Yahudi Yes, Israel No (?)

213

Banyak orang yang percaya bahwa Yahudi tengah mengontrol dan menguasai dunia dengan berbagai cara licik. Yahudi, yang orang-orang kayanya mendanai Amerika Serikat, konon sukses menginfiltrasi seluruh sendi kehidupan kita. Misalnya, produk sehari-hari, dari odol hingga sabun cuci, yang kabarnya uang pembeliannya digunakan untuk membiayai perang merebut tanah Palestina.

Bahkan, film kartun seperti Spongebob Squarepants dan The Simpson diisukan penuh dengan simbol-simbol Yahudi. Kadang kita juga kebingungan dengan informasi seputar Yahudi ini. Yahudi sering diidentikkan dengan Israel, organisasi terlarang Freemasonry, dan masyarakat gelap seperti Iluminati. Film dan novel seperti The Da Vinci Code dan seterusnya —yang sebenarnya kebenarannya sangat layak dipertanyakan— sering dijadikan rujukan tentang ancaman Yahudi dan “kolega-kolega” atau “anak buah”-nya untuk menaklukkan dunia. Namun, benarkah pemikiran kita ini?

Konflik Israel-Palestina Bukanlah Konflik Agama!

Kita perlu menyadari satu hal: konflik Israel dan Palestina BUKANLAH konflik antar agama samawi, Yahudi menghadapi Islam. Konflik ini, tanpa bermaksud meremehkan penderitaan orang-orang Palestina, adalah murni masalah pencaplokan wilayah. Israel memang menggunakan kitab-kitab suci Yahudi sebagai salah satu landasan undang-undang mereka.

Bahkan, klaim mereka atas tanah Palestina berasal dari janji Tuhan kepada Abraham (Ibrahim; atau kalau mau lebih lanjut, bisa dimiripkan dengan Brahma [Br-HM]). Janji ini bisa dilihat dalam Kejadian (13:14—16). Tuhan berjanji akan memberikan seluruh negeri yang dilihat Abraham (saat itu masih bernama Abram) dan keturunannya untuk selama-lamanya. Karena politisi Israel (adalah Bani Israil) berasal dari keturunan Abraham (melalui Ishak) mereka “mengabulkan” janji Tuhan kepada mereka melalui diri sendiri dan dengan cara sesukanya sendiri.

Fakta di lapangan menunjukkan, konflik Israel-Palestina lebih disebabkan oleh kepentingan negara-negara pemodal, misalnya Amerika Serikat. Di antaranya, demi menjaga harga minyak dunia (versi mereka), melindungi “aset-aset penting” di Timur Tengah (agar tidak bisa mandiri dan terus bergantung pada suplay Amerika), dan menunjukkan bahwa Amerika adalah negara superpower yang menjadi polisi dunia.

Dalam aturan “resmi”, pemeliharaan konflik semacam ini sangat sah dilakukan oleh negara besar (sah bukan berarti benar). Mereka berada di puncak kekuasaan dan membutuhkan kuasa tersebut demi mengatur dunia sesuai kepentingan pribadi (seandainya negara kita ada di posisi Amerika dan pemerintah kita sebusuk mereka, mungkin Indonesia akan melakukan hal sama).

Pertempuran juga tidak hanya terjadi antara Yahudi-Israel dengan Islam-Palestina. Umat Kristiani dan Yahudi Palestina juga bahu-membahu untuk menghadapi agresi militer Israel yang beraninya memakai tank untuk menyerang lemparan batu. Umat Yahudi di luar Israel, terutama di Amerika Serikat yang bisa memakan roti terenak sedunia sementara saudaranya berada di garis depan, bukannya tanpa tekanan pula.

Biasanya, para penyandang dana Israel mendapatkan ancaman dari Israel, mesti memasok uang yang sangat besar karena para penyandang dana ini tidak berjuang “sampai titik darah penghabisan; yang mungkin saja akan kehilangan nyawa”. Keadaan ini sering diulas dalam buku-buku seputar Yahudi Amerika. Mereka hidup dalam tekanan karena tidak bisa berjuang untuk negara “masa depan” dan cuma bisa menyumbang uang.

Kembali ke konflik Israel-Palestina, konflik ini dibelokkan ke dalam konflik agama demi mempertahankan keadaan Timur-Tengah yang senantiasa tidak aman dan senantiasa berada dalam kendali Amerika Serikat. Maka, jika kita termakan isu ini, secara tidak langsung kita turut melestarikan penggiringan opini publik buatan Amerika Serikat. Seperti halnya ketika kita terburu-buru mengutuk Taliban dan Usamah bin Ladin dalam Tragedi 9/11.

Freemasonry Bukanlah Organisasi Yahudi

Salah satu hal yang sering dicampuradukkan dengan Yahudi adalah Freemasonry. Banyak yang menduga, Freemasonry dibuat orang-orang Yahudi untuk menciptakan berbagai pemberontakan di Eropa pada masa-masa perubahan besar, seperti dalam Revolusi Prancis dan kemudian Revolusi Turki.

Kenyataannya, Freemasonry adalah “organisasi” terpisah. Sejarah yang sering direkayasa oleh para penggemar teori konspirasi, yang sering kita baca, memang cukup menyesatkan. Freemasonry didirikan sebagai sarana bagi “orang-orang tercerahkan” untuk mengenal Arsitek Agung Alam Semesta (yang dalam bahasa agama disebut Tuhan).

Memang, dalam tradisi para Mason sendiri, ada berbagai orang dari bermacam latar belakang agama yang masuk ke dalam wilayah “rahasia” mereka. Anggota secret society ini memahami bahwa terdapat berbagai cara (agama) untuk mengetahui Sang Arsitek Agung tersebut (dan hal ini pasti membingungkan umat beragama yang kebanyakan mengira setiap agama diciptakan Tuhan yang berbeda).

Salah satu Bapak Islam Modern, Jamaluddin Al-Afghani, pernah menjadi anggota Freemasonry. Bahkan, jika dilihat lebih detail, Freemasonry secara “sempurna” mengadaptasi banyak ritual sufi. Dalam penelitian oleh para akademisi mutakhir, dijelaskan bahwa anggota Freemasonry yang beragama Yahudi sangat sedikit (kalau sekarang banyak Yahudi yang berada di “organisasi” ini, Freemasonry yang sekarang adalah Freemasonry milik orang-orang kaya).

Sudah dibuktikan pula dalam berbagai penelitian, bahwa Protokol Tetua Sion, yang konon merupakan bukti bahwa Freemasonry adalah buatan Yahudi yang ingin menguasai dunia, ternyata HOAX. Protokol Tetua Sion berisi 24 strategi penting Yahudi dalam menguasai dunia. Namun, ternyata Intelijen Rusia-lah yang membuat Protokol ini. Mereka dengan cermat, menjiplak dua sumber utama Protokol Tetua Sion, yaitu Dialogue aux enfers entre Machiavel et Montesquieu buatan Maurice Joly (dibuat pada 1864) dan novel Biarritz karya Herman Goedsche (dibuat 1868).

Memang, ada yang menyebutkan, Protokol Tetua Sion sudah dibuat pada tahun 1780-an. Namun, ternyata, Protokol ini baru dibuat pada 1901—1905-an. Intelijen Rusia menggunakan Protokol Tetua Sion untuk dalih pembantaian Yahudi yang secara masif terjadi pada akhir 1890-an hingga 1940-an; kemudian kita akan mengenal istilah holocaust untuk hal ini (Kelak, orang-orang Eropa begitu menyesal karena pembantaian fatal yang disebabkan hanya karena gosip ini).

Tidak ada kedekatan pasti antara Yahudi dan Freemasonry. Yang jelas, Freemasonry menerima semua agama, dan tidak hanya terbatas pada orang-orang Yahudi (yang jumlahnya dalam keanggotaan sangat sedikit). Jadi, ketika kita mempercayai Freemasonry sama dengan Yahudi, bukankah kita sama seperti orang-orang Eropa pada awal abad XX yang percaya pada gosip?

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendukung invasi Israel atau membanggakan Yahudi. Namun, sebagai manusia modern yang konon mengedepankan akal daripada sentimen pribadi atau fanatisme yang tidak jelas, perlu disadari bahwa tidak selamanya Yahudi sama dengan Israel, apalagi dengan Freemasonry. Umat beragama yang paling sejati adalah yang benar-benar berpasrah diri kepada Tuhan dan tidak membenci apa pun di dunia kecuali penindasan dan ketidakadilan. Israel menjajah Palestina adalah kenyataan yang mesti diperangi. Namun, tidak ada agama apa pun yang layak dibawa untuk pertumpahan darah ini.