Ketika duduk di bangku sekolah, kita sering menggunakan rumus Phytagoras untuk menyelesaikan soal segitiga siku-siku. Prinsipnya, kuadrat sisi miring segitiga tersebut sama dengan kuadrat kedua sisi tegaknya. Atau, dalam bahasa yang “ilmiah”, menjadi:

c2 = a2 + b2

Yang unik, ternyata rumus ini tidak berasal dari pemikir Yunani kuno ini. 1000 tahun sebelum masa Phytagoras, orang-orang Yunani sudah mengenal penghitungan â??ajaibâ? ini.

Golden Ratio

Hal lain yang dinisbatkan kepada Phytagoras adalah perbandingan emas (golden ratio). Pada masa lalu, matematika memang tidak melulu hanya berkaitan dengan angka atau merupakan ilmu â??kakuâ?. Matematika digunakan untuk menjabarkan filsafat dan mengejar keindahan. Termasuk golden ratio ini.

Berdasarkan penemuan Phytagoras, ternyata segala sesuatu di alam semesta ini, selalu mengarah pada perbandingan yang sama. Cangkang siput, galur-galur pada nanas, dan ukuran tubuh bagian atas manusia dibandingkan bagian bawahnya hampir pasti mendekati perbandingan â??suciâ? 1:1,618. Phytagoras juga membuktikan, semua benda yang memiliki golden ratio senantiasa memiliki tingkat estetika yang sangat tinggi. Kalau alam semesta berlimpahan dengan benda-benda dengan â??ukuran perbandingan emasâ?, maka manusia mesti membuat yang serupa demi menjaga keindahan tersebut.

Bahkan, Phytagoras berprinsip bahwa â??Segala sesuatu adalah angka; dan perbandingan emas adalah raja semua angka.â?

Pada titik ini, saya sudah luar biasa terkejut ketika menyadari pengklasifikasian ilmu belum terjadi pada masa lalu. Dahulu, misalnya, seorang nabi (pembawa berita tentang keberadaan Tuhan) memiliki kepandaian dalam berbagai bidang. Sementara itu, profesor pada zaman kita ini, yang konon sangat maju, â??cumaâ? mempunyai kecakapan pada satu bidang ilmu saja. Itu pun ilmu â??kakuâ?, bukan ilmu praktis yang bisa diterapkan dalam kehidupan. Membayangkan seorang profesor membajak sawah atau menjadi penyapu jalanan adalah sebuah hal yang mustahil.

Namun, dari sekian hal yang menarik tentang masa lalu dan Phytagoras bukan hanya pemahaman bahwa matematika adalah ilmu â??basahâ?. Melainkan juga kisah-kisah â??konyolâ? yang melingkupi hidup sang ahli angka ini; yang tentu saja sesuai dengan zamannya.

Percaya Reinkarnasi

Lebih dari seribu tahun lalu, orang masih percaya pada kehidupan kembali pasca kematian. Entah itu akhirat, entah berupa reinkarnasi. Tak terkecuali Phytagoras. Ia percaya bahwa dirinya adalah reinkarnasi Euphorbus, seorang pahlawan Troya. Sebagai penganut reinkarnasi, ia percaya pula semua jiwa manusia dan binatang akan berpindah ke jasad lain. Oleh karena tak mau berpindah menjadi kambing atau sapi misalnya, Phytagoras pun mengatur makannnya dengan ketat. Ia hanya mau memakan buah dan sayur alias vegetarian. Namun, tidak semua tumbuhan dimakannya. Phytagoras anti memakan buncis karena alasan pribadi. Pertama, karena baginya buncis bisa membuat perut kembung, sesuai bentuknya. Alasan lain, buncis berbentuk mirip alat kelamin lelaki.

Mati Karena Buncis

Pantangnya Phytagoras pada buncis ini berakibat fatal pada kematiannya kelak. Dikisahkan, suatu hari rumah Phytagoras dibakar para musuhnya, yang tak lain adalah orang-orang yang membencinya karena ditolak menjadi anggota sekte Phytagorean.

Anggota sekte berlarian dan dibantai satu persatu. Terakhir, tinggal seorang Phytagoras sendiri. Ia berlari hingga tiba di depan ladang buncis. Ketika berada di sana, tamatlah riwayatnya. Phytagoras berbalik arah dan berkata pada para pengejarnya, lebih baik mati daripada mesti melewati ladang buncis. Maka, berakhirlah nasib sang penemu golden ratio ini dengan cara dipotong lehernya.

Cerita tragis inilah yang tidak pernah disampaikan ketika guru matematika menjelaskan ini dan itu, tentang angka-angka rumit, penghitungan tingkat tinggi, dan seterusnya. Padahal, menceritakan sejarah matematika pasti menyenangkan dan membuat murid berpikir, matematika tak sekaku yang dibayangkan. Setidaknya, ahli matematika atau fisika dan padanannya, tidak akan dicitrakan sebagai pria berkacamata dan berkepala botak yang tidak bisa menyukai lawan jenis karena sibuk dengan kalkulator. (rei)