5 Tokoh Sejarah Indonesia yang Misterius


Mungkin banyak pelaku sejarah Indonesia yang tidak tercatat dalam sejarah dan atau juga sengaja disembunyikan untuk suatu kepentingan. Sejarah mencatat, ada beberapa tokoh sejarah misterius di Indonesia yang sebenarnya layak diketahui keberadaan serta perannya apabila orang-orang tersebut benar-benar ada. Tetapi sayangnya, mereka tetaplah misterius dan keberadaannya sulit diketahui dengan pasti. Berikut ini adalah 5 tokoh sejarah Indonesia yang misterius, seperti dilansir dari Apakabarduniacom, Jumat (13/1/2017).

Tan Malaka

Tan Malaka (Qerja)

Salah satu sosok pahlawan nasional kita yang terlupakan. Mungkin salah satu (atau satu-satunya) sosok pahlawan yang memiliki kisah petualangan dari negara ke negara lain dan menjadi sosok yang paling dicari oleh Belanda dan banyak negara lain. Selain itu, pada masa revolusi kemerdekaan keberadaannya selalu dicari oleh para pejuang, termasuk oleh Bung Karno.

Ia sukar ditemukan, karena pintar melakukan penyamaran. Sosoknya selalu misterius dan tidak banyak yang mengenal dengan pasti seperti apa sosok yang bernama asli Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka itu. Konon kabarnya Tan Malaka dibunuh pada 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya di daerah Kediri, Jawa Timur. Hingga kini makamnya tidak pernah bisa ditemukan.

Gunadarma

Candi Borobudur (Originalasia)

Gunadarma dikenal sebagai arsitek yang membangun Candi Borobudur. Dalam sejumlah literatur, Candi Borobudur diarsiteki oleh sekelompok kaum atau sekelompok brahmana yang meletakkan dasar pada sebuah tempat pemujaannya. Masih belum diketahui siapa sebenarnya sekelompok kaum Brahmana yang terdahulu karena tidak diketemukan catatan resmi tentang mereka. Kemudian cerita tentang kepala penanggung jawab mega proyek tersebut yaitu Gunadarma juga tidak ada sebuah keterangan resmi mengenainya.

Bisa jadi Gunadarma adalah sebuah simbol dan bukan merupakan nama seseorang. Kalau memang benar Gunadarma yang mengarsiteki pembangunan Candi Borobudur, maka perlu kita acungi jempol bagaimana Gunadarma melakukan perencanaan yang tepat dengan kondisi teknologi yang pada saat itu belum begitu canggih.

Supriyadi

Supriyadi (Riau Online)

Nama Supriyadi jelas tidak asing bagi orang Indonesia, karena sosoknya muncul dalam pelajaran sejarah yang kita pelajari sejak masa sekolah. Supriyadi merupakan pemimpin dari PETA (Pembela Tanah Air) yang dibentuk untuk melawan pasukan pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945. Ia ditunjuk sebagai menteri keamanan rakyat pada kabinet pertama Indonesia, tapi entah kenapa tidak pernah muncul untuk menempati jabatan tersebut. Kabar yang berkembang kemudian, Supriyadi dinyatakan tewas. Tetapi, hingga kini tidak ditemukan mayat dan makamnya.

Oleh karena itu, meski telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah, keberadaan Supriyadi tetap misterius hingga kini. Sejarah yang ditulis pada buku-buku pelajaran sekolah pun menyebut Supriyadi hilang. Namun yang membuat sosok Supriyadi semakin misterius adalah banyaknya kemunculan orang-orang yang mengaku sebagai Supriyadi. Salah satu yang cukup kontroversial adalah sebuah acara pembahasan buku “Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno”, yang diadakan di Jalan Pandanaran Semarang. Dalam acara itu, seorang pria sepuh bernama Andaryoko Wisnu Prabu membuka jati diri dia sesungguhnya. Dia mengaku sebagai Supriyadi, dan kini berusia 88 tahun.

Perobek bendera Belanda di Surabaya

Perobekan bendera Belanda di Hotel Oranje Surabaya (Twitter)

Peristiwa 10 November 1945 tentu tidak lepas dari dipicunya oleh salah satu peristiwa yang paling heroik, yaitu perobekan bendera Belanda di atas Hotel Oranje. Kisah ini dipicu tersiarnya sebuah kabar bahwa di Hotel Oranje di Tunjungan telah dikibarkan bendera Belanda merah-putih-biru oleh Mr.Ploegman. Tentu saja hal tersebut tidak diterima oleh para arek-arek Suroboyo yang merasa pengibaran bendera tersebut dianggap sebagai penghinaan sebagai bangsa yang merdeka.

Akhirnya Mr. Ploegman dibunuh oleh seorang pemuda. Pada saat itu Mr. Ploegman menghadapi ribuan massa di depan hotel yang menuntut penurunan bendera triwarna tersebut. Pada saat itu teriakan untuk menurunkan bendera kian membahana. Sejumlah pemuda telah membawa tangga untuk naik ke atap hotel, terdapat 8 sampai 10 pemuda. Dari atap ada yang naik ke tiang bendera dalam gemuruh teriakan, lalu bagian biru bendera itu pun dirobek, dan jadilah kini Sang Merah Putih yang berkibaran di angkasa. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah siapakah yang menjadi perobek bendera tersebut? Tak ada yang tahu.

Ki Panji Kusmin

Buku Langit Makin Mendung (Sawali)

Pada bulan agustus 1968, sebuah majalah sastra memuat sebuah cerpen yang berjudul “Langit Makin Mendung” yang dikarang oleh Ki Panji Kusmin (diduga ini nama samaran). Cerpen ini bercerita tentang Nabi Muhammad SAW yang memohon izin kepada Tuhan untuk menjenguk umatnya. Disertai malaikat Jibril, dengan menumpang Buroq, Nabi mengunjungi Bumi. Namun Buroq bertabrakan dengan satelit Sputnik sehingga Nabi serta Malaikat Jibril terlempar dan mendarat di atas Jakarta. Di situ Nabi menyaksikan betapa umatnya telah menjadi umat yang bobrok. Cerpen ini merupaka sindiran terhadap masyarakat luas yang banyak menyimpang dari agama, pada waktu yang belum jauh berselang dari terjadinya Tragedi 1965.

Karena cerpen tersebut, Ki Panji Kusmin dituduh telah melakukan penodaan terhadap agama karena mempersonifikasikan Tuhan, Nabi Muhammad, dan Malaikat Jibril. Tanpa ampun lagi H.B. Jassin selaku penanggung jawab majalah itu dibawa ke pengadilan dan dipaksa untuk mengungkap siapa sebenarnya Ki Panji Kusmin. H.B. Jassin menolak untuk mengungkap jati diri Ki Panji Kusmin. Untuk itu ia dituntut Pengadilan Tinggi Medan dan divonis in absentia berupa kurungan selama satu tahun dan masa percobaan dua tahun. Hingga saat ini identitas dari Ki Panji Kusmin tidak terungkap, bahkan sampai wafatnya H.B. Jassin. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
50
Love
OMG OMG
40
OMG
Yaelah Yaelah
70
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
60
Keren Nih
Ngakak Ngakak
90
Ngakak