SBY dan Ahok ajukan tesa atas film Habibie & Ainun 2 bahwa film ini layak dan baik ditonton oleh anak bangsa. Untuk itu, saya uji tesa itu dengan menontonnya.

Film tersebut diangkat dari kisah nyata seorang Baharudin Jusuf Habibie, Presiden ke-3 RI. Harus diakui film yang berlatar Jerman itu dibaluti nilai perjuangan pewujudan cita-cita pendidikan. Di samping dibubuhi sedikit ke ranah percintaan. Hemat saya, sutradara sengaja mengaitkannya dengan bumbu percintaan agar film itu diterima oleh semua jenjang usia.

Terlepas dari dramatisasi kedua bumbu di atas. Film yang disutradarai oleh Hanum Bramantio itu sukses mengetengahkan nilai keagamaan dan kearifan lokal yang dikontekstualisasikan dalam bingkai keindonesiaan kita.

Kenapa nilai keagamaan? betapa setiap adegan kesulitan yang menghimpit Rudy Habibie selalu diakhirinya di atas sajadah (baca: salat). Benar atau tidaknya dengan the true story yang bergumul dalam diri BJ Habibie kala itu. Namun setidaknya, film itu telah menawarkan solusi kren peliknya hidup harus didialogkan dengan keagamaan.

Tempat tinggal serta keragaman budaya sekitar bukanlah penghalang untuk mendialogkan realitas hidup dengan agama. Film itu telah menunjukkan gegar budaya, kaget atas budaya baru. Artinya, asumsi BJ Habibie kala itu kalau salat itu harus di masjid atau sejenisnya. Namun, Jerman tidak seperti Indonesia, masjid ada di mana-mana. Dengan demikian, ia memutuskan salat di tempat umum bahkan gereja. Hal itu diperkuat dengan satu cuplikan, Ya Allah sesungguhnya bangunan ini dibuat oleh orang yg meyakinimu. Mereka tentu percaya kepadaMu. Untuk itu, saya ingin berdoa (baca: salat) di tempat ini.

Realitas yang bergumul dengan BJ Habibie di atas memberikan sinyal positif bagi generasi bangsa untuk toleran terhadap sesama. Manusia diciptakan dari berbagai latar, suku bangsa, keyakinan, stratifikasi sosial, bahasa dan sebagainya untuk saling kenal dan mencintai. Demikian salah satu cuplikan dialog dalam film itu.

Konteks Habibie memang tidak bisa digeneralisasi dengan kekinian. Kini berbeda pandangan terkadang berujung pertikaian bahkan pembunuhan. Itu barangkali SBY dan Ahok ajukan tesa film ini layak dan baik ditonton agar bangsa Indonesia bisa menghargai perbedaan untuk Indonesia satu.

Memang dalam film itu diungkap, Habibie melebihi cintanya pada Indonesia daripada kecintaannya pada seorang gadis blasteran Indonesia-German. Argumen kecintaannya pada bangsa untuk mengisi semangat kemerdekaan dengan memberikan pesawat terbang untuk Indonesia.

Lalu, kenapa kearifan lokal? Ada dua kearifan lokal yang saya amati dalam cuplikan film itu. Pertama, lihatlah mata air. Jika ia memancarkan air yang bersih, maka sekitarnya pun akan bersih. Demikian pula sebaliknya. Pemahaman saya atas poin pertama, orang baik akan dikelilingi oleh teman yang baik pula. Kedua, apa yang kamu tanam itu yang kamu tuai. Artinya, cita baik untuk diberikan yang terbaik untuk Indonesia kini benar sudah terwujud.

Kearifan lokal pertama diperoleh langsung dari orangtuanya. Sedangkan yg kedua didapat dari seorang pastur Indonesia yang bertugas di Jerman. Saya coba menafsirkan atas dua kearifan lokal itu. Ternyata pengetahuan itu di samping diperoleh melalui guru, bahkan orang tua dan orang yang berbeda keyakinan dengan kita.

Tulisan di atas terinspirasi dari film Habibie & Ainun 2. Semoga bermanfaat di tengah hari nan fitri ini.

Review ini ditulis oleh Muhammad Wildan (Dosen Universitas Pamulang)