Blaming (thesaleshunter.com)

Sebagai negara yang merdeka, saat ini warga Indonesia pun dibebaskan untuk menyampaikan pendapat dan aspirasinya. Baik dalam dunia politik, sosial, ekonomi, bahkan untuk isu-isu hiburan, kita semua dapat menyampaikan pendapat atau tanggapan (komentar) kita akan hal tersebut. Sesungguhnya, memberi tanggapan berupan kritikan itu diperlukan loh, dengan maksud untuk membangun dan menjadikannya lebih baik di masa mendatang. Namun sayangnya, yang banyak terjadi saat ini adalah orang-orang hanya sibuk menghujat. Hati-hati dalam berkomentar ya guys, karena kalau salah kamu justru akan dituduh menghujat. Memang apa sih perbedaan antara mengkritik dan menghujat? Simak artikel berikut ini ya guys!

1. Kritik memberi masukan, hujatan hanya mencela

Jangan hanya mencela. Kalau memang dia salah, katakan apa yang harus dia lakukan (nationalpost.com)

Kritik: â??Sebagai penanggung jawab kelas, harusnya kamu memberi informasi kepada teman-teman yang lain apabila dosen tidak dapat hadir.â?

Hujatan: â??Penanggung jawab kelas apaan, kerja nggak becus!â?

Memberi kritik memiliki tujuan untuk membangun dan memberi masukan agar ada perubahan yang lebih baik di masa depan. Kalau menghujat, kamu hanya sibuk mencela tanpa memberi tahu lebih lanjut apa yang harus dilakukan.

2. Kritik menjunjung etika berpendapat

Yuk tetap junjung etika berpendapat (indianexpress.com)

Kritik: â??Suaramu bagus, hanya perlu latihan lebih giat lagi karena kamu memiliki kelemahan dalam pernafasan.â?

Hujatan: â??Kalau nggak bisa nyanyi, nggak usah nyanyi.â?

Ketika mengkritik, seseorang yang menyampaikannya akan tetap memperhatikan etika dalam berpendapat. Ia akan tetap menggunakan bahasa, baik lisan, tubuh dan ekspresi, yang baik. Sedangkan kalau menghujat, orang tersebut hanya akan mementingkan amarahnya terluapkan.

3. Kritik fokus pada hasil kerja, bukan pada siapa yang mengerjakan

Sayangkan kalau karya dia rusak hanya karena kamu nggak suka dia yang mengerjakan (wordpress.com)

Kritik: â??Wah makanan buatanmu rasanya enak, sayang harganya terlalu mahalâ?

Hujatan: â??Harga mahal, rasa nggak enak!â?

Memberi kritik bersifat objektif, yakni mengenai hasil apa yang telah berhasil dicapai oleh orang tersebut, dan bagaimana kinerjanya. Sedangkan hujatan bersifat subjektif, yakni sebaik apapun pekerjaannya akan selalu dinilai buruk apabila si  X yang melakukannya. Jangan begitu ya guys.

4. Kritik menggunakan logika, hujatan menggunakan emosional

Kalau mengutamakan emosi ya begini deh (culturemap.com)

Krtitik: â??Desaignnya sudah bagus, tapi warnanya kurang cocok. Tolong menggantinya dengan warna yang lebih softâ?

Hujtan: â??Design apaan nih? Jelek banget! Bisa desaign nggak sih lo?â?

Seperti yang dikemukakan pada poin sebelumnya, karena mengkritik bersifat objektif, maka ketika memberi krtitik kita akan menggunakan logika dan ada alasan yang logis dibalik kritikan tersebut. Sedangkan kalau sekedar menghujat, hal yang bersifat subjektif, maka kamu akan mengutamakan emosionalmu. Hati-hati guys, jangan sampai menyebabkan penyakit hati ya.

(anb)