Nasi tumpeng bukan hanya sekadar makanan dengan tampilan yang menarik dan rasa yang lezat. Makanan yang selalu ada dalam perayaan selamatan dan syukuran khususnya di Jawa ini, ternyata memiliki makna filosofis yang begitu indah. Namun sayangnya tidak ada yang tahu kapan mulai dibuatnya nasi tumpeng ini.

Dari namanya, tumpeng berasal dari sebuah singkatan yang memiliki arti tersendiri. “Dalam masyarakat Jawa, ditemukan kata ‘tumpeng’ merupakan akronim dari kalimat ‘yen metu kudu mempeng’,” kata Dr Ari Presetiyo SS MSi, dosen Sastra Jawa Universitas Indonesia, seperti dikutip dari Kompascom, Senin (24/10/2016).

Nasi tumpeng (Indochili)
Nasi tumpeng (Indochili)

Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kalimat ‘yen metu kudu mempeng’ berarti ‘ketika keluar harus sungguh-sungguh semangat.’

“Mungkin maksudnya, ketika terlahir manusia harus menjalani kehidupan di jalan Tuhan dengan semangat, yakin, fokus, dan tidak mudah putus asa. Juga dalam proses itu semua, percayalah Tuhan ada bersama kita,” kata Dr Ari.

Tak hanya itu, nasi tumpeng merupakan bentuk representasi hubungan antara Tuhan dengan manusia dan manusia dengan sesamanya.

Dalam Kitab Tantupanggelaran (kitab dari zaman Majapahit) diceritakan saat Pulau Jawa berguncang, Batara Guru dalam konsep Hindu memerintahkan membawa puncak Mahameru India untuk menstabilkan Pulau Jawa dan jadilah Gunung Semeru di Jawa Timur.

“Puncak tertinggi itulah yang dipercaya merupakan letak dari para dewa. Manusia memahami konsep Ketuhanan dengan sesuatu yang besar dan tinggi, dan berada di puncak. Nasi Tumpeng adalah representasi dari puncak gunung atau konsep Ketuhanan,” jelas Dr Ari.

Nasi tumpeng (Pinterest)
Nasi tumpeng (Pinterest)

Selain bentuk nasi tumpeng yang kerucut dan menjulang tinggi (vertikal) adalah representasi dari bentuk gunung atau Tuhan, isian nasi tumpeng juga memiliki arti. Menurut Ari, isian tumpeng yang diletakkan horizontal adalah lambang hubungan manusia dengan sesamanya. Keragaman lauk pauk adalah lambang kehidupan dunia yang kompleks.

“Dalam konsep Jawa dikenal ungkapan ‘sangkan paraning dumadi’ (tahu dari mana dan akan kemana segala mahluk), ‘mulih ing mulanira’ (kembali ke asalnya). Agar kembali ke Tuhan atau kaitannya dengan konsep surga dan neraka, manusia harus berbuat baik dan berhati-hati dalam hidup di dunia yang penuh karut marut seperti lambang dari lauk pauk nasi tumpeng,” jelasnya. (tom)