Rendy Pandugo, John Mayer-nya Indonesia

Siapa tak kenal John Mayer? Musisi berbakat luar negeri yang dikenal punya suara khas dan membuat pendengar sangat menyukai lagu-lagunya. John Mayer sendiri telah banyak menghasilkan lagu-lagu hit, seperti “Slow Dancing in The Burning Room”, “Vulture”, dan lain-lain.

Musisi muda satu ini, rupanya sering disebut-sebut sebagai versi Indonesia dari John Mayer. Namanya Rendy Pandugo. Sebelum karya dan lagunya dikenal banyak orang seperti saat ini, Rendy diketahui, sering menggunakan media sosialnya untuk menyalurkan bakar bernyanyi.

Dilansir dari Vivacoid, Kamis (15/6/2017), akun media sosial Soundcloud menjadi awal mula karier musiknya merangkak naik. Dari sana, Rendy pernah terlibat mengisi soundtrack film yang disutradarai Acha Septriasa. Saat itu, Rendy berduet dengan Piyu menyanyikan lagu berjudul “Firasatku”.

2nd stop!

A post shared by Rendy Pandugo (@rendypandugo) on

Musisi dan penyanyi 32 tahun ini, dinilai sebagai John Mayer versi Indonesia, karena suaranya yang enak didengar dan kebanyakan lagunya ia mainkan sembari bermain gitar.

Terlihat dari akun Instagramnya, @rendypandugo, pria satu ini aktif dalam berbagai acara acara musik. Setiap tampil, gitarnya tak pernah terlepas darinya.

Suatu hari tim A&R Sony Music menonton Rendy yang sedang manggung di sebuah kafe. Melihat dari permainan dan skill dalam bermain gitar, tim Sony Music pun menawarkan kerja sama. Jika kebanyakan artis berharap bekerja sama dengan label major, Rendy justru berpikir dua kali dalam menerima tawaran itu. Pasalnya, Rendy ingin kerja sama dan bermusik sesuai dengan harapannya, bukan harapan orang lain.

Singkat cerita Rendy Pandugo tampil meyakinkan membawakan demo-demo lagunya di depan Hayden Bell, A&R Director Asia Pasific dari Sony Music, dan berakhir pada kontrak kerja sama sejak November 2015. Usai resmi menjadi artis Sony Music, Rendy Pandugo pun terbang ke Swedia, Februari 2016, untuk melakukan workshop bersama dengan musisi dan produser dari The Kennel Music. Hasil dari workshop tersebut adalah materi lagu yang disiapkan untuk debut album solonya nanti.

Soal John Mayer, Rendy Pandugo mengaku sebagai penggemar musikalisasi Mayer. â??John Mayer memang banyak memberikan pengaruh dalam bermusik. Menurut saya dia itu sangat jenius. Dia memainkan gitar dan mengkombinasikan dengan vokal yang luar biasa. Tersanjung jika ada yang menyamakan saya dengan John Mayer. Tetapi saya ingin dikenal sebagai seorang Rendy Pandugo yang mempunyai karakter sendiri dalam bermusik,â? jelas penyanyi penyuka musik pop, blues, hingga folk ini.

Rendy Pandugo mengatakan bahwa ia pun suka sekali dengan Sheila On 7. Karena itu, cowok berkacamata itu pun merilis sebuah single berjudul â??Sebuah Kisah Klasikâ??, yang merupakan lagu hit Sheila On 7. Single tersebut termasuk ke dalam album kompilasi artis-artis muda Sony Music bertajuk “Y2Koustic”. Album tersebut menampilkan lagu-lagu hit tahun 2000-an yang diaransemen ulang dengan format akustik dengan string yang diarahkan oleh Alvin Witarsa.

Last night at "The Playgorund" Banjarmasin. Till next time!! 🙌🏾🙌🏾🙌🏾🙌🏾

A post shared by Rendy Pandugo (@rendypandugo) on

Bagi Rendy Pandugo, perjalanan karirnya di dunia musik adalah sebuah perjalanan yang panjang dan mengalami pasang surut. Tetapi justru inilah yang membentuk pria kelahiran Medan, 7 Mei 1985 ini menjadi pribadi dan musisi yang matang. Rendy yang berayah Jawa dan ibu Bugis ini mengenal musik lewat pamannya yang hobi memainkan gitar. Tetapi justru Rendy mengenal gitar dari tantenya.

Dengan followers lebih dari 32 ribu, basis penggemar Rendy tak bisa dibilang sedikit. Banyak penggemar yang selalu mengungkapkan rasa kekaguman mereka lewat akun Rendy ini.

“I Don’t Care”, “Sebuah Kisah Klasik”, merupakan single yang ia buat pada 2016 lalu. Sedangkan single baru berjudul “Hampir Sempurna”, baru dirilis beberapa waktu belakangan.

Semoga karier Rendy bisa semakin menanjak naik dan sukses baik di dunia musik Indonesia maupun internasional. (tom)

Pembaca Lain Juga Suka Dari Penulis

Apa Komentarmu

Loading...