Perkembangan teknologi yang kian canggih, ada saja alat yang diciptakan. Termasuk drone, rasanya hampir semua tahu benda apa ini. Kini bermain drone pun sudah menjadi kegemaran anak muda hingga dewasa, lho. Adu cepat menggunakan benda ini pun kian hits.

Bahkan belakangan ini drone tak sekedar hobi, malah telah menjelma menjadi liga semi-profesional. The Drone Racing League (DRL) adalah liga balapan drone pertama gagasan dari Nick Horbaczewski dan Ryan Gury, mantan direktur kreatif periklanan dan pembalab drone, di wilayah Williamsburg, Amerika Serikat.

Nick dan Ryan merintis sebuah perusahaan dengan tujuan untuk mengadakan ajang balapan drone. DRL sendiri telah mendapatkan suntikan dana dari perusahaan modal ventura sebesar USD 8 juta, serta dari pemilik Miami Dolphins, dan vokalis dari band Muse. Ada juga rapper 50 Cent yang ikut serta dalam rencana ini.

Mereka tertarik untuk menonton sejumlah benda seukuran piring makan yang berterbangan di udara dan saling berkompetisi, dan mengubahnya menjadi olahraga global. Mereka juga tidak sendirian, karena saluran berita olahraga Amerika Serikat, ESPN juga telah mengumumkan bahwa mereka akan menyiarkan laga tersebut selama tiga hari di New York.

Jaringan TV kabel tersebut akan menayangkan live-streaming yang diselenggarakan oleh Scot Refsland, pria yang menjadi tuan rumah kompetisi balap pertama, US national drone racing competition tahun lalu di channel online ESPN3.

Istilah â??drone racingâ? sendiri baru ditemukan tahun 2014. Menurut data statistik dari Google Trends, ketertarikan orang pada drone dimulai sejak pertengahan 2014 hingga saat ini yang menjunjukkan peningkatan yang signifikan.

Populernya drone dimulai saat sebuah video viral yang muncul sekitar bulan September 2014, di mana sejumlah pilot drone asal Perancis beradu balap drone di tengah hutan yang banyak pepohonan. Ini juga mengingatkan kepada orang-orang di film laga Star Wars.

Adu cepat ini menggunakan kecepatan dari internet agar pilot dapat mengendalikan drone dengan baik. Drone akan dibekali dengan sebuah kamera, di mana telah terhubung dengan headphone yang digunakan oleh pilot. Headphone tersebut berbentuk seperti headphone virtual reality yang menampilkan apa yang direkam oleh kamera drone secara real-time, sehingga pilot dapat mengendalikan drone dari jarak jauh.

thedronereviewer.com

Kompetisi drone sendiri terakhir dilaksanakan di bulan Maret 2016 di Dubai. Ajang yang bernama World Drone Prix 2016 ini memberikan total hadiah senilai USD 1 juta atau sekitar Rp 13 miliar dan dimenangkan oleh bocah asal Inggris yang berusia 15 tahun, bernama Luke Bannister bersama timnya, Tornado X-Blades. Atas kemenangannya itu, Bannister dan tim berhak membawa hadiah senilai USD 250.000 atau sekitar Rp 3,2 miliar!

World Drone Prix telah membuktikan bahwa first-person view (FPV) begitu banyak peminatnya. Olahraga semacam ini hampir tidak pernah ditemui pada beberapa tahun yang lalu, dan akan menjadi olahraga utama di masa mendatang.