkan berbagai ungkapan kagum.

Dikutip dari unpad.ac.id, Ray, begitu pemuda ini biasa disapa, mengatakan bahwa ia ingin selalu bisa membantu rekan-rekan mahasiswa yang biasanya ketika akhir bulan kesulitan membayar makan. Menurutnya, resto yang didirikannya dengan membayar seikhlasnya lebih baik daripada membantu dengan mentraktir yang mungkin justru menimbulkan ketergantungan.

Bagian dalam RM Surga Dunia (nakamajem.wp.com)

Dibuka sejak tahun 2012, Ray membutuhkan usaha keras untuk bisa meyakinkan setiap investor mengenai gagasannya ini. Namun, ketika 3 bulan pertama menjalankan usaha, Ray mengalami kerugian yang luar biasa.

Bagaimana tidak, mereka yang ternyata mampupun turut membayar seikhlasnya. Namun hal itu idak lantas membuat Ray menyingkirkan niat baiknya untuk membantu sesama. Ia bersama dengan tiga temannya yang lain berpikir keras.

Kemudian, Ray menerapkan waktu-waktu tertentu untuk dapat menyantap hidangan dengan bayar seikhlasnya. Tetapi sayang, metode ini masih kurang tepat dan salah sasaran sehingga membuat Ray masih tetap merugi.

Akhirnya Ray menemukan jalan keluar yang dirasa tepat, yakni mereka yang secara nyata kurang mampu melaporkan diri ke pihak resto Surga Dunia, isi formulir dan menyerahkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

Setelah itu, mereka akan mendapatkan Kartu Anti Kelaparan dan bisa makan dengan membayar seikhlasnya. Kartu Anti Kelaparan ini sudah dilaunching sejak awal November 2014 lalu.

Menurut penuturan Ray, konsep resto miliknya merupakan satu-satunya di kawasan Asia. Konsep Ray ini bahkan menjadi juara satu dalam ajang Wirausaha Muda Pemula Berprestasi Nasional yang diadakan oleh Kementrian Pemuda dan Olah Raga RI.

Ray mengaku menikmati usaha yang dijalankannya tersebut, meskipun belum mendapatkan keuntungan. Ia juga menambahkan bahwa ada hikmah yang ia terima dengan ikhlas dibalik belum meraih keuntungan.

(anb)