Selama ini, para ilmuwan meyakini bahwa lumba-lumba mampu berkomunikasi satu sama lain. Namun hingga kini, proses komunikasi tersebut belum banyak diketahui.

Riset terbaru yang dipublikasikan di jurnal Mathematics and Physics mengungkap bahwa mamalia dengan kecerdasan tinggi itu ternyata berkomunikasi layaknya manusia.

Ilmuwan yang melakukan riset di Karadag Nature Reserve, Feodosia, Crimea, mengatakan, lumba-lumba berbicara menggunakan getaran. Satu lumba-lumba menghasilkan getaran, klik, atau siulan. Sementara itu, lumba-lumba lain akan menunggu hingga menangkap getaran itu sebelum akhirnya merespon dengan getaran juga.

Ilustrasi lumba-lumba (National Geographic)
Ilustrasi lumba-lumba (National Geographic)

“Sehingga dalam hal ini, kita dapat mengasumsikan bahwa setiap getaran merupakan fonem atau bahasa lisan lumba-lumba, ” kata Vyacheslav Ryabov, peneliti lumba-lumba yang memimpin riset, seperti dikutip dari The Independent, Kamis (15/9/2016). “Secara esensi, proses pertukaran suara ini mirip dengan sebuah percakapan antara dua orang,” lanjutnya.

Penelitian melibatkan sepasang lumba-lumba hidung botol Laut Hitam bernama Yasha dan Yana. Dengan sistem audio khusus, peneliti mencatat percakapan antara lumba-lumba tersebut. Dari pengamatan tersebut kemudian di dapatkan suara-suara yang dipancarkan merupakan pola yang berbeda.

“Banyak getaran yang terekam dalam percobaan kami menunjukkan bahwa lumba-lumba bergantian dalam memproduksi getaran tersebut dan tidak mengganggu satu sama lain, yang memberikan alasan untuk percaya bahwa masing-masing dari lumba-lumba mendengarkan getaran yang lain terlebih dahulu sebelum memproduksi sendiri,” jelas Ryabov. “Ini menunjukkan tingkat kecerdasan yang tinggi dan kesadaran pada lumba-lumba, dan bahasa mereka merupakan bahasa lisan yang berkembang, mirip dengan bahasa manusia.” tambahnya.

Ilustrasi lumba-lumba (National Geographic)
Ilustrasi lumba-lumba (National Geographic)

Sayangnya percakapan lumba-lumba ini di luar frekuensi pendengaran manusia, sehingga kita tidak bisa mendengarkannya secara langsung.

Ke depan, Dr Ryabov berharap temuan ini bisa mendorong untuk pengembangan hubungan dan komunikasi dengan makhluk lain. (tom)