Dalam upaya untuk mengontrol masalah pemborosan makanan, pemerintah Korea Selatan menerapkan sebuah kebijakan yang disebut “Pay as You Trash”. Kebijakan ini meminta warga untuk memisahkan sampah makanan dari sampah lainnya yang kemudian bisa ditukar dengan uang.

Pay as You Trash (Odditycentral)
Pay as You Trash (Odditycentral)

Dilansir dari Odditycentral, Jumat (29/4/2016), Pemerintah Korsel menggunakan metode kartu Radio Frequency Identification (RIFD) untuk membayar warga atas sampah yang sudah dikumpulkan.

Warga memasukkan kartu RIFD ke dalam sebuah mesin,. Ketika mesin terbuka, warga dapat membuang sampah makanan yang sudah dikumpulkan. Mesin nantinya akan menghitung otomatis berat sampah dan warga akan menerima bayaran bulanan untuk setiap sampah makanan yang dibuang. Setiap mesin RIFD mampu melayani sampai 60 kepala rumah tangga.

Selain metode RIFD, Pemerintah Korsel juga menetapkan dua metode lainnya untuk melakukan pembayaran dari sampah makanan, yaitu melalui kantong sampah prabayar, dan sistem manajemen menggunakan bar code.

Pay as You Trash (Odditycentral)
Pay as You Trash (Odditycentral)

Untuk metode kedua, setiap kantong sampah berisikan sampah makanan akan dibayar tergantung isi kantongnya. Misalnya di Seoul, untuk setiap 10 liter kantong sampah akan dibayar 190 Won (Rp 2.000).

Ada juga sistem manajemen dengan menggunakan bar code, di mana warga bisa menyimpan sampah makanan langsung ke tempat sampah dan dibayar sesuai bar code yang tertempel pada tempat sampah.

Pay as You Trash (Odditycentral)
Pay as You Trash (Odditycentral)

Menurut survei resmi, limbah makanan di Korea Selatan menyumbangkan 28 persen dari total volume sampah yang kebanyakan berasal dari sampah makanan. Banyak warga Korea yang setuju dengan kebijakan ini karena dianggap bisa mengontrol pemborosan makanan, dan juga menekankan kepada masyarakat untuk tidak suka membuang makanan. (tom)