Don't be Captious

Salut, Anggota Brimob Madiun Ini Rawat dan Sekolahkan 64 Anak Kurang Mampu

Brigadir Rochmat dan anak asuhnya (Madiuntoday)

Seorang anggota Brimob biasanya memiliki postur tubuh yang besar, dengan wajah garang. Wajar saja jika ada orang yang merasa seram sata melihat wajah dari anggota Brimob. Namun hal itu nggak berlaku bagi salah satu anggota Brimob bernama Birgadir Rochmat Tri Marwoto.

Kisah Brigadir Rochmat menjadi salah satu kisah yang menginspirasi dan menyentuh hati banyak orang khususnya orang-orang di Indonesia. Rochmat yang bertugas di lingkungan Polres Madiun telah berbaik dan berbesar hati merawat puluhan anak yatim sejak sepuluh tahun yang lalu tepatnya tahun 2007.

Meski tak bergaji lebih, Brigadir Rochmat yang merupakan anggota Detasemen C Pelopor Satuan Brimob Polda Jawa Timur, Jalan Yos Sudarso No 90, Kota Madiun, nggak pernah menyerah berjuang menghidupi 64 anak asuhnya. Bersama istrinya, Rochmat bahu-membahu menghidupi dan menyekolahkan mulai anak yatim, anak telantar, hingga anak mantan pecandu narkoba.

“Anak yang pernah makan satu rumah dengan saya ada 64 anak. Ada yang tinggal dua bulan, ada yang tujuh tahun,” kata Rochmat seperti dikutip dari Kompascom, Rabu (29/11/2017).

Brigadir Rochmat (Facebook)

Pria paruh baya ini menceritakan bahwa niatnya membantu anak-anak kurang mampu adalah karena ia ingin meringankan beban mereka. “Saya sudah bertekad untuk menyekolahkan anak-anak sampai pendidikan yang lebih tinggi, agar ke depan bisa memiliki bekal hidup yang lebih baik. Jadi di rumah itu ya saya asuh seperti anak sendiri,” katanya.

Keinginan warga Dusun Jati, Desa Klagenserut, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, itu mengasuh anak-anak tak mampu muncul saat dia merasakan betapa sulitnya membayar biaya kuliah. Sekitar 10 tahun yang lalu, Rochmat mengikuti pendidikan di Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia di Jakarta. Tingginya biaya kuliah menjadikan ayah dua anak ini harus bekerja sampingan menjadi tukang ojek. Dari kerja sampingan itu, dia mengetahui bagaimana sulitnya mencari biaya untuk pendidikan.

“Saat kuliah di Jakarta, saya bekerja sampingan menjadi tukang ojek dari pukul 15.00 sampai pukul 21.00. Dari hasil ojek, saya mendapatkan tambahan pendapatan Rp 7 ribu hingga Rp 12 ribu,” kata Rochmat.

Berbekal pengalaman itu, Rochmat bertekad dalam diri. Rochmat berjanji kepada istrinya apabila mendapat rezeki berlebih akan diberikan kepada anak-anak yang kurang mampu.

Brigadir Rochmat (Facebook)

Walau harus hidup lebih sederhana dengan merawat puluhan anak kurang mampu, Brigadir Rochmat serta sang istri mengaku bahagia dan bersyukur. “Saya sama suami tidur di kamar. Anak-anak perempuan tidur di kamar yang sama, sedangkan yang laki-laki tidur di luar. Mereka kami perlakukan sama dan makan makanan yang sama, tidak ada yang berbeda. Kami tidak membuat sistem seperti di pondok pesantren maupun asrama, kami membuat rumah seperti rumah kami sendiri. Rumah kami diusahakan agar terasa seperti rumah mereka sendiri,” ungkap Helmiyah, istri brigadir Rochmat.

Untuk membiayai kebutuhan anak asuhnya, Rochmat harus memutar otak. Pasalnya, penghasilannya dari pekerjaan utamanya nggak mungkin bisa mencukupi kebutuhan semua anak asuhnya. Karena itulah, Rochmat bersama istrinya membuka aneka usaha. Usaha yang dibuka antara lain perkebunan, toko kelontong, dan toko buah.

Atas kebaikannya inilah, pertengahan bulan November 2017 brigadir Rochmat mendapatkan penghargaan dari Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin. Dia mengatakan ini sebuah kehormatan bisa hadir untuk memberikan penghargaan kepada anggota Polri yang berprestasi. Kepedulian Brigadir Rochmat Tri Marwoto terhadap kehidupan sosial memang patut diapresiasi. “Semoga ini bisa menjadi inspirasi bagi saya dan anggota lainnya,” ujar dia.

Salut atas semangatmu pak Rochmat. Kebaikanmu sungguh mulia. (tom)

Apa Komentarmu
Loading...