spot_img
BerandaPeopleMengikuti Prosesi Adat Nikah ala Sunda Raisa-Hamish

Mengikuti Prosesi Adat Nikah ala Sunda Raisa-Hamish

Untuk melakukan prosesi pernikahan, biasanya ada beberapa pilihan, yaitu prosesi pernikahan secara internasional, atau prosesi secara adat Indonesia. Prosesi secara adat Indonesia sendiri terbagi lagi menurut daerahnya masing-masing. Lalu, bagaimana dengan prosesi pernikahan Raisa dan Hamish Daud? Rupanya, mereka memilih melakukan prosesi pernikahan ala adat Sunda. Bagaimana prosesinya? Berikut ini prosesinya.

1. Neundeun omong

raissahamish bs blog 12457c62b37207c6bbc0c638b51c8cb4
Proses pernikahan Raisa-Hamish (Bridestory)

Prosesi pertama yang harus dijalankan adalah neundeun omong, yang artinya menyimpan ucapan. Di sini keluarga calon mempelai pria bakal mendatangi rumah calon mempelai wanita. Bisa dibilang prosesi ini adalah yang paling santai, dimana kedua keluarga akan saling bertemu dan bersenda gurau.Ā Orangtua akan bertanya kepada anak perempuannya sudahkah mempunyai pacar dan apakah sudah ada orang lain yang melamar.

2. Narosan

https://www.instagram.com/p/BUY-yhaDd3H/

Prosesi selanjutnya adalah narosan atau lamaran. Prosesi ini digelar dalam rangka menjalin hubungan dan supaya lebih mendekatkan diri kepada calon besan. Orangtua calon laki-laki akan datang ke rumah calon mempelai putri dan membawa barang-barang tertentu. Biasanya barang yang dibawa adalah lemareun (daun sirih, apu, gambir),cincin meneng, beubeur tameuh (ikat pinggang yang dipakai wanita setelah melahirkan), pakaian perempuan, uang berjumlah 1/10 dari jumlah yang sudah dibawa sewaktu seserahan. Setelah narosan akan ada acara tunangan.

3. Pengajian

https://www.instagram.com/p/BYXgp5GAG3J/?taken-by=thebridestory

Pengajian ini diadakan sebelum siraman atau ngebakan. Acara pengajian ini diadakan terpisah antara calon pengantin pria atau wanita. Yang ikut hadir di acara ini adalah kerabat dekat dan tetangga sekitar.

4. Ngecagkeun aisan

https://www.instagram.com/p/BYX5k7uAiQ0/?taken-by=thebridestory

Sang pengantin wanita akan digendong keluar oleh sang ibu secara simbolis dengan dililit kain jarik. Sedangkan sang ayah akan berjalan di depan mereka sembari membawa lilin. Prosesi ini sebagai simbol untuk melepas tanggung jawab orangtua calon pengantin wanita. Dalam acara ini ada beberapa piranti yang dibutuhkan yang jadi simbol tertentu. Lilin berjumlah 7 buah melambangkan jumlah hari dalam seminggu atau rukum iman. Kain putih yang menyimbolkan kesucian. Bunga 7 rupa berarti bahwa perilaku kita selama 7 hari dalam seminggu harus baik. Terakhir, bunga hanjuang yang menyimbolkan suami istri akan memasuki dunia baru yaitu berumah tangga.

5. Ngaras atau sungkem

https://www.instagram.com/p/BYX8UKbA1oP/?taken-by=thebridestory

Ngaras atau prosesi sungkeman ini bakal dilakukan sebelum siraman. Calon mempelai wanita akan sungkem sebagai proses meminta izin kepada orangtua. Nantinya, calon pengantin wanita juga akan mencuci kaki kedua orangtua.

6. Ngebakan/siraman

https://www.instagram.com/p/BYX168PAj2-/?taken-by=thebridestory

Prosesi ngebakan atau siraman adalah prosesi memandikan calon pengantin wanita. Tujuannya adalah supaya pengantin wanita bersih lahir dan batin. Prosesi ini diiringi musik kecapi dan suling. Calon pengantin wanita bakal menginjak 7 helai kain. Jumlah penyiramnya juga ganjil mulai dari 7, 9 atau 11. Urutannya bakal dimulai oleh ibu, ayah, lalu para sesepuh atau kerabat yang sudah menikah.

7. Potong rambut/ngerik

https://www.instagram.com/p/BYXqv5Dgrsd/?taken-by=thebridestory

Setelah itu, orangtua akan memotong rambut atau mengerik rambut calon mempelai wanita. Proses ini melambangkan cara untuk memperindah diri lahir dan batin. Setelah itu bakal dilanjutkan dengan proses ngeningan atau merias wajah.

8. Rebutan parawanten, suapan, hingga tanam rambut

https://www.instagram.com/p/BYYBw-XAFmQ/?taken-by=thebridestory

Rebutan Parawanten diadakan sembari menunggu calon mempelai selesai dirias, para tamu undangan akan rebutan hahampangan dan beubeutian. Selain itu bakal diadakan pembagian air siraman juga. Selanjutnya adalah acara potong tumpeng oleh kedua orangtua calon mempelai wanita, lalu menyuapi calon mempelai wanita sebanyak tiga kali untuk yang terakhir kalinya. Lalu ada prosesi tanam rambut dimana kedua orangtua akan menanam potongan rambut calon mempelai wanita di tempat yang telah ditentukan, biasanya di halaman sekitar rumah.

9. Ngeuyeuk seureuh

https://www.instagram.com/p/BYYVX1og0s-/?taken-by=thebridestory

Ini merupakan prosesi terakhir yang bakal digelar dan dipimpin oleh Nini Pangeuyeuk atau sang juru rias. Calon pengantin pria akan datang ke rumah calon pengantin wanita lalu mereka akan meminta restu pada masing-masing orangtua. Kemudian orangtua bakal memberikan nasihat lewat benda-benda yang memiliki lambang tertentu. Kedua calon pengantin akan duduk saling berhadapan kemudian mereka memegang ujung 7 helai benang kanteh yang memiliki panjang 2 jengkal. Lalu mereka akan meminta izin menikah kepada masing-masing orangtua.

Kemudian Nini Pangeuyeuk akan berdoa sembari menaburkan beras sedikit-sedikit kepada calon mempelai sebagi simbol hidup sejahtera. Kemudian, calon mempelai akan dipukul pelan dengan sapu lidi sembari diberi nasihat baik. Lalu kedua calon pengantin akan menggotong pakaian di atas kain pelekat yang melambangkan kerjasama keduanya dalam berumah tangga.

Prosesi selanjutnya, calon pengantin pria akan membelah buah pinang serta ayang jambe. Buah pinang lambang pasangan yang bisa menyesuaikan diri sedangkan mayang jambe lambang hati dan perasaan wanita yang halus. Lalu prosesi berlanjut kepada calon pengantin pria yang menumbuk alu ke dalam lumping yang dipegang oleh calon pengantin wanita.

Selanjutnya mereka akan membuat lungkun. Lungkun adalah 2 lembar sirih bertangkai berhadapan yang akan digulung menjadi satu dan diikat benang. Ini artinya mereka harus saling berbagi dan jika memiliki rezeki berlebih harus dibagikan. Kemudian prosesi selanjutnya adalah berebut uang yang ada di bawah tikar yang merupakan lambang lomba cari rezeki.

Setelahnya, bekas ngeuyeuk seureuh akan dibuang di perempatan jalan sebagai lambang membuang yang buruk dan siap menempuh kehidupan baru. Terakhir, menyalakan 7 buah lilin atau pelita sebagai lambang jumlah hari yang akan selalu diterangi dan penuh dengan pengharapan, kejujuran, serta rezeki. Berakhir sudah segala prosesi sebelum menikah ala adat Sunda. Selanjutnya akan diadakan akad dan juga pesta pernikahan. (tom)

spot_img
Trending
close