Buat kamu yang sudah menonton film “Ada Apa dengan Cinta 2”, mungkin kamu mendengar ada puisi romantis yang diucapkan oleh Rangga (Nicholas Saputra). Rupanya, sosok pujangga di balik puisi-puisi romantis itu adalah Aan Mansyur.

Terhitung ada sebanyak 31 puisi dibuat khusus untuk karakter Rangga, yang lalu dikumpulkan dalam buku “Tidak Ada New York Hari Ini”. Namun, hanya ada 4 puisi yang dimasukkan ke dalam AADC2.

Keterlibatan Aan Mansyur dalam AADC 2 berawal dari “lamaran” Mira Lesmana yang mengajaknya bergabung untuk membuatkan puisi-puisi Rangga. “Rasanya kaget, bahagia, tapi khawatir juga takut,” tutur Aan mengenai perasaannya yang campur aduk, seperti dikutip dari Bisniscom, Jumat (29/4/2016).

Aan Mansyur dan Mira Lesmana (Liputan6)
Aan Mansyur dan Mira Lesmana (Liputan6)

Puisi adalah sesuatu yang tidak terpisahkan dalam film “Ada Apa Dengan Cinta” yang kini menjadi salah satu ikon budaya populer di Indonesia. “Ada hal besar yang dilimpahkan ke saya. Ini tantangan besar tapi faktor yang membuat saya menerimanya,” jelas Aan di sela peluncuran novel AADC beberapa waktu lalu.

Aan merasa ada kemiripan karakter dengan Rangga. Dia menghabiskan masa SMA di dalam perpustakaan. Interaksi dengan cinta monyet pun dilakukan di sana. “Saya surat-suratan sama pacar di depan perpustakaan dan ketemu juga di sana,” tuturnya.

AADC hadir ketika Aan duduk di bangku kuliah. Sosok pria puitis yang awalnya dipandang sebelah mata berubah jadi keren berkat karakter Rangga. “Pas datang Rangga (dalam AADC), ternyata saya lebih dulu dari Rangga,” seloroh Aan.

Dalam film, kedekatan hubungan Rangga dan ayahnya membuat Aan berurai air mata. “Saya tidak punya bapak dari kecil,” katanya. Maka, ayah menjadi salah satu tema yang ditulisnya dalam puisi “Tidak Ada New York Hari Ini”.

Menurut Aan, kedekatan anak dan orangtua patut digarisbawahi, terlebih saat anak sudah beranjak dewasa. “Saya membayangkan banyak anak yang tidak punya hubungan sama bapak secara perasaan,” kata Aan.

Soal menulis puisi di AADC2, Aan seolah harus mengganti kepalanya dengan pemikiran Rangga. Sekitar tiga bulan, Aan melakukan riset mulai dari banyak membaca buku tentang New York hingga menonton AADC2 pertama berkali-kali, bahkan menontonnya tanpa suara sekalipun.

Aan Mansyur (Muvila)
Aan Mansyur (Muvila)

â??Proses pengerjaan puisinya memang cukup panjang, saya belum pernah ke New York, jadi saya harus tahu bagaimana situasi ketika dia kangen tanah airnya, saya baca buku tentang New York. Saya juga nonton AADC2 pertama tanpa suara, memperhatikan setiap geraknya, supaya saya tidak terganggu dengan dialog kuatnya yang bisa mempengaruhi emosi saya,â? ujarnya.

Selama tiga bulan itu, Aan mengaku dirinya jadi seperti Rangga. â??Selama tiga bulan saya riset, saya merasa seperti Rangga. Saya selalu senang ada di lingkungan baru, saya tidak suka basa-basi, dan Rangga ini sebetulnya tidak sombong. Ia hanya takut berbicara, makanya lebih suka menuangkan kata-katanya melalui puisi. Saya harus hidup di kepala Rangga,â? tutur Aan. (tom)