source: elle.com

Amerika Serikat merupakan negara dengan populasi Muslimnya hanya 1 persen dari total 324 juta penduduk. Dalam desakan minoritas dan ancaman politik dari salah satu kandidat yang menyatakan siap ‘mengusir’ Muslim, ada satu wanita yang kukuh terhadap agamanya dan bangga dengan balutan hijabnya, demi memperjuangan negara ini di ajang olahraga multicabang terbesar di dunia, Olympic Games 2016.

Dialah Ibtihaj Muhammad, lahir dan dibesarkan di New Jersey, Amerika Serikat, 4 Desember 1985. Sekarang wanita keturunan Afrika Amerika ini tengah berjuang untuk Amerika di cabang olahraga anggar di Olimpiade Rio 2016.

Sejak kecil, sudah memakai jilbab dan tertarik dengan dunia olahraga. Namun merasa kesulitan karena ia harus selalu memakai pakaian serba tertutup ketika berolahraga. Alhasil, ia menemukan olahraga yang menggunakan baju serba tertutup, yaitu anggar. Lulusan Duke University ini pun serius menekuni olahraga tersebut dari umur 13 tahun.

Di tahun 2002, Ibtihaj Muhammad bergabung dengan Peter Westbrook Foundation, sebuah organisasi yang menggunakan olahraga anggar sebagai alat pengembangan kemampuan hidup bagi anak muda di komunitas kurang mampu. Hingga akhirnya ia masuk ke dalam tim nasional anggar Amerika Serikat pada tahun 2010.

Menjadi wanita berhijab di tengah negara yang tak sedikit yang menyatakan anti Islam, prasangka bukan tak pernah mampir padanya. Ibtihaj dan kerudungnya, kerap kali dipandang sebagai sosok yang mencurigakan. Pada April lalu misalnya, Ibtihaj pernah disangka akan meledakkan sesuatu oleh seorang pria di jalanan.

“Di saat keadaan politik seperti sekarang, adalah suatu terobosan bahwa seorang wanita Muslim bisa menjadi anggota tim Olimpiade AS. Saya sangat gembira mempertanyakan stereotip dan konsep yang salah tentang wanita Muslim. Saya ingin menunjukkan bahwa kita bukan hanya bisa menjadi bagian tim Olimpiade, tetapi tim Olimpiade AS yang terkuat dibandingkan tim negara lain,” kata dia seperti dikutip dari BBC Sport.

Sebagai Muslim Amerika, Ibtihaj pernah juga merasakan nikmatnya. Ia menjadi undangan Gedung Putih saat Festival Idul Fitri. Presiden Barack Obama mengatakan tak ada beban di pundak Ibtihaj meski harus bertanding di Olimpiade mengenakan hijab.

Baginya mengenakan hijab adalah pengingat bagi diri, dalam lingkungan yang tidak didominasi Muslim, untuk lebih mengenali agama sendiri. Sedang di olahraga, berhijab adalah bagian dari perjalanannya sebagai atlet. Ibtihaj menyebut mengenakan hijab selalu terasa benar baginya.

Prestasi yang dicapai pun tidak main-main. Ia berhasil memenangkan medali perunggu pada kejuaraan Piala Dunia Anggar di Athena, Yunani, awal tahun 2016 ini. Sebelumnya ia pernah meraih medali emas pada Kejuaraan Anggar Dunia tahun 2014. Dia juga peraih tiga kali juara anggar Kompetisi NCAA All-American.

Prestasi itu semua mengantarkan menjadi peringkat ke-2 AS, dan ke-7 anggar dunia sepanjang 2015-2016 dan menjadi bagian dari tim Amerika Serikat (AS) pada Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil, yang saat ini sedang berlangsung, 5-21 Agustus 2016. Kejuaraan besar level dunia yang diikuti kurang lebih 12.500 atlet dari 206 negara.

Sejarah nyata mencatatat di sini adalah Ibtihaj Muhammad, dan bukan hanya karena ia menjadi orang Amerika pertama yang bersaing di jilbab. Sejarah besar adalah bahwa ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara menentang intoleransi dengan hanya berkoar-koar. Sebaliknya, ia menggunakan Olimpiade ini untuk menunjukkan bahwa seorang wanita 30 tahun dari New Jersey dapat tumbuh dengan mimpi olahraga.