Raut bahagia terpancar dari wajah seorang pemuda usai upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau pada hari Rabu kemarin. Pemilik nama lengkap Malik Khidir itu memperoleh penghargaan dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrowi sebagai pemuda pelopor tingkat internasional bidang teknologi dan informatika.

Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu meraih penghargaan Menpora karena prestasinya. Sepak terjangnya di dunia robot diharapkan mampu menginspirasi pemuda-pemuda Indonesia untuk terus berkarya dan berkompetisi di pentas internasional.

“Alhamdulillah kami dapat hadiah dari Kemenpora Rp 100 juta. Kemudian ditambah uang pembinaan Rp 30 juta. Saya ucapkan banyak terimakasih,” ujar Malik seperti dikutip dari Liputan6com, Jumat (30/10/2015).

Malik Khidir menerima penghargaan (Liputan6)
Malik Khidir menerima penghargaan (Liputan6)

Prestasi apa yang sudah dia raih? Pemuda 24 tahun itu membuat drone berukuran 12 meter yang memiliki kemampuan menyelam dan berlayar dengan cepat.

Drone tersebut, kata Malik, berfungsi untuk menjaga perbatasan wilayah laut Indonesia. Tak hanya itu, ?robot buatan anak negeri ini juga diyakini mampu menunjang aktivitas pengeboran minyak di lepas pantai. “Bisa untuk melihat apakah ada tumpahan minyak atau tidak di kilang-kilang yang ada di lautan.”

Mengenai drone buatannya, Malik menamakannya Savinna. USV ini bekerja dalam dua mode, yaitu secara autonomous, dengan memanfaatkan koordinat GPS (Global Positioning System) sebagai titik acuan dari koordinat yang dituju, atau mode kedua dengan remote control, di mana kapal bisa beroperasi sesuai masukan yang diberikan operator dari ground control.

Malik Khidir menyebut banyak fungsi yang dapat dikerjakan oleh Savinna. Seperti pengamatan, baik untuk pengamatan kondisi permukaan air, ataupun untuk mengetahui kondisi permukaan di bawah air yang dimungkinkan dengan memanfaatkan sensor echosounder.

Alat ini yang merupakan salah satu jenis sonar dengan cara memantulkan gelombang suara berfrekuensi tinggi ke dasar permukaan laut sehingga didapatkan data bentuk permukaan dasar laut. Data ini kemudian dapat dimanfaatkan sebagai penentuan jalur kapal besar agar tidak mengalami benturan dengan dasar laut, terutama pada perairan dangkal. Selain itu, drone ini juga dapat digunakan untuk melakukan survei keberadaan kumpulan ikan. Sehingga dapat dilakukan pemetaan wilayah, di mana terdapat banyak ikan.

Dalam proyeksi kedepan, Savinna diklaim juga dapat digunakan untuk keperluan militer seperti pertahanan wilayah. Wahana tanpa awak ini dapat berfungsi sebagai pengintai pada titik-titik tertentu di laut. Dalam melakukan fungsinya sebagai pengintai, Savinna akan ditempatkan dalam kondisi statis di tengah laut. Kemampuannya untuk mengoreksi posisi membuatnya tetap dapat mempertahankan posisi meskipun terkena sapuan gelombang.

Kapal tanpa awak sebenarnya telah dikembangkan sejumlah negara lain. Namun, kata Malik, Indonesia belum memilikinya. Sementara ada potensi besar pada diri generasi pemudanya.

Senapan radio buatan Inggris untuk mencegah penyalahgunaan drone (Liputan6)
Senapan radio buatan Inggris untuk mencegah penyalahgunaan drone (Liputan6)

?”Sebenarnya udah ada yang ngembangin di AS dan Israel. Tapi karena di Indonesia belum ada, dan saya bisa, makanya kami bikin itu sistem tanpa awak, drone laut. Saya juga udah presentasikan ke Pak Jokowi waktu di acara International Convention Exhibition (ICE) di BSD City,” jelas Malik. (tom)