Supriyadi a.k.a Cuplis, Owner of Pondok Sepeda

Hidup tak sekadar untuk menyenangkan diri sendiri, tapi juga bisa bermanfaat untuk orang banyak. Membuka usaha yang tidak hanya menghasilkan pundi-pundi untuk pribadi, tapi juga bisa memberikan keuntungan ke orang lain. Itu yang menjadi prinsip Supriyadi atau yang karib disapa Cuplis, pemuda yang kini membuka usaha sewa sepeda. Lewat nama â??Pondok Sepedaâ?, Cuplis merintis usahanya untuk menyewakan sepeda ke orang-orang di sekitar kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Kini sepeda sewaan miliknya berjejer di Kafe Cangkir. Salah satu kantin terkenal di kalangan mahasiswa UIN.

Pondok Sepeda di Kafe Cangkir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pondok Sepeda di Kafe Cangkir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kenapa Anda memilih untuk membuka usaha sewa sepeda? Sementara banyak mahasiswa yang memilih usaha lain, misal buka tempat makan, website, dan lainnyaâ?¦

Sebenarnya usaha ini berawal dari sebuah kekesalan! Kekesalan saya sewaktu main ke UI (Universitas Indonesia) mau sewa sepeda, tapi ditolak, karena bukan anak UI. Jadi saya buka usaha sewa sepeda di UIN, karena ingin kampus tercinta ini bisa Go Green juga seperti UI,� ungkap Cuplis kepada jadiBerita.com

Awal usaha, Cuplis patungan dengan beberapa teman kuliah di UIN. Saat itu, mereka baru memiliki aset 12 sepeda. Namun semua yang diharapkan tak berjalan mulus. Usaha Cuplis dan temannya bangkrut. Teman-temannya memilih untuk mundur. Semua aset dijual. Cuplis sendiri tak menyerah dan nekat untuk membuka kembali usaha sepeda seorang diri. Dari seorang diri, Cuplis memiliki beberapa partner usaha.

Funblike, Kementerian Pekerjaan Umum dan Pondok Sepeda
Funblike, Kementerian Pekerjaan Umum dan Pondok Sepeda

Saat sempat bangkrut, apa yang bikin Anda tetap yakin lanjutkan usaha sepeda saat bangkrut?

Karena saya yakin, kalau ingin sukses memang nggak bisa instan. Harus melalui proses jatuh bangun. Thomas Alva Edison saja pernah 9.000 kali gagal, lampunya nggak nyala. Pada akhirnya ia berhasil ciptakan lampu pijar,� jelas mahasiswa UIN yang sudah lulus tahun 2014 lalu.

Dan usaha ini juga sebenarnya sudah yang kesekian kalinya. Dulu sudah pernah jualan es kenyot di kampus. Jualan pulsa juga ke teman-teman. Waktu SMA, usaha jual kaos sablonan. Itu sudah jadi mainan dari kecil. Pernah juga ikutan MLM (Multi Level Marketing). Juga buka open trip pas kuliah,� imbuh dia.

Cobaan dalam menjalani usahanya tak hanya sampai di situ, dalam perjalanan merintis usaha sepeda seorang diri, Cuplis pernah beberapa kali didera musibah. Beberapa sepedanya hilang digondol si penyewa. Selain itu, pernah juga ia tertipu saat membeli mobil pikap.

Mobil Pikap Pondok Sepeda
Mobil Pikap Pondok Sepeda

Ini jadi pelajaran buat saat menjalani usaha. Harus bisa bedakan urusan teman dan usaha, karena saya pikir teman sudah kenal, saya percaya saja dia sewa sepeda, tapi malah dibawa kabur. Saya juga harus lebih teliti dalam membeli aset lainnya, sehingga tidak tertipu,� beber pemuda yang hobi fotografi itu.

Dalam melebar usaha sepedanya, Cuplis dan tim juga menggelar beberapa event sepeda. Seperti Sepeda Sehat, Fun Bike dan Goter (Gowes Sambil Nonton Teater). Selain itu, sepedanya tak hanya disewa untuk kegiatan organisasi, tapi juga bisa disewa perseorangan, bahkan bisa untuk pre-wedding.

Event Pondok Sepeda
Event Pondok Sepeda

Sambil menyelam minum air, sambil mengembangkan usaha sewa sepedanya, Cuplis juga membuka toko untuk jual sparepart sepeda. Juga buka laundry di sekitar kampus UIN, yang mana, Laundry kebetulan memang merupakan kebutuhan mahasiswa/mahasiswa yang membutuhkan jasa cuci pakaian mereka. Tanpa rasa gengsi, meski seorang pria, Cuplis mengaku tak gengsi untuk melakukan pekerjaan laundry sendiri, mencuci dan menyetrika baju.

Cuplis mengungkapkan hal ini ia lakukan lantaran demi mengemban amanah yang telah diberikan investor kepada dirinya. Modal usaha laundy ia dapat dari investor. Dan tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan dari investor.

Itu saya sudah seperti Superman. Sambil ngurusin sepeda, juga cuci baju dan nyetrika yang sebenarnya bukan gue banget sebagai cowok. Tapi ini karena tanggung jawab moral dan kepercayaan.�

Berapa modal awal untuk membuka usaha sewa sepeda Anda ini? Dan berapa omzet-nya saat ini?

Untuk modal sekitar 25-50 jutaan, dan itu hasil pinjam uang. Jujur, untuk kisaran omzet pastinya sulit diungkapkan. Karena tiap bulan bisa berbeda. Cuma rata-rata dapat 20-25 juta per bulan,� ungkap Cuplis.

Dengan ini, Cuplis membuktikan bahwa untuk membuka usaha tak harus selalu memiliki modal uang. Jika punya konsep yang menarik dan matang, modal tersebut bisa didapatkan dari investor.

Donasi bencana kabut asap dengan bersepeda bareng teman-teman @uinpreneurs UIN Jakarta dan Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany
Donasi bencana kabut asap dengan bersepeda bareng teman-teman @uinpreneurs UIN Jakarta dan Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany

Apa program Anda ke depan dalam usaha sewa sepeda ini?

Yang pertama, ingin menghijaukan kampus UIN. Ingin membudayakan bersepeda di kampus. Dengan kampus yang hijau, segar jauh dari polusi, maka diharapkan bisa membuat kita semua nyaman menjalani aktivitas kuliah dan UKM lainnya. Kemudian, ingin membuat Kota Tangerang Selatan ini hijau,� ujar Cuplis.

Apa tips dari seorang Cuplis untuk mahasiswa atau pemuda yang ingin menjadi entrepeneurship?

Dari saya mungkin, sejak dini, memang harus berani terjun langsung. Learning by doing. Tapi pastikan kita sudah tahu bagaimana proses dan menjalani usahahanya. Ngga asal juga. Kemudian, kita juga perlu ikut pelatihan wirausaha. Yang nggak kalah penting, juga harus perluas jaringan,� tandas pemuda yang kini juga sebagai Founder Komunitas Pengusaha Muda UINpreneur. (rei)