Seorang gadis bernama Firna Larasanti tampak cekatan memilah botol-botol plastik, di antara tumpukan barang rongsokan di rumahnya, RT 06 RW 01 Karanggeneng, Kelurahan Sumurrejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Botol-botol bekas itu dikumpulkannya dalam karung yang sudah disiapkan.

Menjadi seorang putri dari pasangan pemulung sampah, Misiyanto (57) dan Siti Suswanti (46), tak menghalanginya untuk mengejar pendidikan setinggi-tingginya. Hari Rabu kemarin, Firna sukses menjadi sarjana dengan predikat cum laude, dan mengikuti upacara wisuda sarjana di kampus tempat kuliah, Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Firna Larasanti (Tribunnews)
Firna Larasanti (Tribunnews)

Putri kedua dari tiga bersaudara itu hanya memerlukan waktu 3 tahun 10 bulan untuk meraih gelar sarjana Ilmu Politik Unnes dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,77. Penulis menulis skripsi “Marketing Politik Pasangan Calon Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Hevearita Gunaryanti” itu juga pernah menjadi juara I lomba penulisan tentang otonomi daerah tingkat Provinsi Jawa Tengah.

“Saya masuk Unnes tahun 2012 lalu lewat seleksi mandiri. Pada semester pertama sempat kuliah dengan biaya sendiri, baru semester kedua mendapatkan beasiswa,” kata Firna seperti dikutip dari Tribunnewscom, Kamis (28/7/2016).

Dengan pendapatan orangtua yang bekerja serabutan dan penghasilan tidak menentu, ia mencoba membiayai kuliahnya dengan keringat sendiri. Sesekali ayahnya Misiyanto bekerja sebagai buruh bangunan. Namun, Misiyanto lebih banyak menghabiskan waktu memulung. Suswanti, ibu Firna, kerap menjadi buruh cuci atau membantu suaminya memulung.

“Saya pernah memungut cengkeh di perkebunan, jaga warung orang di pasar, hingga mengajar di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini),” ujar Firna.

Setelah menjadi mahasiswa ilmu politik, Firna merasa pekerjaan sambilannya kurang mendukung bidang studinya. “Akhirnya saya pilih menulis, beberapa pekerjaan menulis lepas di Provinsi (Pemprov Jateng), DPRD pernah saya lakukan, kompetisi menulis juga saya ikuti, hasilnya lumayan membantu mencukupi biaya kuliah,” kata dia.

Firna Larasanti (Tribunnews)
Firna Larasanti (Tribunnews)

Semua cara ia lakukan untuk mendapat tambahan yang demi merampungkan kuliahnya. Firna merasa beruntung mendapat beasiswa Bidikmisi. Namun, semua itu saja belum cukup memenuhi kebutuhan pendidikannya.

“Bidikmisi biaya pendidikan alhamdulilah digratiskan semua, per bulan juga mendapat uang saku Rp 600 ribu. Namun, terkadang pembiayaan kuliah lebih (dari itu), terutama saat skripsi,” ujarnya.

Untuk mencukupi kebutuhan itu, Firna membantu memulung, memunguti cengkeh, berjualan di pasar, mengajar PAUD, hingga akhirnya menulis.

Setelah lulus nanti, ia bermimpi untuk bisa melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana. Ada dua universitas yang diimpikannya, salah satunya adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Cita-citanya ingin menjadi dosen.

“Awalnya saya ingin jadi guru, tapi ketika masuk PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar) Unnes sempat gagal, makanya sekarang ingin jadi dosen sebagai ganti tidak bisa jadi guru,” kata dia.

Firna Larasanti (Unnes)
Firna Larasanti (Unnes)

Ibu Firna, Suswanti, mengatakan bahwa pendapatannya bersama sang suami tidak pasti. “Ada uang Rp 50 ribu ya langsung kami pakai untuk kebutuhan, jadi enggak pernah dihitung sampai sebulan,” kata Suswanti sambil memasukkan botol ke dalam keranjang di depan rumahnya yang berdinding kayu dan multipleks.

Keterbatasan itu tidak membendung keinginan Suswanti dan suaminya untuk memeberikan pendidikan terbaik bagi putra-putri mereka. Tiga anak mereka saat ini menimba ilmu di bangku kuliah.

Latifah Mulyo (25), putra pertamanya, tengah menempuh pendidikan S1 di sebuah universitas swasta di Semarang. Firna sudah diwisuda Unnes. Sementara si bungsu, Fatihatul Rizky, saat ini masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

“Walaupun saya hanya lulus SD dan suami saya tidak tamat SD, namun kami berdua sepakat ingin anak-anak harus mengenyam pendidikan tinggi. Jadi apa pun harus diusahakan, alhamdulilah anak-anak juga dapat beasiswa,” kata Suswanti.

Suswanti mengatakan, ketika masih kecil, anak-anaknya diajak memulung sampah. Mereka seringkali mengeluh karena tidak sempat tidur siang dan harus membantu mengumpulkan botol bekas.

“Saya dalam hati nangis tapi saya jawab, makanya harus sekolah yang tinggi biar nanti enggak terus-terusan memulung,” ucap Suswanti terbata.

Suswanti masih belum bisa tenang karena Firna belum memiliki pekerjaan tetap. Baginya, tugas sebagai orangtua belum bisa dikatakan tuntas jika belum mengantarkan anak hingga memiliki penghasilan tetap.

“Apa pun mimpinya, sekolah lagi atau bekerja, semoga selalu diridai Allah,” ujar Suswanti. (tom)