Apakah kamu pernah bersin padahal cuaca sedang tidak dingin atau kamu sedang flu? Jika jawabannya iya, maka kamu termasuk dalam 20-35 persen populasi manusia dunia yang menjadi korban sindrom â??bersin cahayaâ? atau dikenal juga sebagai photic sneeze reflex (PSR).

Dilansir dari Todayifoundout, Selasa (30/8/2016), bersin cahaya ini sebenarnya bukan sindrom baru, karena sudah dikenali sejak dulu. Filsuf Yunani kawakan, Aristoteles, pada tahun 350 SM pernah mengutarakan pertanyaan â??Mengapa sinar matahari memicu bersin?â? dalam “The Book of Problem”. Itulah bukti tertulis pertama tentang PSR. Menurut teori Aristoteles, hangatnya sinar matahari menyebabkan hidung dan mulut lembap serta berkeringat. Kondisi inilah yang memicu bersin.

Aristoteles (Aion)
Aristoteles (Aion)

Tetapi pada abad ke-17, ilmuwan bernama Francis Bacon menyanggah teori Aristoteles. Ia membuktikannya dengan cara menatap matahari dengan mata tertutup. Cara itu, membuatnya tak bersin. Ia menyimpulkan bahwa menatap matahari membuat mata kita berair, yang mengalir turun ke hidung dan dapat menyebabkan bersin.

Francis Bacon (Christianitytoday)
Francis Bacon (Christianitytoday)

Teori Bacon kemudian juga dibantah oleh beberapa ilmuwan lain, sebab bersin terjadi seketika setelah kita terpaan cahaya matahari. Sementara mata membutuhkan waktu beberapa saat untuk berair.

Fenomena ini tak lagi diteliti hingga hampir 350 tahun kemudian. Akhirnya, studi pada 1964 mulai menguak penjelasan ilmiah tentang PSR. Bersin cahaya sebenarnya terkait dengan genetik.

Studi menunjukkan bahwa sindrom tersebut bersifat autosomal dominan. PSR akan timbul meskipun hanya terdapat satu gen yang bawaan dari salah satu orang tua. Sebagai perbandingan, penyakit autosom resesif akan muncul saat seorang individu memiliki dua gen bawaan. Dengan kata lain, jika orang tua merupakan pengidap sindrom bersin cahaya, maka probabilitas anaknya menderita sindrom serupa adalah sebesar 50 persen.

Penelitian lebih lanjut tentang PSR dilakukan oleh Roberta Pagon pada tahun 1978. Dalam konferensi yang membahas tentang cacat lahir, Roberta Pagon bersama rekan-rekan doktor lainnya meneliti dan membahas tentang bersin cahaya. Mereka menemukan bahwa frekuensi bersin cahaya dalam satu keluarga cenderung sama, namun berbeda jika dibandingkan dengan keluarga lain. â??Ada keluarga yang frekuensi bersinnya tiga kali, sementara ada juga yang lima kali atau hanya sekali,â? ujar Pagon dikutip dari Scientific American.

Roberta Pagon (Genetests)
Roberta Pagon (Genetests)

Dengan informasi tambahan ini, para ilmuwan dalam konferensi tersebut melakukan penelitian lebih lanjut dan menulis jurnal ilmiah tentang bersin cahaya. Mereka juga memberi bersin cahaya sebuah nama yang lebih ilmiah, yaitu sindrom autosomal dominant compelling helio-ophthalmic outburst (ACHOO).

Sebenarnya apa yang menyebabkan bersin cahaya ini? Studi yang dilakukan oleh profesor dari Zurich University, Nicholas Langer pada 2010 silam berusaha mengungkap penyebab bersin cahaya dengan menguji reaksi otak orang-orang pengidap ACHOO dan tidak. Ia menggunakan mesin Electroencephalography (EEG) dan memberikan paparan cahaya pada para partisipan untuk mengukur respon otak dan saraf mereka.

Nicholas Langer (Cuny)
Nicholas Langer (Cuny)

Hasilnya sangat mengejutkan. ACHOO bukan sekedar refleks klasik yang terjadi pada batang otak atau pun sumsum tulang belakang, namun juga melibatkan area kortikal otak lainnya.

Ada dua teori yang disampaikan oleh Langer. Pertama, sistem visual pada otak sangat sensitif terhadap cahaya. Rangsangan berlebihan dari cahaya memicu respon panik dari bagian otak lain, termasuk sistem somatosensori yang mengontrol bersin.

Teori yang kedua, tak jauh berbeda dengan teori Aristoteles dan Bacon. Iritasi pada hidung memicu bersin, tetapi tak seperti teori Aristoteles dan Bacon, ini tak ada sangkut pautnya dengan kelembaban. Iritasi dapat dirasakan oleh saraf trigeminal, yang berperan dalam sensitivitas wajah tertentu dan kontrol motorik.

Ilustrasi bersin (Wikimedia)
Ilustrasi bersin (Wikimedia)

Dalam teori kedua ini, penyebab bersin cahaya adalah salah paham pada otak. Letak saraf trigeminal berdekatan dengan saraf optik, yang bertugas mengirimkan informasi visual dari retina ke otak. Ketika tiba-tiba cahaya menyerbu retina dan saraf optik mengirimkan sinyal ke otak untuk mengecilkan pupil, sinyal tersebutâ??menurut teori Langerâ??dapat dirasakan oleh saraf trigeminal dan dikirimkan ke otak, sehingga otak mengira bahwa hidung sedang iritasi, itulah sebabnya seseorang bersin.

Karena berkaitan dengan gen, maka sindrom ini hingga kini masih belum diketahui cara menyembuhkannya. Jika kamu sedang keluar rumah tiba-tiba kamu bersin, maka yang bisa disalahkan adalah orangtua kamu, atau Matahari. (tom)