Kita tentu tahu lambang negara kita, yaitu seekor burung garuda. Namun tahukah kamu siapa yang merancang lambang tersebut? Dia adalah Sultan Hamid II.

Sultan Hamid II (kanan) saat mengadakan Konferensi Meja Bundar (Berita24h)
Sultan Hamid II (kanan) saat mengadakan Konferensi Meja Bundar (Berita24h)

Menurut jurnalis BBC Indonesia, Heyder Affan, nama Sultan Hamid II mungkin dilupakan karena dianggap terlibat upaya kudeta Westerling pada tahun 1950. Kini disebut-sebut ada upaya untuk membersihkan namanya.

Sejarah seringkali milik para pemenang, dan di sisi lain pihak yang kalah acapkali dilupakan. Dalam sejarah kontemporer Indonesia, sosok Sultan Hamid II, yang pernah menjabat menteri negara dalam Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) pertama, barangkali termasuk kategori yang kalah.

Jasanya dalam merancang lambang negara Indonesia, burung Garuda Pancasila, seperti dilupakan begitu saja setelah dia diadili dan dihukum 10 tahun penjara terkait rencana kudeta oleh kelompok eks KNIL pimpinan Kapten Westerling pada 1950.

â??Dia dilupakan, karena dituduh terlibat peristiwa Westerling, termasuk ingin membunuh Sultan Hamengkubowo (Menteri Pertahanan saat itu),â? kata sejarawan Taufik Abdullah seperti dilansir dari BBC Indonesia, Kamis (27/8/2015).

Sejarah resmi Indonesia kemudian melupakannya. Ketika pria kelahiran 1913 ini meninggal dunia lebih dari 35 tahun silam, jasadnya bahkan tidak dikubur di makam pahlawan. Sosok penyokong konsep negara Federal ini seperti dihilangkan, walaupun dia adalah perancang lambang negara Indonesia, burung Garuda Pancasila.

Sketsa rancangan Garuda Pancasila buatan Sultan Hamid II (Berita24h)
Sketsa rancangan Garuda Pancasila buatan Sultan Hamid II (Berita24h)

â??Sultan Hamid sudah resmi diakui dalam jasanya membuat lambang burung Garuda,â? kata peneliti sejarah politik kontemporer Indonesia, Rusdi Hoesin.

Konsep rancangan lambang Garuda Pancasila yang dibuat oleh Sultan Hamid yang terpilih, menyisihkan rancangan Muhammad Yamin. â??Meskipun (burung Garuda) itu belum berjambul, masih botak. Dan cengkeraman (atas pita) masih terbalik,â? kata Rusdi Hoesin.

Alumni Universitas Indonesia, Turiman Fachturrahman, melalui tesis masternya, menemukan bukti-bukti otentik yang menguatkan peran penting Sultan Hamid II sebagai perancang lambang negara, Garuda Pancasila. Dia melakukan penelitian ini selama 4 tahun. â??Dan saya menemukan sketsa-sketsa dokumen (perancangan logo burung Garuda) yang diberikan Sultan Hamid kepada Mas Agung,â? ungkap Turiman.

Berbagai konsep lambang Garuda Pancasila hingga kini. Konsep Sultan Hamid II ada di kiri bawah (Berita24h)
Berbagai konsep lambang Garuda Pancasila hingga kini. Konsep Sultan Hamid II ada di kiri bawah (Berita24h)

Penelitian Turiman ini kemudian diterbitkan dalam buku “Sultan Hamid II, Sang Perancang Lambang Negara” pada pertengahan tahun 2013 lalu. â??Buku ini salah-satu langkah awal publikasi sehingga nama Sultan Hamid II tidak perlu harus ditutup atau samar-samar dalam parade sejarah Indonesia,â? demikian prolog buku tersebut.

â??Dia bukanlah pengkhianat negara seperti black campaign pada masa kehidupannya, namun pahlawan negara yang karya ciptanya menduduki peringkat tertinggi di dalam struktur negara, yaitu lambang negara Elang Rajawali Garuda Pancasila,â? tulis mereka.

Lebih lanjut, Turiman mengharap agar negara mengakui jasa pria yang bernama asli Syarif Hamid Alqadrie ini sebagai perancang lambang negara, Garuda Pancasila. (tom)