Kisah nabi Musa memang amat menarik. Dalam kitab suci telah dikisahkan bahwa Nabi Musa dan pengikutnya dari Bani Israil, terjebak di antara dua kematian. Maju dihadang laut merah, diam atau mundur bakal dihabisi serdadu Firaun. Lalu Tuhan pun memberi mujizat kepada Musa, yakni membelah lautan.

Angin bertiup kencang sepanjang malam. Lalu air laut merah pun tersibak ke kiri dan ke kanan, membentuk jalan di antara dinding air yang memberi kesempatan bagi Musa dan pengikutnya melarikan diri. Ketika tentara Firaun mengejar mereka, tiba-tiba dinding air laut runtuh. Maka tenggelam lah mereka. Mukjizat ini diyakini tiga agama.

Perihal mukjizat ini ada yang meyakini, tak sedikit pula yang meragukannya. Kenyataan mukjizat ini ternyata telah terbukti kebenarannya secara ilmiah. Beberapa ilmuwan telah membuktikan dan memberikan pemaparan-pemaparan terkait fenomena ini.

Lokasi Penemuan

baitulmaqdis.com

Lokasi penyeberangan diperkirakan berada di Teluk Aqaba di Nuweiba. Kedalaman maksimum perairan di sekitar lokasi penyeberangan adalah 800 meter di sisi ke arah Mesir dan 900 meter di sisi ke arah Arab.

Sementara itu di sisi utara dan selatan lintasan penyeberangan, kedalamannya mencapai 1500 meter. Kemiringan laut dari Nuweiba ke arah Teluk Aqaba sekitar 1/14 atau 4 derajat, sementara itu dari Teluk Nuweiba ke arah daratan Arab sekitar 1/10 atau 6 derajat. Sedangkan, jarak antara Nuweiba ke Arab diperkirakan sekitar 1800 meter. Lebar lintasan Laut Merah yang terbelah diperkirakan 900 meter. Dengan jumlah pengikut Nabi Musa sekitar 600.000 orang dan waktu yang ditempuh untuk menyeberang sekitar 4 jam.

Nah, dilansir dari berbagai sumber, berikut ini bukti ilmiah mukjizat nabi Musa yang bisa membelah lautan.

1. Arkeolog Menemukan Bangkai Roda Kereta Tempur di Dasar Laut Merah

tunjungbudiwati.wordpress.com

Pada akhir tahun 1988 silam, seorang arkeolog bernama Ron Wyatt mengklaim bahwa dirinya telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno di dasar laut merah.  Menurutnya, temuan itu merupakan bangkai kereta tempur Fir’aun yang tenggelam di lautan tersebut saat digunakan untuk mengejar Musa bersama para pengikutnya.

2. Beberapa Tulang Manusia juga ditemukan

Menurut pengakuannya, selain menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur berkuda, Wyatt bersama para timnya juga menemukan beberapa tulang manusia dan tulang kuda di tempat yang sama. Temuan ini tentunya semakin memperkuat dugaan bahwa sisa-sisa tulang belulang itu merupakan bagian dari kerangka para bala tentara Firaun yang tenggelam di laut Merah.

Apalagi dari hasil pengujian yang dilakukan di Stockhlom University terhadap beberapa sisa tulang belulang yang berhasil ditemukan, memang benar adanya bahwa struktur dan kandungan beberapa tulang telah berusia sekitar 3.500 tahun silam. Di mana menurut sejarah, kejadian pengejaran itu juga terjadi dalam kurun waktu yang sama.

3. Poros roda dari salah satu kereta kuda yang telah tertutup oleh batu karang

servimg.com

Suatu benda menarik juga berhasil ditemukan, yaitu poros roda dari salah satu kereta kuda yang kini keseluruhannya telah tertutup oleh batu karang. Alhasil, untuk saat ini bentuk aslinya sangat sulit untuk dilihat secara jelas. Hal ini diyakini bahwa poros roda tersebut dilindungi oleh Tuhan agar di masa kini dan masa depan dapat dipercaya.

4. Penemuan Ilmuwan National Centre for Atmosphere Research, Calorado, Amerika Serikat

Ribuan tahun sesudah kejadian itu, beberapa ilmuwan meyakini bahwa keajaiban itu merupakan fenomena alam. Sebagaimana ditulis Daily Mail, Rabu 22 September 2010, para ilmuwan dari National Centre for Atmosphere Research di Calorado Amerika Serikat, menemukan bahwa air laut yang tersibak itu akibat gerakan angin.

Para ahli di Colorado itu pun membuat sebuah simulasi komputer. Diketahui bahwa angin timur yang berhembus dengan sangat kuat selama 12 jam dalam semalam, bisa menyibak air laut, menciptakan  sebuah jalan tanah sebagaimana digambarkan dalam kisah ‘Eksodus’ nabi Musa.

Sedikit berbeda dengan deskripsi lokasi di kitab suci, para ilmuwan  itu meyakini bahwa lokasi keajaiban bukan di Laut Merah, melainkan  di lokasi di dekatnya, yakni di delta Sungai Nil, di mana sebuah sungai kuno menyatu dengan laguna.

Dari penelitian, para ilmuwan itu menemukan bahwa angin timur dengan kecepatan 63 mph yang bertiup dalam waktu 12 jam akan mendorong air, baik di danau maupun aliran air. Proses ini akan menciptakan jalan tanah lumpur sepanjang dua mil dan lebar tiga mil selama 4 jam. Saat kecepatan angin turun, air akan kembali ke posisi awal, mirip fenomena pasang surut. Dalam jurnal Public Library of Science ONE, para ahli menguraikan bahwa siapapun yang terdampar dalam lumpur itu sesudah angin melemah akan berisiko tenggelam.

5. Fenomena ini masuk akal dalam hukum fisika

“Orang-orang selalu terpesona dengan kisah ‘Eksodus’ Musa, meyakini bahwa itu adalah fakta sejarah. Apa yang ditunjukan dalam penelitian ini adalah bahwa deskripsi membelahnya lautan, memang masuk akal dalam hukum fisika,” kata Ketua tim peneliti, Carl Drews dari Colorado.

Membelahnya laut bisa dipahami melalui dinamika fluida. Angin menggerakkan air dengan cara yang sesuai dengan hukum fisika, menciptakan jalan aman dengan dinding air di dua sisi. Kemudian air itu runtuh dan menenggelamkan jalan itu.

atlasobscura.com

Kawasan selatan Laut Mediterania yang diduga menjadi tempat penyeberangan itu, dan memaparkan bentuk tanah yang berbeda karena terbentuk setelahnya serta memicu isu mengenai lautan yang terbelah.

Pemaparan tersebut membutuhkan bentuk tapal kuda Sungai Nil dan laguna dangkal di sepanjang garis pantai. Hal ini memperlihatkan angin berkecepatan sekitar 101 kilometer per jam yang berhembus selama 12 jam, dapat menghempaskan air pada kedalaman sekitar dua meter.

6. Penelitian Ahli Matematika Rusia dengan Permodelan Hidrodinamik

mysteryplanet.com.a

Dengan menggunakan persamaan differential matematika, dua peneliti Rusia berupaya membuat pemodelan tentang kondisi ketika gelombang laut terpisah (Stolyarova, 2004). Nauman Volzinger dan Alexei Androsov mendasarkan pemodelan mereka dengan keterangan-keterangan di Kitab Old Testament dan Torah, termasuk keterangan bahwa pada saat itu terdapat gugusan karang yang jaraknya dekat dengan permukaan laut.

Dalam pemodelan hidrodinamik, mereka mengadakan simulasi mengenai berapa kecepatan angin dan kekuatan badai yang dibutuhkan agar gugusan karang tersebut kering. Selain itu, juga mereka mensimulasi berapa lama gugusan karang tersebut akan kering dan kapan air laut akan kembali menutupinya (Volzinger and Androsov,2002).

Hasilnya adalah jika angin timur bertiup sepanjang malam dengan kecepatan 30 meter per detik, maka gugusan karang tersebut akan kering. Dalam keadaan ini, untuk menyebrangi 7 km gugusan karang, Kaum Israil yang sebanyak 600.000 orang membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Air laut kembali menutupi gugusan karang setelah 4,5 jam. Jadi bisa diartikan bahwa selama 4,5 jam gugusan karang masih kering. Penelitian Volzinger dan Androsov ini telah dipublikasikan di the Bulletin of the Russian Academy of Sciences tahun 2002.

Jadi, bagaimana menurut JB’ers?

(rei)