Tanpa kita sadari, istilah ‘ngabuburit’ makin sering kita dengar. Istilah ini lebih sering disebut di kalangan umum, dibandingkan dengan istilah ‘menunggu berbuka puasa’ yang mungkin terlalu panjang untuk disebut. Istilah ngabuburit makin nge-tren setelah makin banyak disebut di TV dan radio, bahkan menjadi acara program.

Mungkin, tak banyak dari kita yang tahu apa makna sebenarnya dari kata Ngabuburit. Dilansir dari Goodnewsfromindonesiaorg, Jumat (10/6/2016), istilah ini berasal dari bahasa Sunda, yaitu “burit”. â??Buritâ? sendiri menggambarkan waktu berarti sore, senja, atau menjelang azan Maghrib, atau menjelang matahari terbenam.  Istilah Ngabuburit juga umum diucapkan banyak orang ketika menunggu waktu berbuka puasa, tepatnya setelah Ashar.

Ngabuburit (Merdeka)
Ngabuburit (Merdeka)

Menurut Kamus Bahasa Sunda yang diterbitkan oleh Lembaga Basa dan Sastra Sunda (LBSS), kata â??ngabuburitâ?? berarti ngalantung ngadagoan burit, yang artinya kurang lebih bersantai-santai sambil menunggu waktu sore. Dalam istilah modernnya, ngabuburit berarti menunggu saat berbuka puasa sambil mengerjakan sesuatu yang santai.

Sementara di Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata Ngabuburit diartikan sebagai menunggu azan magrib menjelang berbuka puasa pada waktu bulan Ramadan. Pada KBBI, kata Ngabuburit diberi keterangan (sd) sebagai penanda bahwa kata tersebut berasal dari Bahasa Sunda.

Pada masa lalu, di kalangan masyarakat Sunda, istilah ngabuburit identik dengan anak-anak yang pergi ke surau untuk mengaji bersama sambil dibimbing oleh guru mengaji selama bulan Ramadhan. Ini bertujuan untuk mengalihkan perhatian anak-anak supaya lupa akan rasa laparnya sekaligus melakukan sesuatu yang positif.

Seiring zaman, banyak anak-anak yang kemudian ‘ngabuburit’ dengan bermain kelereng, congklak, dan lain-lain. Dan kini, istilah itu dipakai secara lebih luas di Indonesia. Dari yang dulunya dengan mengaji bersama di surau atau masjid, kini banyak orang yang ngabuburit dengan berbagai kegiatan lainnya.

Ngabuburit (Merdeka)
Ngabuburit (Merdeka)

Kita sering melihat anak-anak muda duduk-duduk di tempat-tempat ramai, bermain musik di tepi jalan, hingga berjualan keperluan buka puasa. Namun banyak juga yang mengikuti pesantren kilat di lembaga-lembaga islam yang diperuntukan untuk mereka yang tertarik menambah wawasan keagamaan, atau melakukan kegiatan-kegiatan sosial.

Apapun itu, mari ngabuburit yang bermanfaat bagi kita dan lingkungan kita, sekaligus menambah makna ibadah puasa kita. (tom)