Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus, kerap diwarnai oleh lomba-lomba yang menyenangkan. Ternyata, berbagai lomba yang dilombakan saat peringatan 17 Agustus itu tidak asal pilih dan memiliki filosofinya sendiri.

Sebelum menuju ke filosofi lomba-lombanya, mari kita lihat terlebih dulu mengenai sejarah awal mula adanya lomba 17 Agustus. Sejarawan dan budayawan JJ Rizal, mengatakan bahwas tradisi lomba yang kerap menghiasi perayaan HUT Kemerdekaan RI itu muncul pada tahun 1950-an.

“Masyarakat sendiri yang memunculkan lomba-lomba itu sejak perayaan HUT  Kemerdekaan RI yang ke-5. Sebelumnya tidak ada lomba,” ujarnya seperti dikutip dari Suaracom, Senin (10/8/2015).

Rizal mengatakan masyarakat kala itu begitu antusias ingin memeriahkan perayaan HUT Kemerdekaan RI yang berhasil diperjuangkan dengan cara yang menyenangkan. Bahkan presiden pertama Indonesia, Soekarno, kata Rizal, adalah salah satu orang yang paling bersemangat dengan lomba 17 Agustus ini. Inilah yang membuat tradisi lomba 17 Agustus semakin menyebar luas di seluruh Tanah Air.

Kemudian kita beralih ke filosofi lomba-lombanya. Yang pertama ada lomba engrang. Menurut Rizal, lomba tersebut memiliki makna menghina atau mengejek kolonialisme Belanda yang tubuhnya tinggi (jangkung).

Lomba engrang (Kebumennews)
Lomba engrang (Kebumennews)

Sementara lomba balap karung, lanjut dia, mengingatkan rakyat Indonesia saat masa-masa sulit dijajah Jepang. “Saat Indonesia dijajah Jepang, mayoritas rakyat ketika itu pakaiannya adalah karung goni,” ungkap Rizal.

Lomba balap karung (Duniaberbicara)
Lomba balap karung (Duniaberbicara)

Simbol keprihatinan tentang kondisi rakyat Indonesia saat zaman penjajahan ditunjukkan pula lewat lomba makan kerupuk yang dijadikan simbol pangan. Lalu, lanjut Rizal, filosofi dari lomba tarik tambang adalah lomba tersebut memiliki makna gotong royong, kebersamaan, dan solidaritas masyarakat Indonesia.

Lomba tarik tambang (Duniaberbicara)
Lomba tarik tambang (Duniaberbicara)

“Dulu susah cari pangan, makanya lombanya tangan di belakang. Ada tarik tambang mengenai gotong royong, kebersamaan, dan solidaritas,” katanya.

Lomba tarik tambang (Duniaberbicara)
Lomba tarik tambang (Duniaberbicara)

Bagaimana dengan lomba panjat pinang? Panjat pinang sering digelar di acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain. Panjat pinang sendiri sudah diadakan sejak zaman penjajahan Belanda.

Peserta dari lomba ini adalah orang-orang pribumi yang memperebutkan ‘barang mewah’ waktu itu, biasanya bahan makanan seperti keju, gula, pakaian kemeja. Ketika orang pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, para orang-orang Belanda menonton sambil tertawa. Tata cara permainan ini belum berubah sejak dulu.

Lomba panjat pinang (Duniaberbicara)
Lomba panjat pinang (Duniaberbicara)

Jika dilihat dari sisi positifnya, maka filosofi dari lomba panjat pinang ini adalah semangat dari orang-orang Indonesia yang pantang menyerah meskipun ada berbagai rintangan dan halangan yang harus dihadapi.

Jadi, pada intinya, perlombaan yang dilakukan saat lomba 17 Agustus menggambarkan semangat orang Indonesia yang dulu ingin segera mengakhiri penjajahan Belanda di Indonesia. (tom)