Joko Mulyanto dengan anak-anak asuhnya (nyata.co.id)

Bagaimana jika kamu berasal dari keluarga yang kurang mampu dan hidup serba pas-pasan? Masihkah kamu akan merelakan sebagian atau bahkan tiga per empat hartamu untuk kamu bagikan kepada mereka yang juga kesusahan?

Kalau kita belum mampu melakukannya mungkin kita harus belajar banyak mengenai keikhlasan dari seorang supir bernama Joko Mulyanto. Bapak berusia 47 tahun tersebut banting tulang dan memutar otak untuk membangun sebuah panti asuhan dan membiayai anak-anak asuhnya.

Dengan pekerjaannya yang hanya sebagai sopir, Joko mencari cara untuk membuatkan tempat tinggal yang layak bagi anak-anak asuhnya. Panti Asuhan yang kini berdiri dua lantai dengan nama Yayasan Benih Kebajikan Nusantara Al Hasyim itu, kini menaungi 27 anak yatim piatu.

Panti Asuhan milik Joko Mulyanto (nyata.co.id)

Panti asuhan tersebut dahulu dibangun dengan usaha keras dan pinjam uang sana-sini. Ia bersama dengan anak-anak asuhnya tolong menolong dalam mendirikan bangunan tersebut. Bahkan Jokopun hanya membayar kuli bangunan dengan mie dan beras.

Demi menghidupi 27 anak asuh yang sangat disayanginya, Joko rela menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah. Ia rela menjadi sopir di tiga tempat sekaligus dan rela hanya beristirahat selama 3 jam setiap harinya.

Joko mengaku bahwa ia melakukan ini semua karena terinspirasi dari sang Mertua, almarhum KH M Hasyim, yang semasa hidupnya dahulu beliau juga memiliki banyak anak asuh.

Joko mengaku bahwa ia tidak membedakan anak-anak asuhnya, semua diperlakukan sama bahkan seperti anak kandungnya sendiri. Meskipun ia tidak memungkiri bahwa dahulu, Zaki, sang anak kandung sempat protes dan keberata dengan apa yang dilakukan oleh orangtuanya.

Ruangan untuk anak-anak asuhnya (kabari.co.id)

Joko dengan sabar dan bijak memberitahu dan membimbing Zaki mengenai bagaimana harus bersikap membantu mereka. Joko mengibaratkan Zakilah yang ada diposisi anak-anak kurang beruntung tersebut. Sejak itu, Zaki menjadi pengertian dengan apa yang dilakukan oleh orangtuanya tersebut.

Joko mengaku bahwa anak-anak asuhnya harus taat kepada agama. Ia menerapkan dengan tegas bahwa setiap anak asuhnya untuk belajar dan mengaji. Meskipun bukan perkara mudah membiayai hidup 27 orang anak, tetapi Joko mengaku senang dan ikhlas menjalaninya.

(anb)