Buat yang Mau Resign, Tapi Masih Ragu-ragu


Alkisah ada seorang engineer kenthir bernama Prayitno, ST yang bekerja di pabrik manufaktur elektronik Jepang, ini orang baru aja lolos tes perusahaan BUMN yang mengelola gas alam (jelas gede duitnya) dan mau resign, berikut ini perdebatannya dengan manajernya kita singkat saja ya, Manajer = M, dan Prayitno = P, sebagai berikut:

M : Edan kowe yo Prayitno, lagi S-2 sudah mau resign, dimana morality kamu?

P : Morality saya ikut berlari bersama morality perusahaan, yang nyuruh karyawannya lembur2 melebihi aturan pemerintah sampe sakit tapi tunjangan kesehatan nggak full

 

M : Sebenernya mau kamu apa? Dimana2 kerja itu sama. Saya sudah menjalani 2 company sebelum ini

P : Karena kerja dimana2 itu sama, makanya saya nggak ragu resign Pak, wong sama saja kok, cuma reward-nya yang beda tho…. ya saya pilih yang reward-nya lebih

 

M : Kenapa kamu nggak mencoba profesional disini saja, kalau alasannya reward, kan nanti karir serta salary kamu juga bakal naik kalau kamu bertahan

P : Kenapa saya harus nunggu, Kalau ada company yang nawarin itu sekarang?

 

M : Tapi sayang sekali, saya pandang kamu yg paling berpotensi diantara yang lain

P : Bapak sudah ngomong gitu ke semua engineer yang resign sebelum saya

 

M : Tidak, ini serius, kamu memiliki potensi besar, disini kamu bisa sukses! Daripada kamu memulai lagi dari bawah di company lain yang belum ketahuan ntar disana kamu bakal sukses ato nggak

P : Disini juga sama saja saya belum tahu bakal sukses apa nggak, wong namanya masa depan kok. Sama2 nggak ketahuan, tapi yang satu awalannya lebih baik, ya pilih yang lebih baik donk……

 

M : Maksud kamu lebih baik itu apa? Money? Uang itu bukan segala2nya

P : Kalau memang begitu ngapain company costdown gaji saya, apa artinya uang segitu untuk mempertahankan eksistensi engineer

 

M : Kita kan tidak hanya mengejar uang. Kalau orientasi kamu hanya uang, kamu hanya mengejar “live”. No difference with kambing. Bekerja hanya untuk bertahan hidup. Kamu itu engineer!!!! Harus berorientasi pada yang lebih mulia, bekerja untuk berkarya, untuk mengembangkan diri

P : Saya pengennya seperti itu, makanya saya resign. Gimana saya mau lepas dari orientasi “live” kalau tiap bulan saya harus pusing mikir bayaran kost, pulsa, makan, ngirim ortu, nabung buat merit. Naaaa sekarang ada company yang nawarin itu, salary yang membuat saya tenang, tak berpikir lagi tentang “live existency”. So, boleh donk saya ambil untuk menaikkan derajat pekerjaan saya

 

M : Prayitno…. kalau kamu ngejar yang lebih baik, nggak akan habis2…. selalu ada yang lebih baik. Saya sudah mengalaminya di 2 company terdahulu

P : Memang nggak bakal habis pak…. karena itu, ngapain saya habisin disini? Mending saya terus2an dapat yang lebih baik sampe berhenti karena capek. Lagian Bapak juga nyatanya bisa berhenti kan?

 

M : Nyatanya itu si pak Bambang bisa sukses disini sampe level Director, itu karena dia sabar disini

P : Pantesan pak Bambang tampangnya kaya gitu. Dah nyingkirin berapa orang dia pak buat ke posisi itu? Iya jabatan-nya sech Director, tapi mobilnya sama dengan manajer di company baru saya. Mendingan saya jadi GM disana donk daripada jadi director disini

 

M : Inilah yang membuat bangsa kita nggak maju2. Oportunis. Orang Jepang maju karena loyal

P : Loyalitas itu kata2 pembenaran buat ngegaji orang dibawah level pendidikannya pak. Betul jepang itu maju. Tapi lihatlah, terjadi ketimpangan karir antara lelaki dan wanita. karena lelakinya gila kerja semua. Mereka jarang menemui anaknya. Akibatnya istri2 mereka harus mengimbanginya, Ngalah keluar dari kerja buat nambal waktu bapak yang hilang untuk anak2nya karena bokapnya lebih cinta kerja daripada mereka. Tanya dech sama cewek jepang, lelaki jepang itu paling nggak romantis. Cewek bawa tas berat saja dicuekin

 

M : Tapi dimana responsibility kamu?

P : Responsibility itu apa pak? Perasaan dulu saya pernah punya. Pas awal2 masuk disini, tapi kata2 itulah yang dijadikan pembenaran untuk menindas saya. Atas nama responsibility, saya mengorbankan kesehatan untuk ketepatan schedule launching produk yang jelas2 merupakan percepatan uang masuk ke kantong pemilik saham. Betul, manusia harus punya responsibility. Apa responsibility paling utama? Keluarga !!. Anak dan istri adalah amanah dari Yang Diatas.

 

M : Kamu kurang bersyukur, masih banyak orang yang susah dapet kerjaan

P : Saya sudah diterima Pak. Itu rejeki dari Yang Diatas, Kalau nggak saya ambil, itu yang namanya nggak bersyukur. Yang Diatas itu tahu betul kebutuhan kita. Makanya Dia memberi saya kerjaan baru. Mungkin karena kebutuhan saya meningkat. Selain itu, Yang Diatas juga memberi pekerjaan pada satu orang pengangguran yang akan menggantikan posisi saya disini setelah resign

 

M : EDAN KOWE PRAYITNOOOOO! !!!! Nek ngono aku yo melu resign……

P : Raiso pak…. kowe wis tuwo. Cuma bisa ngelamar ke yang sesuai background. Cuma terbatas di sesama manufaktur elekronik hehehee.. Ngelu, ngelu sampeyan pak………


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
40
Love
OMG OMG
30
OMG
Yaelah Yaelah
60
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
50
Keren Nih
Ngakak Ngakak
80
Ngakak