Jessica Cox (twitter.com)

Bagaimana rasanya jika harus menerima kenyataan bahwa kita terlahir sebagai manusia tanpa tangan? Mungkin sejak kecil kita akan merasa tidak percaya diri dan selalu diliputi rasa sedih. Bahkan kita tidak berani untuk bermimpi.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi Jessica Cox. Wanita kelahiran 1 Februari 1983 tersebut justru memiliki semangat yang luar biasa untuk melakukan banyak hal. Sejak kecil Jessica menghabiskan waktunya untuk berlatih menulis, menyisir rambut, mengetik, mencuci piring, menggunakan lensa kontak, dan sebagainya dengan kaki ketimbang menyesali diri.

Bio dalam sosial media Jessica Cox (twitter.com)
Bio dalam sosial media Jessica Cox (twitter.com)

Umur tiga tahun, Jessica masuk ke kelas gimnastik. Umur 6 tahun kakak dari Jackie ini ikut kelas berenang dan ikut kelas tari. Empat tahun kemudian, Jessica mulai ikut kelas Tae Kwon-Do untuk bekal pertahanan dirinya dan itu berlanjut hingga dia meraih dua sabuk hitam.

Semangat yang terpancar dalam diri Jessica merupakan pupukan dari kedua orangtuanya yang selalu mendorong dan menyemangati putri kesayangannya tersebut. Inez Cox, sang bunda yang seorang perawat selalu mengajak Jessica untuk selalu aktif dan mendapat pengalaman baru.

Sedangkan William, sang ayah yang merupakan pensiunan guru, mengajarkan Jessica untuk berkomitmen mengerjakan sesuatu sampai tuntas. Hal itulah yang mereka tanamkan kepada Jessica hingga ia tumbuh menjadi wanita hebat dan kuat.

Ketika itu, Jessica ingin bisa mengemudi dan akhirnya iapun belajar mengemudi menggunakan mobil yang sudah dimodifikasi. Namun, karena merasa mampu maka ia mengubah dan mengembalikan fungsi mbil seperti semula.

Tak disangka, Jessica benar-benar mampu mengemudikan mobil secara manual. Bahkan, ia mampu mendapatkan SIM layaknya orang normal.

Serangkaian latihan yang dilalui Jessica Cox (plurk.com)

Tak sampai disitu, cita-cita terbesar Jessica sejak kecil ternyata terus menghantuinya, yakni cita-cita untuk menjadi Superwoman dan bisa terbang. Hingga pada tahun 2005, Jessica ikut pertemuan penerbangan dan bertemu Robin Stoddard dari Wright Flight, organisasi penerbangan nirlaba yang berlokasi di Tucson.

Robin memberikan penawaran kepada Jessica mengenai kesempatan berlatih menerbangkan pesawat. Meski awalnya sempat ragu, namun Jessica menerimanya. Meski sempat terdiskriminasi dan diragukan saat akan meraih sertifikat FAA (Federal Aviation Administration) namun Jessica mampu membuktikan kemampuannya tersebut setelah 3 tahun lamanya berlatih.

Jessica tak malu dengan kekurangan yang dimilikinya (facebook.com)
Jessica tak malu dengan kekurangan yang dimilikinya (facebook.com)

Kini dia sudah maju. Sejak 10 Oktober 2008, Jessica mengantongi izin terbang pesawat sport dari US Federal Aviation Administration. Tak cukup jadi pilot, Jessica menaikkan kelasnya menjadi instruktur.

Bahkan, kemampuan luar biasa yang dimilikinyadicatat oleh organisasi pencatat rekor-rekor dunia, Guinnes World Records, yakni menerbangkan pesawat buatan tahun 1940-an di ketinggian 10 ribu kaki. Jessica didaulat sebagai wanita pertama yang menerbangkan pesawat dengan kaki.

(anb)