Sebelumnya pernah dibahas mengenai jam puasa di berbagai negara, ada yang panjang, ada pula yang pendek. Indonesia sendiri umumnya berpuasa selama 13 atau 14 jam. Ada juga beberapa negara yang puasanya melebihi 20 jam. Lalu bagaimana dengan para muslim yang berpuasa di daerah Kutub?

Mengenai hal itu, Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi Astrofisika di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memberikan pendapatnya. “Untuk wilayah di lintang tinggi (dekat daerah kutub), variasi panjang hari akan sangat mencolok. Musim panas merupakan saat siang hari paling panjang dan malam paling pendek. Sebaliknya terjadi pada musim dingin. Panjang hari ini berpengaruh pada lamanya berpuasa,” tulisnya seperti dikutip jadiBerita dari tdjamaluddin.wordpress.com, Senin (22/6/2015).

“Waktu puasa paling ekstrem terjadi pada bulan Juni atau Desember. Pasalnya pada bulan tersebut lamanya puasa bisa menjadi sangat panjang atau sangat pendek. Selain itu bisa terjadi pula tidak adanya tanda awal fajar atau tidak adanya tanda maghrib. Padahal penanda puasa sendiri dimulai pada awal fajar dan diakhiri pada (awal) malam (atau maghrib),” tulis Thomas.

Pada keadaan ekstrim seperti itu, di daerah lintang tinggi bisa terjadi continous twilight, yaitu bersambungnya cahaya senja dan cahaya fajar, atau dengan kata lain matahari tidak terbenam. Akibatnya awal fajar tidak bisa ditentukan dan ini berarti sulit memastikan kapan harus memulai puasanya. Bisa juga terjadi malam terus sehingga awal fajar dan maghrib untuk memulai dan berbuka puasa tidak bisa ditentukan.

Lalu bagaimana cara umat muslim melakukan puasa di sana, jika waktunya sulit ditentukan? Ada yang berpendapat, pada saat ekstrem seperti itu pelaksanaan puasa diganti pada bulan lainnya seperti diusulkan oleh Saadoeddin Djambek dalam buku â??Salat dan Puasa di Daerah Kutubâ?. Tetapi pendapat seperti ini mempunyai kelemahan. Dengan melakukan puasa seperti itu, maka keutuhan ibadah Ramadan (seperti puasa, salat malam, tadarus, dan iâ??tikaf) tidak sempurna lagi. Ada juga yang berpendapat bahwa pada keadaan ektsrem seperti itu gunakan perhitungan waktu mengikuti daerah normal di sekitarnya (Hasbi Ash-Shiddieqy dalam â??Pedoman Puasaâ?).

Tampaknya metode yang disebutkan terakhir lebih bisa digunakan, yaitu menggunakan perhitungan waktu mengikuti daerah normal sekitarnya. Berdasarkan perhitungan astronomis, panjang puasa pada saat normal di seluruh dunia tidak lebih dari 20 jam. Jadi, dengan adanya waktu minimal 4 jam untuk berbuka dan bersahur, hal itu masih dalam batas kekuatan manusia.

Jadi, meskipun matahari tidak terbenam, umat muslim di daerah kutub masih bisa memperkirakan waktu sahur dan berbuka menurut perhitungan waktu yang normal dan tidak perlu berpuasa sepanjang hari. (tom)