Artis Porno Luar Negeri, Film Hantu-Cabul, dan Negaraku Indonesia

Artis Porno Luar Negeri, Film Hantu-Cabul, dan Negaraku Indonesia

4164

Maria Ozawa, Rin Sakuragi, Leah Suzuki, Sora Aoi, Tera Pattrick, Sasha Grey, dan Erika Kirihara. Tujuh bintang porno ini bermain dalam film hantu-cabul Indonesia. Uniknya, mereka tidak dituntut untuk peran yang “biasa dilakukan”. Kedatangan tujuh bintang film porno ini lebih merupakan sensasi yang tujuannya melariskan film hantu yang belakangan seperti kehabisan ide selain adegan hot dan setan (agak abal-abal).

Dari sekian nama, yang paling kontroversial tentu saja Maria Ozawa. Ia sempat didemo membabibuta oleh FPI agar tidak jadi bermain di film Menculik Miyabi (yang kalau kita lihat ceritanya, biasa banget). Barangkali FPI tidak mempunyai (referensi) video selain film pornonya Maria Ozawa. Kita mungkin juga tidak perlu bertanya dari sekian banyak film Maria Ozawa tersebut, mana yang ditonton FPI. Mungkin saja mereka cukup mendengar keluhan dari masyarakat tentang perempuan yang dalam film porno pertamanya tidak berani menonton wajah lawan mainnya ini.

Pertanyaan bukan ditujukan pada FPI, tapi pada produser film. Mengapa bintang porno? Mengapa bukan misalnya, bintang film kelas dua di Amerika Serikat atau Jepang?

Bukti Kebebasan?

Ataukah produser film Indonesia ingin melanjutkan “gegap reformasi” yang sudah berlangsung 11 tahun tapi tidak diketahui di mana ujungnya ini? Tentu kita tahu, pada 1998 hingga awal 2000-an entah berapa majalah semiporno beredar di masyarakat luas tanpa tedeng aling-aling demi dalih kebebasan (berpendapat). Kalau hal ini yang dituju, hal-hal cabul dianggap sebagai salah satu bentuk pemberontakan atas belenggu atau pewujudan kebebasan berpendapat di negeri yang katanya merdeka. Namun, jika benar hal cabul adalah upaya memberontak, mengapa upaya tersebut hanya terhenti dengan mengimpor bintang film porno untuk tampil “tidak porno-porno amat”? Bukankah totalitas pemberontakan itu justru tereduksi dengan sendirinya?

Hanya Mencari Sensasi?

Apakah misalnya, produser film Indonesia pernah melakukan survey bahwa film terbanyak yang ditonton pemuda Indonesia bukanlah film produk dalam negeri, melainkan film-film yang dibintangi para artis ini? Dengan demikian, produser film hantu-cabul Indonesia ingin menyaingi suksesnya Ayat-Ayat Cinta (kisah tentang laki-laki peragu yang mendapatkan banyak penggemar cewek yang rela menikah dengannya), karena konon film hantu-cabul penontonnya “mentok” di angka 100.000 hingga 500.000? Kalau demikian, mereka menggunakan pepatah “tong kosong, nyaring bunyinya”. Tidak banyak penonton tak masalah. Yang penting, caption filmnya, terutama bagian yang “panas-panas”, masuk ke youtube dan beberapa forum “silaturahim” ternama di Indonesia.

Sebagai contoh, duel maut Julia Perez dan Dewi Perssik dalam Arwah Goyan Jupe-Depe, digiring dalam kenyataan. Keduanya benar-benar berkelahi saat syuting dan perkelahian itulah yang jauh lebih diekspose daripada filmnya yang “nggak banget”. Namun, jika tujuannya memang hanya untuk mencari popularitas, bukankah para produser tersebut tahu bahwa film hantu-cabul didefinisikan sebagai tontonan berkualitas rendah; dan mungkin hanya ditonton kritikus yang kurang pekerjaan atau lelaki muda yang penasaran di bagian mana kira-kira para artis porno yang wajahnya sudah familiar itu akan melakukan adegan panas?

Cermin Generasi (ng)Artis?

Ironisnya, jika artis porno luar negeri dalam film hantu-cabul cuma ditujukan untuk meraih kesenangan dan sensasi semata, bisa jadi film ini merefleksikan kehidupan kita yang sebenarnya. Pertama, meskipun orang Indonesia mengaku sudah menjadi orang modern kepercayaan pada takhayul tetap nomor satu. Jika ada hal buruk, selalu ada justifikasi bahwa hal ini berkaitan dengan “dunia lain”.

Lalu, tentang sensasi, kebanyakan generasi muda Indonesia kali ini pun cita-citanya bukan lagi arsitek, dokter, atau tentara seperti pada masa Orde Baru. Menjadi artis, bergelimang harta dan hidup glamor di usia muda, menjadi pilihan utama. Maka, larislah acara pencarian bakat dan seterusnya. Ketika jumlah artis terbatas sedangkan keinginan sebagai artis begitu meluap; alternatifnya cum satu: melampiaskan keinginan tersebut dalam kehidupan. Entah berapa banyak remaja yang merasa sok penting dan (mencoba) menjadi pusat perhatian (meski kebanyakan gagal).

Maka, seperti sensasi film hantu-cabul yang menampilkan trailer hot demi meraih popularitas, sisi permukaanlah yang ditonjolkan remaja kita. Mulai dari foto “lucu-lucuan” yang menjadi foto profil Facebook atau Twitter, pakaian-pakaian ngejreng (yang norak seperti DePe dan Jupe dalam trailer film Arwah Goyang Karawang [ehm, Arwah Goyang Jupe-Depe]) hingga gaya hidup yang dibuat kontroversial (punya banyak uang, pacar, atau harus terlihat glamor, gaul di setiap kesempatan). Padahal, seperti film hantu-cabul pula, hanya trailer-nya saja yang menantang. Tapi, ketika kita sudah melihat keseluruhannya, ilfil pun menyergap.

Ketika remaja kita menjadi artis (bagi diri mereka sendiri), orang dewasa pun tidak kalah. Kita bisa melihat contoh anggota DPR yang baru pertama kali memiliki handphone dengan fitur video atau foto sehingga bagian tubuh yang privat sekalipun ikut dijepret atau direkam. Kita juga bisa melihat berapa banyak orang dewasa yang suka berbelit-belit. Akademisi atau orang yang sudah sarjana, akan mengartiskan diri dengan pembahasan (sok) ilmiah padahal cuma itu-itu saja (hanya “mencanggihkan bahasa” atau (ehm) menggunakan istilah bahasa Inggris agar ilmunya terlihat hebat). Orang dewasa yang hobi mengkritik pemerintah atau kebobrokan negeri kita in pun, hanya bisa mengkritik (dan sayangnya kebanyakan cuma mengkritik tanpa melakukan pendalaman materi). Dan orang-orang ini begitu banyak di negeri ini.

Maka, seperti film hantu-cabul yang menggeret artis porno luar negeri, kehidupan kita pun serba “sensasional” tapi sebenarnya kosong. Terlihat “mengerikan”, tapi kurang (kalau tidak bisa dikatakan tidak) bermutu. Hendak menampilkan sesuatu yang dahsyat, tapi terperangkap pada kemasan luar yang tak penting.

Apa Komentarmu?

penulis lepas di beberapa tempat :D :D