Muadz Al Hafiz (youtube.com)

Memiliki mata dan dapat melihat merupakan suatu anugerah dan nikmat yang indah. Namun, dengan kesempurnaan pengelihatan apa yang telah kita lakukan sebagai umat manusia yang berserah diri kepada Tuhan?

Kisah mengharukan datang dari Mesir, dimana terdapat seorang remaja laki-laki bernama Muadz Al Hafiz yang tidak dapat melihat sejak kecil tetapi mampu menghafal 30 juz Alquran.

Muadz, yang kini telah berusia 13 tahun menuturkan bahwa ia telah belajar menghafal Alquran sejak masih berusia 6 tahun, dan ketika menginjak usia 11 tahun ia telah mampu menghafal 30 juz Alquran.

Muadz ketika diwawancarai Syaikh Fadh Al Kandari (youtube.com)

Sewaktu masih belajar menghafal Alquran dengan gurunya atau yang biasa disebut syaikh, Muadz awalnya hanya datang satu kali dalam seminggu. Namun ia memohon kepada syaikh agar diberi waktu tambahan.

Akhirnya Muadz belajar kepada syaikh 3 kali dalam seminggu dan setiap kali datang ia hanya diperkenankan untuk menghafal satu ayat saja. Semangat dalam diri Muadz memang sangat luar biasa.

Hari-hari ketika ia belajar menghafal Alquran bersama dengan syaikh ia gunakan dengan sangat baik. Bahkan Muadz rela tidak bermain bersama dengan teman-teman sebayanya kala itu.

Tidak hanya semangatnya yang tinggi untuk belajar dan menghafal Alquran. Muadz bahkan memiliki hati yang sangat bersih dan pola pikir yang tak biasa untuk anak-anak seusianya.

Kita mungkin akan marah, kecewa, kesal dan sedih ketika harus ditakdirkan mengalami kebutaan oleh Sang Pencipta, tetapi tidak dengan Muadz.

Muadz dengan sangat bijak menuturkan bahwa ia tidak pernah meminta kepada Sang Pencipta untuk bisa memulihkan pengelihatannya, Muadz hanya mengharapkan rahmat dan ridho dari sang pemilik kehidupan ini.

Penuturan Muadz menganai kebutaan yang diharapkan membawa keringanan perhitungan hari kiamat (blogspot.com)

Muadz bahkan berharap bahwa kebutaan yang ia alami akan meringankan perhitungan dosanya ketika kiamat nanti, karena ia tidak akan melakukan dosa yang digunakan bersama dengan matanya.

Muadz sama sekali tidak merasa iri kepada teman-temannya dan orang lain yang dapat melihat. Ia sungguh menikmati hidupnya tanpa pengelihatan yang ia harapkan mampu membawanya menghuni surga terbaik milik Sang Kuasa.

(anb)