Mungkin tak banyak orang tahu dan sejarah Indonesia pun belum pernah mencatat. Namun bagi Israel, sekecil apapun sumbangsih bangsa lain kepada warganya menjadi sebuah penghargaan tertinggi. Di Yadvashem, ada dua nama nama orang Indonesia yang tercatat sebagai pahlawan. Mereka adalah orang-orang telah mempertaruhkan nyawanya untuk warga Yahudi dari kekejaman Nazi.

Mima Saina (Dokter-Hanny)
Mima Saina (Dokter-Hanny)

Adalah Mima Saina, perempuan berdarah Jawa dan Tole Madna, seorang pria asal Indonesia menjadi pahlawan di kawasan monumental di Israel. Di areal seluas 45 hektar tempat monumen peringatan para korban Holocaust, di situlah nama Mima Saina dan Tole tersemat. Kawasan ini dikenal sebagai kebun Righteous Among the Nations, tempat bagi kalangan non Yahudi yang telah berjasa besar dalam menyelamatkan orang-orang Yahudi dari Holocaust.

Dilansir dari Yadvashem, Kamis (16/6/2016), Mima Saina dan Tole Madma dijadikan pahlawan pada tahun 2003 atas rekomendasi Congregation Adas Israel di Washington D.C. dan Senator California, Henry A. Waxman. Tak banyak informasi dari keduanya. Congressional Record hanya menyebut Tole Madna adalah seorang Katolik asal Indonesia yang menetap di Belanda. Sedangkan Mima Saina adalah pembantu rumah tangga Tole Madna yang beragama Islam.

Tole Madna (kanan) and Mima Saina (Ushmm)
Tole Madna (kanan) and Mima Saina (Ushmm)

Berdasarkan situs United States Holocaust Memorial Museum, keduanya tercatat pernah menolong seorang bayi Yahudi bernama Alfred Munzer. Alfred kini menjadi seorang ahli penyakit dalam dan spesialis paru yang tinggal di Washington DC, Amerika Serikat. Dia juga pernah menjabat sebagai Presiden Asosiasi Ahli Paru Amerika Serikat.

Beberapa literasi menyebutkan kisah kemanusiaan keduanya menyelamatkan Alfred Munzer. Kisahnya bermula Kisahnya dari pasangan Yahudi bernama Simcha Mnzer dan Gisele. Keduanya merupakan sepupu dan bertemu saat berada di Polandia. Simcha berasal dari kota Kaczuga sedangkan Gisele berasal dari Rymanw, kedua kota berada di propinsi Podkarpackie, Polandia selatan.

Ketika berusia 18 tahun, Simcha hijrah ke Hague, Belanda. Di sana dia membuka sebuah butik pakaian. Sedangkan Gisele tinggal di rumah kakaknya di Berlin sebelum akhirnya menuju Hague di awal Desember 1932, dan menikah dengan Simcha pada 16 Desember 1932.

Singkat cerita, pernikahan keduanya dibuahi tiga orang anak. Adalah Eva, Leah dan juga Alfred Munzer. Ketika Alfred lahir pada tahun 1941, Belanda diinvasi oleh Jerman. Dari sinilah kisah penyelamatan Alfred dimulai. Perburuan orang-orang Yahudi menjadi target utama Jerman.

Eva, Alfred dan Leana (Ushmm)
Eva, Alfred dan Leana (Ushmm)

Untuk menyelamatkan anak-anaknya, Gisele memilih menjual semua harta dia miliki. Dua anak perempuannya juga kakak kandung Alfred dititipkan kepada tetangganya yang bersedia menyembunyikan mereka. Ayahnya, Simcha pura-pura mencoba bunuh diri dan dibawa ke rumah sakit jiwa. Gisele pun kemudian menyusul setelah menitipkan ketiga anaknya.

Alfred, kala itu dititipkan kepada seorang tetangga bernama Annie Madna. Dia kemudian dipindahkan untuk dirawat oleh adik perempuan Annie karena saat itu seorang Belanda simpatisan Nazi tinggal di sebelah rumah mereka. Demi keselamatan Alfred, Annie kemudian menghubungi mantan suaminya, Tole Madna, seorang lelaki juga imigran asal Indonesia. Di sanalah akhirnya Alfred dirawat oleh Tole Madna hingga Perang Dunia II berakhir.

Dari sini juga Alfred mengenal Mima Saina sebagai ibu angkatnya. Kebetulan Mima adalah seorang pembantu di rumah Tole Madna. Hingga akhirnya, Alfred kembali kepangkuan Gisele. Selama berpisah, Gisele beberapa kali pindah dari kamp ke kamp setelah rumah sakit tempat mereka bersembunyi diserbu tentara SS Nazi. Gisele dan suaminya, Simca menjadi tawanan ikut dibawa tentara SS. Sayang dua bulan sebelum perang berakhir, ayahanda Alfred meninggal dunia.

Mima Saina sedang memangku bayi (Yadvashem)
Mima Saina sedang memangku bayi (Yadvashem)

Dia meninggal ketika sedang menjalani perawatan. Jasanya dikuburkan di areal pemakaman Kamp Ebensee, sebuah kamp mempekerjakan tawanan yahudi membangun terowongan bawah tanah difungsikan untuk mengevakuasi senjata misil V-2.

Memori yang masih terekam hingga kini dan sangat berkesan bagi Alfred adalah sebuah lagu khas Indonesia. Alfred masih ingat lagu pengantar tidur yang dinyanyikan Mima Saina “Nina Bobo”. Bahkan lagu ini, pernah menyelamatkan Alfred saat penggeledahan tentara Nazi karena ia tertidur pulas setelah mendengar lagu “Nina Bobo”. Bisa dibayangkan jika Alfred kecil terbangun, bersuara dan menangis yang akan menarik perhatian Gestapo. Resiko yang dihadapi keluarga Madna sungguh besar karena Gestapo akan memenjarakan mereka yang menolong orang Yahudi.

Ketulusan Mima Saina sebagai babysitter yang menjaga bayi Alfred sungguh teruji. Mima Saina harus berjalan bermil-mil untuk mendapatkan susu bagi Alfred. Mima Saina mempertaruhkan hidupnya sendiri demi menjaga Alfred, ia merawat Alfred dengan seluruh hidupnya. Alfred Munzer ketika remaja hingga dewasa tidak pernah menanyakan kepada Papa Tole mengapa ia bersedia menyembunyikan dirinya (Alfred). Alfred tahu, Papa Tolé dan Mima Saina memiliki kemampuan untuk mendengar dan menjawab orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Inilah arti dari “menjadi orang yang bertindak benar”.

Setelah perang dunia usai, Tole Madna mengajak ibu Alfred, Gisele Munzer, sang penyintas Holocaust untuk sementara tinggal bersama keluarga Madna dan Mima Saina agar Alfred kecil bisa beradaptasi dari ibu Mima ke ibunya sendiri. Sebelum Holocaust, Gisele Munzer, imigran asal Polandia adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit di Belanda. Gisele Munzer (Gitel dalam Bahasa Ibrani atau Gisele dalam Bahasa Belanda) kemudian membuka toko kosmetik dan pindah ke Belgia bersama Alfred pada tahun 1952.

Enam tahun kemudian Gisele memboyong Alfred untuk berimigrasi ke Amerika Serikat pada 1958. Gisele Munzer meninggal akibat pneumonia pada 2001. Hingga kini Alfred Munzer masih menetap di Washington DC, Amerika Serikat dan bekerja sebagai ahli paru-paru ternama. Sedangkan Tole Madna pada tahun 1969-1970 membentuk band. John Karelse yang manggung di Power Circus bertemu Tole Madna dan Hugo Haastert. Ketiganya bermusik bersama di Leiden, Delft, Rotterdam dan Den Haag. Tole Madna meninggal pada tahun 1992, sedangkan Mima Saina meninggal akibat pendarahan otak beberapa bulan setelah perang berakhir.

Alfred Munzer sekarang (Washington Blade)
Alfred Munzer sekarang (Washington Blade)
Kisah Tole Madna dan Mima Saina adalah bukti terbaik nilai-nilai yang dimiliki seorang manusia. Di Congressional Record tersebut, Mima Saina disebutkan sebagai orang yang tidak bisa membaca dan menulis serta tidak dapat berkomunikasi dalam Bahasa Belanda, namun ia menjadi ibu bagi bayi Alfred Munzer. Mima Saina sungguh-sungguh melindungi Alfred Munzer. Hal itu ditunjukkan dengan menyimpan sebuah pisau di bawah bantalnya saat tidur. Mima Saina bersumpah akan membunuh bayi Alfred lalu dirinya sendiri jika tentara Jerman (Nazi) datang. Mengutip Congressional Record, masa kecil Alfred Munzer digambarkan sebagai masa-masa yang bahagia. (tom)