Mendengar kata Atlantis, sudah pasti terbayangkan olehmu mengenai kota dengan peradaban maju, yang kini telang hilang tenggelam di dasar lautan. Namun ternyata, Atlantis tak hanya hilang dasar lautan, melainkan ada lagi Atlantis versi lainnya, yang hilang tertimbun hamparan padang pasir yang luas. Atlantis di padang pasir itu adalah Ubar. Berikut sejarahnya seperti dikutip jadiBerita dari berbagai sumber.

Pada awal tahun 1990, muncul keterangan pers dalam beberapa surat kabar terkemuka di dunia yang menyatakan â??Kota Legenda Arabia yang Hilang Telah Ditemukanâ?, â??Kota Legenda Arabia Ditemukanâ?, â??Ubar, Atlantis di Padang Pasir.â? Yang membuat temuan arkeologis ini lebih menarik adalah kenyataan bahwa kota ini juga disebut dalam kitab suci Islam, Alquran, dengan nama Iram, dan ditinggali oleh kaum ‘Ad (kaum yang kemudian dibinasakan oleh Allah karena melakukan perbuatan syirik dan menentang Nabi Hud). Sama seperti Atlantis, kaum ‘Ad dikatakan memiliki peradaban yang sangat maju, jauh melebihi peradaban manusia sekarang. Hanya saja tidak diketahui secara pasti semaju dan seperti apa suasana Ubar pada saat itu.

Banyak orang, yang sejak dahulu beranggapan bahwa kaum â??Ad sebagai-mana diceritakan dalam Alquran hanyalah sebuah legenda atau beranggapan bahwa lokasi mereka tidak akan pernah ditemukan, tidak dapat menyembunyikan keheranan mereka atas penemuan ini. Penemuan kota ini, yang hanya disebutkan dalam cerita lisan Suku Badui (suku yang berada di Arab, bukan di Indonesia), membangkitkan minat dan rasa keingintahuan yang besar.

Adalah Nicholas Clapp, seorang arkeolog amatir yang mengklaim menemukan kota legendaris ini. Sebagai seorang Arabophile dan pembuat film dokumenter berkualitas, Clapp telah menemukan sebuah buku yang sangat menarik selama penelitiannya tentang sejarah Arab. Buku ini berjudul “Arabia Felix”, yang ditulis oleh seorang peneliti Inggris bernama Bertram Thomas pada tahun 1932. Arabia Felix adalah penamaan Romawi untuk bagian selatan semenanjung Arabia yang dewasa ini mencakup Yaman dan sebagian besar Oman. Bangsa Yunani menyebut daerah ini â??Eudaimon Arabiaâ?.

Nicholas Clapp (Recordcourier)
Nicholas Clapp (Recordcourier)

Nama tersebut berarti â??Arabia yang Beruntungâ?, karena orang-orang yang hidup di daerah tersebut di masa lalu dikenal sebagai orang-orang yang paling beruntung pada zamannya. Lalu, apakah yang menjadi alasan bagi penamaan seperti itu?

Keberuntungan mereka sebagian berkaitan dengan letak mereka yang strategis menjadi perantara dalam perdagangan rempah-rempah antara India dengan tempat-tempat di utara semenanjung Arab. Di samping itu, orang-orang yang berdiam di daerah ini memproduksi dan mendistribusikan “frankincense”, sejenis getah wangi dari pepohonan langka. Karena sangat disukai oleh masyarakat kuno, tanaman ini digunakan sebagai dupa dalam berbagai ritual keagamaan. Pada saat itu, tanaman tersebut setidaknya sama berharganya dengan emas.

Thomas, sang peneliti asal Inggris memaparkan tentang suku-suku yang â??beruntungâ? ini dengan panjang lebar dan menyatakan bahwa ia telah menemukan jejak sebuah kota kuno yang dibangun oleh salah satu dari suku-suku ini. Kota kuno itu adalah Ubar. Pada salah satu perjalanannya ke daerah tersebut, orang-orang Badui yang hidup di padang pasir itu menunjukkan jalur-jalur usang dan menyatakan bahwa jalur-jalur tersebut mengarah ke kota kuno Ubar. Sayangnya, Thomas yang sangat berminat dengan hal ini meninggal sebelum mampu menuntaskan penelitiannya.

Clapp, setelah mengkaji tulisan Thomas, meyakini keberadaan kota yang hilang tersebut. Tanpa banyak membuang waktu, ia memulai penelitiannya. Clapp membuktikan keberadaan Ubar dengan dua cara. Pertama, ia menemukan jalur-jalur yang menurut suku Badui benar-benar ada. Ia meminta NASA (Badan Luar Angkasa Nasional Amerika Serikat) untuk menyediakan foto satelit daerah tersebut. Setelah perjuangan yang panjang, ia berhasil membujuk pihak yang berwenang untuk memotret daerah tersebut.

Clapp melanjutkan mempelajari berbagai manuskrip dan peta kuno di perpustakan Huntington di California. Tujuannya adalah untuk menemukan peta dari daerah tesebut. Setelah melalui penelitian singkat, ia menemukannya. Yang ditemukannya adalah sebuah peta yang digambar oleh Ptolomeus, ahli geografi Yunani-Mesir sekitar tahun 200 M. Pada peta ini ditunjukkan lokasi sebuah kota tua yang ditemukan di daerah tersebut dan jalan-jalan yang menuju kota tersebut.

Ptolomeus (Wikipedia)
Ptolomeus (Wikipedia)

Sementara itu, ia menerima kabar bahwa NASA telah melakukan pemotretan. Dalam foto-foto tersebut, beberapa jalur kafilah menjadi terlihat, suatu hal yang sulit dikenali dengan mata telanjang, namun dapat dilihat sebagai satu kesatuan dari luar angkasa. Dengan membandingkan foto-foto ini dengan peta tua yang di tangannya, akhirnya Clapp mencapai kesimpulan yang ia cari: jalur-jalur dalam peta tua sesuai dengan jalur-jalur dalam gambar yang diambil dengan satelit. Tujuan akhir dari jejak-jejak ini adalah sebuah situs yang luas yang ditengarai dahulunya merupakan sebuah kota.

Penggalian Ubar (Harunyahya)
Penggalian Ubar (Harunyahya)

Tidak berapa lama kemudian, penggalian dimulai dan peninggalan dari sebuah kota berupa pilar atau istana mulai tampak di bawah gurun pasir. Clapp lalu menganggap Ubar, kota yang hilang, alias Atlantis di padang pasir, telah ditemukan. Dr. Juris Zarins, seorang anggota tim penelitian yang memimpin penggalian, mengatakan bahwa dirinya tidak optimis kalau yang ditemukan itu memang dari kota Ubar. Meskipun Clapp telah mengklaim menemukan peninggalan yang dianggap sebagai peninggalan Ubar tersebut, banyak pihak yang masih memperdebatkan hal ini.

Dr. Juris Zarins (History)
Dr. Juris Zarins (History)

Alasan kota yang berhasil ditemukan itu bukan Ubar adalah deskripsi dari kota Iram di Alquran sungguh berbeda dengan kota yang berhasil ditemukan itu. Faktor lainnya adalah soal lokasi. Banyak yang menganggap kalau lokasi Ubar tertimbun sangat dalam di sekitar padang pasir Rub al-Khali. Namun yang ditemukan oleh Clapp berada di daerah Shisr (atau Shasar).

Padang pasir Rub al-Khali di Arab (Looklex)
Padang pasir Rub al-Khali di Arab (Looklex)
Marka jalan ke Shasar (Andyinoman)
Marka jalan ke Shasar (Andyinoman)

Saat ini, kamu bisa melihat peninggalan dari kota yang diklaim sebagai Ubar. Contohnya seperti foto berikut ini.

Kota Ubar yang berhasil ditemukan (Andyinoman)
Kota Ubar yang berhasil ditemukan (Andyinoman)

Seperti yang kamu lihat, suasana kota Ubar yang ada sekarang ini terlihat ‘biasa’ untuk ukuran kota yang hilang dan ditemukan kembali. Para turis yang mengunjungi tempat ini juga merasa kecewa melihatnya. Menurut mereka, situs peninggalan lain yang juga berada di Arab, seperti Khor Rori, jauh lebih menggambarkan Ubar dibandingkan dengan yang sudah ditemukan.

Reruntuhan Khor Roir (Wikipedia)
Reruntuhan Khor Rori (Wikipedia)

Pada akhirnya, Ubar memang masih belum pasti sudah ditemukan. Layaknya Atlantis, kota Ubar ini tetap akan menjadi legenda. (tom)