STORY: Pertobatan Sang Mucikari


Kisah ini adalah kisah pertobatan dari seorang pria yang dulunya berprofesi sebagai mucikari. Pria bernama Badika Alwan Napitu awalnya mencoba mengkonsumi ekstasi atau inex pada tahun 1995. Barang haram itu diperolehnya secara gratis dari rekannya.

Tak ingin mengharapkan barang tersebut secara gratis, Badika yang kerap dipanggil Iwan ini pun memikirkan cara bagaimana bisa membeli obat-obatan terlarang ini, apalagi harganya terbilang mahal.

Saat itu, Iwan ditawarkan pekerjaan membantu mucikari dengan mencari wanita untuk melayani tamu. Sontak, ia pun menerima tawaran tersebut tanpa memikirkan dampak kedepannya.

Pekerjaan ini dilakukannya dengan baik dan memuaskan mucikari tersebut. Ketika uang sudah ditangan, Iwan mulai lagi belanja Ekstasi dan senang dengan pekerjaannya yang mudah.

Dalam menjadi mucikari, Iwan hanya bermodalkan kata-kata untuk merayu para gadis untuk dijadikan PSK. Ingin mendapatkan uang lebih banyak ia kemudian memilih untuk bekerja sendiri. “Belajar sistem kerjanya, saya cari cewek dari luar kota. Pastinya cantik, putih dan muda. Dengan cara saya ngomong akhirnya mereka tertarik.” ujar Iwan, seperti dilansir Jawaban.com, Kamis (10/7/2014)

Pelanggannya banyak yang dari luar negeri, seperti Singapura dan Malaysia yang menggunakan jasanya. Hingga satu saat pelanggannya meminta wanita yang masih perawan. Iwan pun menyanggupinya dengan mencari wanita di desa.

Kala itu, Iwan datang ke rumah salah satu warga dan menemui orangtua calon pekerjanya. Tetapi yang disampaikannya adalah kebohongan. Iwan menyampaikan bahwa pekerjaannya di kota adalah menjadi pelayan restoran. “Hati kecil saya berkata kasihan juga orang tua ini, saya bohongin. Tapi hati yang sebenarnya berkata, sudahlah daripada kamu ga punya uang.” lanjutnya.

Akhirnya hilangnya rasa kasihan itu dan Iwan menitipkan banyak uang kepada orangtua wanita tersebut. Sampai di kota, Iwan mulai melancarkan rayuan dengan membuat wanita tersebut merasa sayang kepadanya. Dari situ dia jelaskan nanti akan ada tamu yang memberi uang banyak hanya dengan menemani tamu tersebut. Uang yang didapatnya kemudian digunakan untuk bersenang-senang di diskotik.

Selanjutnya, Iwan bertemu dengan teman lamanya bernama Boy yang juga pemakai di diskotik. Singkat cerita, Iwan memacari adik Boy dan Boy tidak terima sehingga menyerang Iwan. “Dia hajar dan pukul pake botol. Saya sempat kecewa dan berpikiran akan balas dendam dalam hati saya.” paparnya.

Waktu Boy dan teman-temannya lengah, Iwan pun kabur dan melarikan diri ke Jakarta dengan menumpang dirumah saudara. Satu saat Iwan dikenalkan dengan teman-teman saudaranya. Salah seorang melihat Iwan dengan tatapan yang kosong. Teman tersebut mengajaknya berbicara dan mengatakan, “abang percaya malam ini juga abang bisa dipulihkan Tuhan Yesus? Tuhan Yesus sayang sama abang.”

Lantas Iwan membalas dengan, “Tuhan kau bilang sayang samaku, Bapak saya aja ga pernah sayang samaku. Bagaimana Tuhan bisa sayang samaku?” Iwan mengenal bapaknya sebagai pribadi yang kejam. Batu dan kayu menjadi alat yang menghajarnya setiap hari. “Hati saya sangat sakit dan dendam dengan bapak saya,” ungkapnya.

Menurut Iwan, Bapaknya hanya sayang saat dia jatuh sakit. Marah, Iwan kemudian menarik baju teman tersebut, dan berkata “kalau saya tidak dipulihkan Tuhan saya hajar kamu,” ancamnya.

Kemudian teman tersebut memeluknya dan berkata, “Bapa, Engkau mengasihi anak ini. Lawat dia pulihkan!” Seketika Iwan menangis dan merasa hancur. Dia mengatakan sambil menangis bahwa dia manusia yang jahat dan banyak melakukan dosa. Iwan merasa dirinya sudah tidak berharga lagi.

“Saya minta ampun sama Tuhan. Yang Tuhan ingatkan pertama adalah Bapak saya. Kasihi bapakmu, kasihi dia.” tandasnya.

Melupakan kebenciannya Iwan langsung mendoakan bapaknya agar Tuhan memulihkan dan melawatnya. Langkah selanjutanya, Iwan bertekad di hatinya untuk membawa kembali perempuan-perempuan yang dulu telah dijerumuskannya untuk diselamatkan Tuhan. (nha)

 


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
80
Love
OMG OMG
70
OMG
Yaelah Yaelah
100
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
90
Keren Nih
Ngakak Ngakak
20
Ngakak