Seringkali kita dengar bahwa apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari dikaitkan dengan sains atau ilmiah. Meski terdengar meyakinkan, rupanya ada juga sains-sains itu berupa mitos alias diragukan kebenarannya. Apa saja? Berikut mitos-mitos sains yang masih dipercaya hingga kini, seperti dilansir dari Zeniusnet, Senin (5/9/2016).

1. Belum 5 menit

Belum 5 menit (Cloudfront)
Belum 5 menit (Cloudfront)

Masyarakat kita terbiasa dengan kepercayaan bahwa makanan yang jatuh ke lantai masih aman untuk diambil dan dimakan lagi, selama belum 5 menit. Faktanya, sedikit kontak saja dengan lantai, bahkan 1 detik aja, bakteri-bakteri di lantai pasti langsung mengkerubuti makanan yang jatuh itu. Penelitian menunjukkan, tak ada perbedaan yang signifikan pada jumlah bakteri pada makanan yang jatuh ke lantai dalam 2 detik dengan jumlah bakteri pada makanan yang jatuh ke lantai yang sama selama 6 detik.

2. Manusia baru menggunakan 10 persen otaknya

Ilustrasi otak (Viva)
Ilustrasi otak (Viva)

Mitos otak yang satu ini menyatakan kalau manusia baru memanfaatkan 10 persen kapasitas otaknya, sementara 90 persen lagi masih belum dimanfaatkan dengan optimal. Ada juga yang berpendapat bahwa manusia biasa menggunakan 10 persen otaknya, sementara Einstein sudah menggunakan 16 persen otaknya. Padahal, jika manusia baru menggunakan 10 persen otaknya, maka manusia itu sudah tidak bisa melakukan apa pun, seperti misalnya membaca. Bahkan manusia itu seperti sudah terkena stroke jika baru menggunakan 10 persen otaknya.

3. Lidah punya zona rasa masing-msaing

Peta lidah (Slideshare)
Peta lidah (Slideshare)

Zona lidah seperti gambar di atas tentu sudah pernah kamu pelajari dalam pelajaran IPA sejak kamu duduk di bangku sekolah. Padahal, walaupun satu bagian pada lidah bisa mendeteksi suatu rasa sedikit lebih cepat, semua bagian pada lidah bisa bisa merasakan semua jenis rasa dengan level intensitas dan sensasi yang sama. Berbagai penelitian dan dekontruksi pemahaman terkait peta rasa pada lidah yang lahir seabad lalu ini sudah banyak dilakukan. Yang terbaru adalah penelitian pada 2014 yang berhasil mengungkap bahwa ada 8 ribu sensor yang tersebar di lidah dapat merasakan berbagai rasa secara merata, bukan per bagian.

4. Manusia hanya punya 5 indera

Panca indera (Slideshare)
Panca indera (Slideshare)

Sama seperti zona lidah, selama sekolah kita diajari oleh guru kita kalau manusia memiliki 5 indera, yang disebut dengan panca indera. Bahkan ada yang berpendapat sebagian kecil manusia memiliki indera keenam. Faktanya, menurut beberapa penelitian, indera manusia rupanya lebih dari 6. Manusia memiliki total hingga 21 indera, meliputi indera tekanan, rasa gatal, suhu, posisi tubuh (proprioception), ketegangan otot, rasa sakit (nociception), keseimbangan (equilibrioception), zat kimia dalam tubuh (kemoreseptor), rasa haus, rasa lapar, waktu, dan lain-lain. Pernyataan manusia hanya punya 5 indera jelas keliru, yang benar adalah manusia memiliki minimal 5 indera.

5. Semua bahan kimia berbahaya

Bahan kimia (idonthaveone)
Bahan kimia (idonthaveone)

Gara-gara iklan di televisi, masyarakat kita terdoktrin bahwa bahan kimia itu semuanya berbahaya, dan bahan yang herbal itu baik. Faktanya, semua hal yang ada di sekitar kita adalah bahan kimia. Seluruh tubuh kita tersusun dari jutaan molekul dan senyawa kimia. Benda yang kamu gunakan tiap harinya, mulai dari meja, teflon penggorengan, baju, hingga alat elektronik, juga terbentuk dari bahan kimia. Bahkan, segala sesuatu yang berasal dari alam, juga bahan kimia, seperti misalnya air yang kamu minum tiap hari. Tak semua bahan kimia itu berbahaya, dan tak semua bahan herbal itu baik. Produk herbal yang mengklaim dirinya langsung diperoleh dari alam bisa juga berbahaya, jika tidak melalui proses atau standar kesehatan yang ditetapkan lembaga resmi pemerintah.

6. Minum antibiotik agar flu cepat sembuh

Antibiotik (Kompas)
Antibiotik (Kompas)

Terkadang orangtua kita menyuruh kita untuk minum antibiotik, padahal kita cuma sakit ringan, agar cepat sembuh. Menurut mereka, antibiotik adalah obat segala penyakit, termasuk penyakit yang disebabkan oleh virus. Padahal, antibiotik hanya membunuh penyakit yang disebabkan oleh bakteri, bukan virus. Selain itu, minum antibiotik dengan tujuan yang tidak sesuai dengan fungsi dasarnya atau dosis yang ditetapkan dapat menyebabkan bakteri umum lainnya di dalam tubuh menjadi resisten terhadap obat. Hal ini bisa memicu terbentuknya â??bakteri superâ? yang menyebabkan penyakit yang jauh lebih buruk daripada penyakit awal.

7. Minum susu kurangi risiko osteoporosis

Susu (Merdeka)
Susu (Merdeka)

Kita sudah didoktrin kalau rajin minum susu bisa kuatkan tulang dan kurangi risiko osteoporosis (tulang keropos). Mengkonsumsi kalsium dengan cukup dan memaksimalkan cadangan tulang pas tulang lagi aktif-aktifnya tumbuh (hingga usia 30 tahun) memang memberikan fondasi penting bagi masa depan. Tapi hal ini tak mencegah kerusakan tulang di kemudian hari. Kerusakan tulang seiring berjalannya usia adalah hasil dari berbagai faktor, meliputi faktor genetik, kurangnya aktivitas fisik, dan menurunnya kadar hormon dalam tubuh. Jadi, mengurangi risiko osteoporosis jangan terpaku pada minum susu dan konsumsi kalsium saja. Sudah banyak studi yang menemukan bahwa tidak ada hubungan antara asupan kalsium yang tinggi dengan kurangnya risiko patah tulang.

8. Golongan darah menentukan kepribadian

Golongan darah (Cloudfront)
Golongan darah (Cloudfront)

Ini juga merupakan mitos yang dipercaya banyak orang. Kepribadian dan karakter manusia itu kan ada banyak. Bagaimana bisa karakter yang beragam itu dikotak-kotakkan pada hanya 4 tipe golongan? Katanya golongan darah AB itu jenius dan suka menghasilkan ide cemerlang. Ternyata, banyak juga orang yang jenius tapi tidak bergolongan darah AB. Penelitian khusus pun telah dilakukan dan ditemukan bahwa tidak ada hubungan antara golongan darah dengan kepribadian seseorang. (tom)