Don't be Captious

Jadi Berita, Ini Sebenarnya Asal Usul Kata Pribumi

Pidato perdana Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 mengundang perhatian publik. Pasalnya, dalam pidato perdananya itu, Anies menyebut kata pribumi. Meskipun bagi sebagian orang tak ada yang salah dengan penyebutan kata itu, beberapa orang menganggap kata itu memiliki unsur rasis dan diskriminasi. Lalu, sebenarnya dari mana asal kata pribumi ini?

Istilah pribumi ini sebenarnya adalah warisan dari zaman kolonial dulu. Menurut peneliti sejarah era kolonial Indonesia (Hindia Belanda), Andi Achdian, konsepsi pribumi berkembang seiring dengan datangnya kolonialisme Eropa. Istilah tersebut digunakan untuk mengkategorikan orang yang sebelumnya telah tinggal di wilayah tempat mereka berkuasa.

“Pada masa pra-kolonial konsep pribumi tidak dikenal. Konsep negara-bangsa juga tidak terlalu kuat. Orang-orang Eropa menamai orang-orang yang tinggal di pulau-pulau sebagai inlander yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Melayu Pasar sebagai pribumi,” ujar Andi seperti dikutip dari Tirtoid, Rabu (18/10/2017).

Andi menuturkan sebelum penggunaan kata ‘Indonesia’ menjadi populer di awal 1920-an, orang-orang yang tinggal di nusantara kerap menggunakan kata pribumi atau inlander untuk menyebut diri mereka.

Hal tersebut terjadi beriringan dengan klasifikasi rasial penduduk di Hindia Belanda. Undang-Undang Kolonial tahun 1854 menanamkan pemisahan rasial dalam 3 tingkatan status sosial, yakni Europeanen atau orang-orang kulit putih Eropa, Vreemde Oosterlingen (Timur Asing) yang meliputi orang (peranakan) Tionghoa, Arab, India, maupun non-Eropa lainnya, dan Inlander atau pribumi, yang kemudian diidentikkan dengan masyarakat lokal (ras Melayu), terlebih yang beragama Islam.

Orang Belanda dan orang Indonesia berdampingan (Thesubejo)

Menariknya, kata ‘vreemde’ yang berarti asing hanya disematkan pada kategori orang-orang Timur, tidak pada orang-orang Belanda atau Eropa yang notabene juga pendatang di nusantara. Ketiadaan kata ‘vreemde’ menyiratkan orang Eropa berkuasa atas tanah jajahan, beserta Pribumi dan Timur Asing yang tinggal di dalamnya. Konsekuensi dari pembedaan berdasar ras tersebut, menurut Dhaniel Dhakidae dalam “Cendekiawan dan Kekuasaan”, adalah pertarungan antara kaum inlander melawan vremde oosterlingen.

Mungkin selama ini kita yang mengaku-aku sebagai warga asli Indonesia memang tidak menyadari bahwa sebenarnya suku-suku yang ada di Indonesia dari Sabang sampai Merauke sebenarnya adalah bangsa pendatang. Menurut peneliti Eijkman Institute, Profesor Herawati, ciri fisik yang ada pada orang Indonesia kini diakibatkan oleh adanya pencampuran genetik yang terjadi di tubuh manusia. Peristiwa ini berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu dari sejumlah gelombang migrasi.

Gelombang migrasi pertama terjadi sekitar 60 ribu tahun lalu. Bermula dari Afrika, manusia menyebar ke berbagai daerah. Saat itu, kepulauan yang kita lihat di peta Indonesia belum terbentuk. Kalimantan, Jawa, dan Sumatera masih menjadi satu dataran luas yang disebut Sundaland dengan luas sekitar 1.800.000 Km. Kemudian, Wallacea menjadi daerah sendiri yang kini bisa dikenali dengan wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara dan Maluku. Sementara itu, Papua masih satu daratan dengan Australia.

Gelombang migrasi kedua terjadi sekitar 30 ribu tahun yang lalu dengan datangnya orang-orang Austro-asiatik. Antara lain mereka berasal dari Vietnam dan Yunan.

“Kemudian bercampur dengan yang (gelombang) pertama kan atau yang pertama tadi sudah jalan terus ke timur sampai ke Papua,” kata Herawati dalam acara Wallacea Week 2017 di Perpustakaan Nasional, dikutip dari Kompascom.

Gelombang migrasi ketiga datang dari Formosa atau Taiwan sekitar 5 ribu atau 6 ribu tahun yang lalu. Meski datang terakhir, Herawati berkata bahwa orang-orang Formosa juga turut berpengaruh terhadap bahasa astronesia yang sekarang digunakan.

Meski demikian, pencampuran genetika tak berhenti sampai di situ. Diapit oleh Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, Indonesia yang merupakan pusat perdagangan dunia memungkinkan percampuran genetik terjadi lebih banyak. “Jadi ketika DNA seseorang dites, nanti bisa didapatkan ada China, India, dan Eropa. Kalau Minang kita sudah periksa, ada Eropanya karena itu kawasan maritim,” kata Herawati.

Pusat perdagangan pada zaman dulu (CrazyDreamer)

Penelitian Herawati dan koleganya pada tahun 2017 menggunakan sampel DNA dari 500 orang yang berasal dari 25 tempat di regional Asia. Dia juga membandingkan genetika yang telah tersedia di bank genetika dari penelitian sebelumnya.

Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) itu menuturkan, dalam konteks indonesia, tidak ada genetika dominan yang menguasai dari barat ke timur. Dari ujung utara, genetika Austro-asiatik lebih banyak.

Adanya migrasi dan analisis DNA juga dapat menjelaskan keberadaan pribumi atau orang Indonesia asli. Bila pribumi sering kali diartikan sebagai orang yang telah mendiami suatu tempat selama beberapa generasi, sains berkata sebaliknya. “Pribumi itu 100 persen. Nah, yang 100 persen mana kalau kamu melihat hasilnya tadi? Tidak ada satupun yang 100 persen,” kata Herawati.

Menjelang kemerdekaan Indonesia, akhirnya para tokoh, seperti Ir. Soekarno, Tjipto Mangunkusumo, dan Amir Syarifudin menetapkan bahwa orang Tionghoa dan orang berdarah campuran lainnya ikut diperhitungkan sebagai orang Indonesia. Tentu saja dengan berbagai syarat, asalkan mereka sudah menetap di Indonesia, berbudaya Indonesia, dan berbahasa Indonesia. Namun, sayangnya konsep ini hanya bertahan hingga tahun 1965 saja, karena pada masa orde baru, lagi-lagi ada pengelompokan orang pribumi dengan orang non pribumi. Namun, ketika masa orde baru berakhir, kata pribumi dan non pribumi akhirnya dihapuskan. Artinya pada saat itu Gus Dur sudah menghapuskan konsep pribumi dan non pribumi sehingga tidak ada lagi diskriminasi.

Kini JB’ers jadi semakin paham mengapa pada akhirnya kata pribumi dan non pribumi menjadi dipermasalahkan. Karena pada dasarnya konsep ini sudah ditiadakan, mengingat pada masa pengelompokan antar pribumi dan non pribumi itu justru terjadi perpecahan. Sebaiknya kita kini hilangkan perpecahan, dan bersatu untuk kemajuan negara kita, Indonesia, tanpa mempermasalahkan suku, ras, atau agama masing-masing orang. (tom)

Mereka Juga Suka Berita Ini
Apa Komentarmu
Loading...