Dalam proses lamaran, sudah jelas kalau dari pihak cowok yang akan melamar cewek. Namun hal sebaliknya terjadi di Lamongan, Jawa Timur. Di sana, justru pihak cewek yang melamar cowok.

Sesuai tradisi adat di Lamongan dan beberapa daerah pesisir pantai utara, perempuan lah yang melamar laki-laki. Budaya perempuan melamar laki-laki ini terbilang unik, karena tidak lazim terjadi di daerah lain. Seperti misalnya pasangan Muji Syukur Rahmad (24) dan Qurrotu Ayun (20) yang satu ini.

Rahmad dan Ayun (Merdeka)
Rahmad dan Ayun (Merdeka)

Pernikahan mereka berdua berlangsung cukup sederhana, dan tetap mengikuti adat Lamongan, yaitu cewek yang melamar cowok. “Hanya terjadi di Lamongan, itupun hanya pesisir pantai saja dan beberapa wilayah di Tuban. Tidak semua wilayah Lamongan,” kata Lusianah keluarga Rahmad yang tengah menerima kunjungan dari keluarga mempelai perempuan, seperti dikutip dari Merdekacom, Kamis (20/8/2015).

Untuk prosesnya, pengantin perempuan yang pertama menanyakan pada pihak pria. Bahkan beberapa ada yang membawa seserahan sepeda motor untuk pengantin pria. “Tergantung kondisi ekonomi, kalau dari keluarga biasa-bisa saja ya cukup pakaian dan cincin,” katanya.

Setelah pihak perempuan melamar, kata Anwar, selanjutnya pihak laki-laki membalas kunjungan sambil memberikan jawaban. Tidak jarang pihak perempuan akan mendesak melalui seorang utusan, saat pihak laki-laki tidak juga membalas lamaran. Kedua belah pihak selanjutnya menyepakati waktu pernikahan.

Tradisi ini konon sudah terjadi turun temurun sejak masa pemerintahan Raden Panji Puspokusumo, penguasa Lamongan pada 1640-1665. Dalam kisahnya, Panji Puspokusumo memiliki dua anak kembar bernama Raden Panji Laras dan Raden Panji Liris. Suatu ketika, dua putri kembar raja Wirosobo, yakni Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi, jatuh cinta pada ketampanan mereka berdua.

Namun, saat itu pihak perempuan yang melamar laki-laki masih dianggap melanggar norma. Walau demikian, Raja Wirosobo akhirnya melamar kedua putra kembar penguasa Lamongan itu. Desakan dua putri kesayangan membuatnya berani melanggar norma. Sejak saat itulah tradisi perempuan melamar laki-laki mulai diberlakukan. Budaya itu kemudian dilestarikan sebagai budaya leluhur yang masih terjaga hingga kini. (tom)