Mendapatkan Nafkah, Rejeki, dan Berkat itu Ibarat Makanan


Untuk tiba dengan selamat di meja makan kita, makanan yang kita makan sehari-hari itu melewati proses yang sungguh amat panjang. Begini contohnya:

1. Nasi: petani mencangkul dan membajak sawah dulu, memilih bibit padi yang akan ditanam, menyemaikan bibit itu, memberinya pupuk, mengairinya, membasmi hama-hamanya, lalu menunggu sampai padi-padi itu berbulir matang, kemudian memanennya, sesudah itu mengelupas kulitnya, baru mengarung-ngarungkan beras-beras itu; beras-beras itu kemudian dikumpulkan oleh tengkulak dan BULOG, dijual ke pasar, kita pilih lalu beli, barulah terakhir kita tanakkan menjadi nasi.

2. Sayur-mayur: petani menyiapkan lahan untuk ditanami bibit sayuran, memilih bibit dan menanamnya, mengairinya, memberinya pupuk, menjaganya dari serangan hama, menunggu hingga siap dipanen, memanennya, dan mengangkutnya ke pasar; kita memilih sayur-sayuran itu menurut jenis yang ingin kita masak dan makan, membelinya, dan terakhir merajang-rajang dan memasaknya.

3. Lauk-pauk: peternak dan petani unggas membeli unggas-unggas atau ternak-ternak muda untuk dipelihara, sedangkan nelayan melaut di tengah malam buta untuk mencari ikan; unggas-unggas atau ternak-ternak itu kemudian dirawat, dipelihara, dan diberi makan dengan penuh ketelatenan, sedangkan ikan-ikan itu ada yang dilelang, ada pula yang diawetkan dulu beberapa hari dengan garam atau es; setelah cukup dewasa, sapi atau kambing-domba atau ternak pedaging lainnya dibawa ke pejagalan, kemudian dagingnya dibawa ke pasar, sedangkan ternak perahan diambil susunya dan itulah yang dipasarkan, begitu pula dengan ikan, dibawa oleh para pedagang ke pasar, sementara ayam, bebek, dan unggas-unggas lain ada yang dibawa ke pasar sebagai pedaging, ada juga yang telurnya saja yang dibawa ke pasar; di pasar, kita memilih daging atau ikan atau telur yang kita inginkan, membelinya, mengolahnya, baru kemudian memasaknya.

Panjang sekali bukan,,,prosesnya sampai menjadi makanan? Begitu pula dengan berkat, nafkah, rezeki, dan hal-hal baik lainnya dalam kehidupan. Sebenarnya, semua hal yang baik sudah Tuhan tebarkan di seluruh semesta ciptaannya, menunggu kita, manusia, mengambilnya. Ada kalanya, Tuhan menyiapkan bibit padi (plasma nutfah) yang betul-betul paling primer sekali dan menyuruh kita memproses semua itu dalam prosedur yang demikian sulit dan panjang serta penuh halangan dan rintangan sebelum benar-benar pada akhirnya menjadi berkat, rejeki, nafkah, dan kebaikan bagi kita. Seseorang, misalnya, hanya dibekali oleh Tuhan otak yang cukup mumpuni untuk belajar; selebihnya, orang itu sendiri yang harus mengisi otaknya dengan ilmu-ilmu yang sesuai dengan panggilan hidupnya, bersekolah dari SD sampai perguruan tinggi minimal S1, mengeluarkan biaya dan menghabiskan waktu serta tenaga yang jelas tidak sedikit, kemudian harus juga mengikuti magang; tapi jikalau dia tekun menjalaninya, iapun akhirnya sukses menjadi pengacara ternama.

Tapi ada juga saat di mana Tuhan menyuruh kita melewati proses yang agak lebih singkat, tidak lagi dalam bentuk plasma nutfah pemberian-Nya itu melainkan sudah dalam bentuk padi (bahan mentah); namun tetap saja kita harus melewati serangkaian proses untuk mengolah bahan mentah itu supaya menjadi bentuk yang siap untuk kita â??konsumsiâ?. Contoh kasus, seseorang tidak cuma dikaruniai otak yang mumpuni tapi juga diberikan bakat khusus tertentu; namun tetap saja, selebihnya adalah tanggung jawab orang itu: dia harus mempelajari bidang yang menjadi bakatnya itu, mencari tempat latihan dan pelatih yang terbaik, terus berlatih dan berlatih dan berlatih, mengikuti serangkaian ujian dan lomba, mengalami rentetan kegagalan dan kekalahan; tapi jika dia terus bertahan dan menolak menyerah, diapun akhirnya menjadi finalis Indonesian Idol, bahkan mungkin menjadi juaranya, dan kemudian menjadi penyanyi yang sangat populer.

Pada kesempatan lain, Tuhan dengan murah hatinya memotong jalur yang harus kita tempuh sehingga menjadi jauh lebih pendek lagi: Ia tidak memberi kita sekadar bahan mentah, melainkan langsung memberi beras (bahan jadi); tapi sekali lagi, tetap, ada juga beberapa step yang harus kita lewati sebelum kita dapat menikmati berkat atau nafkah atau rejeki atau kebaikan itu. Contoh kasus: seseorang bernasib baik karena di kala orang lain begitu susah mencari pekerjaan, dia malah ditawari pekerjaan, dengan gaji yang lumayan pula; tapi selanjutnya, semua tergantung usahanya sendiri: kalau dia bekerja keras dan bekerja secara cerdas, inovatif dan kreatif, mampu menepis godaan dari perusahaan lain atau dari segelintir oknum rekannya untuk membelot, dan kuat bersabar sekian tahun lamanya dalam situasi kerja yang makin lama makin monoton dan membosankan bahkan cenderung semakin tidak kondusif, diapun akhirnya berhasil mencapai kursi pimpinan tertinggi di perusahaan itu dan menjadi pengusaha yang dikenal sangat sukses, bahkan terhitung sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia.

Namun tidak jarang juga, Tuhan Yang Mahabaik itu tidak sekadar menyediakan bahan jadi saja. Tidak! Yang Dia persiapkan adalah hidangan komplet-plet-plet di atas meja: nasi, sayur-mayur, lauk-pauk, air minum, bahkan lengkap dengan susu juga! Dan contoh kasus untuk hal ini begitu mudah karena begitu bertebaran di sekitar kita, bahkan tiap hari kita sendiri mengalaminya! Kekayaan orangtua, keberadaan keluarga dan sahabat, kesehatan tubuh, udara pagi yang segar, alam yang indah, dan sebagainya, dan sebagainya! Bukankah semua itu tinggal kita nikmati saja?

Tapi meski demikian, tetap saja, itu semua tidak akan menjadi berkat, nafkah, rejeki, dan kebaikan untuk diri kita kalau kita tidak mengambil piring, menyatukan semua makanan tersebut ke dalam piring, mengucap syukur atasnya, lalu menyantapnya. Walaupun di depan mata kita tersaji segala macam makanan yang lezat, bergizi tinggi dan higienis, juga mengundang selera, tetap saja kita tidak akan memperoleh manfaat apa-apa darinya jika kita hanya memandanginya saja. Biarpun segalanya sudah begitu siap tersedia, makanan itu hanya akan benar-benar memberi kesehatan dan kebugaran pada kita jika dan hanya jika kita menyuapnya ke dalam mulut, menikmatinya, dan mencernanya!

Intinya: hanya Tuhan-lah sumber segala berkat, nafkah, rejeki, dan kebaikan yang kita nikmati, tapi tidak peduli apakah proses yang kita lewati itu luar biasa panjang dan sulit atau amat sangat singkat dan mudah sekali untuk meraih berkat, nafkah, rejeki, dan segala kebaikan apapun, tetap saja ada tanggung jawab yang menjadi bagian kita untuk kita kerjakan supaya semua berkat, nafkah, rejeki, dan kebaikan itu sungguh-sungguh menjadi berkat, nafkah, rejeki, dan kebaikan â??kitaâ?! Sebab, Tuhan sama sekali tidak memiliki tanggung jawab untuk membuat kita kenyang: kitalah yang bertanggungjawab sepenuhnya atas hal itu!

Saya harap kalian cukup puas dengan pemikiran saya itu. Kalau tidak, yah, tidak apa-apa, toh saya bukan alat pemuas! 😀 (iky)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
50
Love
OMG OMG
40
OMG
Yaelah Yaelah
70
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
60
Keren Nih
Ngakak Ngakak
90
Ngakak