Kesulitan bisa mendorong seseorang menjadi kreatif. Buktinya, Dede Miftahul Anwar, 22, menciptakan kompor hidrogen, yang menggunakan bahan bakar air karena di daerah kelahirannya sulit mendapatkan pasokan gas elpiji.

Dede mengaku distribusi gas elpiji tidak masuk ke daerahnya di Kampung Kerajan, Desa Cihambulu, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Alasannya klasik, akses jalan susah dilalui kendaraan.

Dede menggambarkan, kampung kelahirannya sulit diakses kendaraan. Ia menyebutkan, untuk mencapai kampungnya butuh lima jam apabila berangkat dari pusat Kota Bandung. Ditegaskan, kendaraan roda empat tidak sampai ke rumahnya. Untuk itu, kendaraan roda dua jadi pilihan warga setempat untuk keluar masuk kampung.

Jalurnya arah ke Padalarang, kemudian menuju jalur ke arah Purwakarta. Dari sana langsung menuju ke Pabuaran, Subang. “Tidak ada angkutan umum secara khusus kecuali ojek,” katanya seperti dikutip dari Merahputihcom, Kamis (12/5/2016).

Selain tidak ada akses kendaraan para penduduk setempat harus menyeberang melewati sungai yang sangat lebar dengan arus deras. Tapi, kondisi yang sulit itu tidak membuat pemuda yang mengecap bangku kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini kehilangan akal. Ia menciptakan kompor dengan bahan bakar air. Tak hanya itu, Dede juga mendirikan SP alias Saung Pengisian Bahan Bakar Hidrogen (SPBBH) untuk mengisi ulang tabung.

Dede Miftahul Anwar (Berita.upi.edu)
Dede Miftahul Anwar (Berita.upi.edu)

Secara sederhana dia menjelaskan, dua unsur yang ada di dalam air yakni oksigen dan hidrogen diurai. Selanjutnya senyawa oksigen diendapkan dan gas hidrogen itulah yang digunakan sebagai bahan bakar. Dede membuat senyawa khusus yang bisa mengurai oksigen dan hidrogen tersebut.

“Bahan-bahannya sangat mudah didapatkan dan sangat murah. Jadi saya bisa menjual gas hidrogen itu lebih murah dari gas elpiji,” ujar Dede.

Melalui perusahaannya, bernama CV Energon Teknologi, Dede menjual gas hidrogen Rp 10 ribu per tabung. Untuk pemakaian kebutuhan memasak keluarga sehari-hari, gas hidrogen itu biasanya cukup untuk dua pekan. “Saya juga mendirikan Saung Pengisian Bahan Bakar Hidrogen (SPBH). Sehingga warga di kampung saya tidak sulit untuk melakukan pengisian hidrogen,” jelasnya.

Hasil penemuan itu dilombakan dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2015 lalu. Karena kompor berbahan bakar air itu, Dede menjadi juara pertama di ajang Wirausaha Muda Mandiri 2015 untuk bidang usaha teknologi non digital.

Kamu bisa lihat cara kerja dari kompor buatan Dede ini lewat video berikut ini.

(tom)