Ampas kopi yang berada di dasar gelas biasanya kita tinggalkan begitu saja setelah meneguk habis kopi yang kita minum. Hal tersebut tak berlaku bagi seorang Ghidaq Al-Nizar, seniman ampas kopi yang memberi nama hasil karyanya dengan tagar #zerowastecoffee.

Mengapa #zerowastecoffee? #zerowastecoffee berarti kopi tanpa sisa. Hal tersebut dikarenakan ia menggunakan ampas kopi yang tersisa dari kopi yang ia minum.

Uniknya lagi media yang ia gunakan untuk berkarya bukan di kanvas melainkan peralatan di sekeliling kita sehari-hari yang berkaitan dengan kopi seperti gelas, piring, dan satu lagi yaitu daun yang telah kering. Semua hasil karya uniknya tersebut ia kumpulkan dengan rapi di album foto di akun Instagram miliknya.

Berkat karya uniknya tersebut ia pun mendapatkan banyak tawaran wawancara dari media internasional seperti My Modern Met, 9Gag, Metro Russia St. Petersburg, Websta_Me, media-media dari Ukraina. Bahkan agen foto seperti Rex Features menawarinya bekerja sama. “Mereka tertarik terhadap daun-daun lukisan kopi saya,” ungkapnya seperti dikutip dari Detikcom, Kamis (15/9/2016).

View this post on Instagram

16 5 12. Kukira setiap diri kita termotivasi dengan cara berbeda.  Aku ingat salah satu temanku -mba @annaristiana14 mengunggah karyanya, gadis kecil berjilbab itu tersenyum sambil membentangkan karton bertuliskan #saveAleppo. "Unyu ih", senyumku :'> melihat karyanya yang memang selalu tersenyum. Lalu aku klik hashtag itu dan kopi pagiku langsung terasa masam, ingat kecoak yg pernah aku unggah? Sensasinya persis seperti itu! Ok, kita  scroll cepat detail ttg kota Aleppo yang dihujani darah penghuninya sendiri. Cepat-cepat juga kembali ke laman mba Anna dan sebelum benar-benar sampai di laman ku sendiri, aku membacanya tepat dibawah senyum si gadis "Masih merasa manusia?" Aku mengerang…ergh, mba great way deh ah ^_^" Karena aku tahu diriku akan seperti apa setelahnya; kopi pagi berikutnya terasa masam, lagu2 galau andalanku terdengar seperti "Aleppo…aleppo", dan aku tidak ingat Game of Thrones musim terbaru punya rudal dalam perangnya,  lalu saat bertarung disisi Captain America aku meyakinkan diri ini bukan Civil Warnya #Aleppo. Pagi berikutnya aku meyakinkan diri 'Ok, kamu butuh lakukan sesuatu! Jika doa adalah bantuan yg paling mujarab maka buat lebih banyak doa. Ajak lebih banyak orang! Dalam sepersekian detik itu visi dlm ingatanku lebih nyata dari segala sesuatu disekitarku. Tanganku mulai bekerja, aku tahu begitu saja bahwa aku membutuhkan model telapak tangan anak kecil, lalu aku harus membangun Benteng Aleppo, missile, penduduk sipil dan representasi korban; satu anak kecil yang terkurung, dan yaah sedikit asap agar lebih dramatis. Lalu semua mulai menjelma. Belum selesai pikirku. Aku mampu mengunggahnya dan mengoleksi pujian, aku sih senang saja, tapi semua itu tidak nyata bagi Aleppo. Foto dari @actforhumanity ada dalam daftar populer. Ku ajukan tawaranku kepada mereka untuk ikut menyebarkan info dana bantuan. Mereka setuju dan aku lega. Semoga bantuan kecil ini mampu memberi perubahan baik. Dan aku yakin siapapun yg membaca ini mampu bahkan berbuat lebih. Setelahnya semua film tampak normal, laguku terdengar benar dan aku lega, kopiku tidak lagi terlalu masam. 🙂 Info bantuan BCA # 676 025 4442 A.n. Aksi Cepat Tanggap Careline: 021-7414482

A post shared by Ghidaq Al-Nizar (@coffeetopia) on

Tak hanya berkarya ternyata pemuda asal Bandung ini juga turut serta menyalurkan kepeduliannya dengan fauna harimau sumatera pada Global Tiger Day yang jatuh pada tanggal 29 Juli 2015 lalu.

Ada tiga buah karya yang ia buat. Karya pertamanya yang berjudul â??Paws with No Clawsâ? (Lengan Tanpa Cakar), karya keduanya berjudul â??No Place to Goâ? (Tidak Ada Tempat untuk Dituju), dan karya ketiganya berjudul “Tigris the Last Tiger” (Tigris Sang Harimau Terakhir).

â??Karya ini saya interpretasikan dari keadaan harimau yang “tidak memiliki cakar” untuk melindungi diri, karena secara implisit cakarnya telah dimiliki oleh manusia yang memburu, memperdagangkan serta merusak habitat harimau,â? katanya menjelaskan karya pertamanya.

View this post on Instagram

It's Time For Tiger! Your support is our spirit, give your support with share and like. Global Tiger Day in Indonesia will be held untill July 30th 2017 in 10 cities. I am so excited to be working with Wildlife Conservation Society (WCS) and Forum Harimau Kita (FHK) to promote "Save Sumatran Tiger" campaign through my zero waste coffee. The Sumatran tiger is considered to be a ‘critically’ endangered species. The actual number may be as low as 400. This destruction of habitat and poaching are the greatest threat to the survival of the Sumatran tiger. The tigers are especially vulnerable to poaching in the ‘unprotected’ areas. This is as the reminder that some of us have claimed their "claw", weaken them. But you can make difference; save the Tigers before they are silence forever; to stop deforestation and tiger poaching. They have paws with no claws. Paws with no claws made of coffee grinds and stains using fingerprints. #time4tigers #timefortigers #GTD #GTD2017 #globaltigerday #savesumaterantiger #sumaterantiger #zerowastecoffee #seniampaskopi

A post shared by Ghidaq Al-Nizar (@coffeetopia) on

â??Harimau semakin terdesak. Rumahnya telah dirusak oleh manusia, padahal hutan tidak hanya penting bagi habitat harimau, tetapi juga penting bagi kita. Ketika kita menyelamatkan hutan, hutan juga memberikan kehidupan bagi kita melalui pasokan air dan melindungi tanah dari erosi,â? lanjutnya tentang karya keduanya.

View this post on Instagram

15 8 7. The data recorded that in 2000-2012 there were 2.8 million hectares forest loss or equivalent to 900 times soccer field size that is gone every day. We face this massive deforestation; but maybe few of us realize how important forest is. Forest as the habitat of tigers not only useful for them but also for us. When we save our forest, forest saves our life to regulate water supply and protect us from natural disaster such as flood, drought and landslide. "Without the breath of the tiger there will be no wind, only clouds, and certainly no rain." I Ching. "No Place To Go" made of coffee stains using palm side hand. My second submission for "Save Sumatran Tiger" campaign of Forum Harimau Kita (FHK) & their partner incl Wildlife Conservation Society (WCS) through my zero waste coffee. Feel free to join by reposting this picture using hashtag #tigerdayID#savetiger #SaveOurTiger #SaveSumatranTiger #PawswithnoClaws #zerowastecoffee #seniampaskopi

A post shared by Ghidaq Al-Nizar (@coffeetopia) on

â??Saya memberikan cap sidik jari pada loreng harimau karena loreng harimau itu identik, sama seperti sidik jari manusia. Cap sidik jari saya ini juga merupakan lambang dari keselerasan yang dapat kita bagikan kepada dunia dengan menjaga hutan demi kelestarian harimau,â? katanya mengenai karya ketiganya, yang bisa dibilang cukup unik.

Ghidaq memiliki penafsiran tersendiri perihal kopi. Menurutnya kopi adalah sebuah perayaan. “Saya percaya setiap orang merayakan diri mereka dengan cara yang tidak sama. Saya merayakan diri saya dengan dan melalui kopi,” tutupnya. (tom)