Krisis Energi Ancaman Nyata Masa Depan


Kebutuhan energi dunia terus mengalami peningkatan setelah terjadi Revolusi Industri sehingga membuat dunia selalu berada dalam ancaman krisis energi. Revolusi Industri terjadi di Inggris pada tahun 1764, diawali dengan penemuan mesin uap oleh James Watt yang memanfaatkan sumber energi batubara. Penemuan tersebut mengantarkan pada peningkatan konsumsi energi batubara secara drastis pada tahun 1800.

Meningkatnya populasi penduduk di dunia menjadi salah satu faktor meningkatnya kebutuhan energi. Sebelum Revolusi Industri populasi penduduk dunia pada tahun 1650 sekitar 500 juta jiwa dan pada tahun1750 meningkat menjadi 700 juta jiwa. Namun setelah Revolusi Industri populasi penduduk tercatat sekitar 1.2 milyar jiwa pada tahun 1850 dan telah mencapai 2.5 milyar pada tahun 1950. Peningkatan populasi penduduk berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan energi, namun tidak selasas dengan ketersediaannya di alam, khususnya energi yang berasal dari fosil. Krisis minyak yang terjadi pertama kali pada tahun 1973 menyadarkan banyak penduduk dunia bahwa sumber energi fosil seperti minyak sangat terbatas.

Hingga saat ini telah banyak sumber energi yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi di dunia, tetapi krisis energi tetap menjadi ancaman. Banyak orang memprediksi bahwa krisis energi dunia akan terjadi dalam 20 hingga 30 tahun mendatang. Berdasarkan survey yg diadakan oleh Pew Reseach Centre, 72% dari 1.546 pemuda berusia 21-26 tahun di Amerika Serikat percaya bahwa krisis energi dunia akan terjadi pada tahun 2050.

Namun hal yang berbeda disampaikan oleh Bjorn Lomborg dalam bukunya The Skeptical Environmentalist : Measuring The Real State of The World (1998). Ia menyatakan bahwa persediaan sumber energi fosil tidak dapat diprediksi. Dalam bukunya, ia juga mengutip beberapa prediksi krisis energi yang tidak pernah terjadi, seperti dalam buku The Limits to Growth yang memprediksi krisis energi akan terjadi pada tahun 1992. Sedangkan mengenai krisis energi yang terjadi pada tahun 1973, menurutnya krisis tersebut terjadi bukan karena ketersediaan minyak yang menipis,melainkan strategi politik negara-negara OPEC untuk meningkatkanharga minyak di pasar dunia.


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
80
Love
OMG OMG
70
OMG
Yaelah Yaelah
100
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
90
Keren Nih
Ngakak Ngakak
20
Ngakak