Kemenangan besar diraih delegasi Indonesia yang hanya mengutus dua tim untuk mengikuti Olimpiade Standardisasi Internasional tingkat SMA di Korea Selatan (Korsel). Delegasi Indonesia yang diwakili SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya berhasil meraih medali emas dan tim dari SMA Lazuardi GIS Depok mendapatkan medali perunggu.

Dalam olimpiade tersebut, para peserta diuji kemampuannya dalam menyelesaikan delivery drone system. ?Kerangka drone yang tersedia di meja harus dimodifikasi dan ditambahkan dengan sistem delivery yang efektif agar bisa memindahkan barang maupun paket dengan ukuran yang bervariasi secara efektif.

“Olimpiade 2016 tingkat kesulitannya lebih tinggi dibanding 2015. Tahun lalu, kami hanya diminta membuatkan ketel uap panas yang sudah kami bayangkan bentuk fisiknya. Tahun ini diminta membuat drone yang bisa mengangkat barang. Ini butuh kreativitas tinggi,” kata Billy, siswa SMA Kristen St Louis 1 Surabaya? kepada pers sesaat setelah tiba di Bandara Soetta, tadi malam, seperti dikutip dari JPNNcom, Senin (8/8/2016).

Billy, siswa SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya (JPNN)
Billy, siswa SMA Katolik St. Louis 1 Surabaya (JPNN)

Tim SMAK St Louis 1 Surabaya? yang terdiri dari Billy (si jago matematika), Agatha (si jago bahasa Inggris), dan Leonard (si jago Fisika), berhasil membuat prototipe drone dengan sistem simpel hidrolik yang didesain empat dimensi. Karya siswa SMAK St Louis ini rupanya menarik perhatian para juri sehingga mengganjar mereka dengan medali emas.

Sementara Bagus Alif Fahasyim, salah satu anggota tim Indonesia dari SMA Lazuardi-GIS Depok mengatakan, butuh kreativitas dan konsentrasi tinggi dalam olimpiade Korsel ini. Siswa hanya diberikan alat dan bahan sesuai tema yang ditentukan juri.

Drone delivery buatan Amazon (Abcexperiment)

â??Dengan alat dan bahan yang tersedia, peserta dituntut untuk bereksperimen, berkreasi, maupun berinovasi spesifikasi apa saja yang harus ditambahkan untuk delivery system drone serta menstandarisasi spesifikasi maupun komponen-komponen yang ada dalam drone tersebut dengan menulis portofolio yang panitia sediakan,â? terang Bagus.

Jika drone ini bisa dikembangkan lebih lanjut, mungkin saja nantinya jasa pengiriman di Indonesia tak lagi menggunakan motor atau mobil, melainkan cukup pakai drone. (tom)