STORY: Siti Aminah, Dari Babysitter Hingga Lanjut S2


Keadaan ekonomi masyarakat Indonesia yang bisa dibilang terpuruk, membuat setiap orangnya harus kreatif agar bisa memenuhi kebutuhannya. Salah satunya dialami oleh Siti Aminah atau yang kerap disapa Mina. Dirinya harus berjuang untuk bisa membiayai hidup dan kuliahnya.

Kebutuhan hidup di Banda Aceh, tempat Mina kuliah, semakin hari semakin tinggi. Demikian juga untuk kebutuhan biaya kuliah. Sehingga Siti Aminah yang kuliah membiaya sendiri harus putar otak untuk mencari uang tambahan agar bisa melanjutkan studinya. Meminta pada Ibunya di Bener Meriah itu tidak mungkin. Syukur ibunya di Bener Meriah bisa makan dan membiayai adiknya yang masih kecil saat itu. Sehingga Mina tidak pernah meminta uang biaya kuliah pada ibunya.

Kemudian, Mina mencoba untuk membuat lamaran kerja di instansi pemerintah. Ini juga berkat saran dan masukan dari rekan-rekannya. Namun, lamaran yang dimasukkan di setiap instansi pemerintah semua ditolak, karena memang tidak ada lowongan kerja yang dibuka, apalagi Mina masih mengandalkan ijazah SMU. “Hampir semua instansi pemerintah sudah saya kirim lamaran kerja, bahkan pernah di kantor Gubernur waktu saya kirim lamaran, Satpam bilang tidak ada lowongan kerja di sini, apa lagi hanya ijazah SMU,” kata Siti Aminah seperti dilansir dari Merdeka, Senin (14/7/2014).

Selain mengirim lamaran di instansi pemerintah, Mina juga mengirim lamaran ke tempat lain. Mina juga pernah mengirim lamaran di sejumlah fakultas di Universitas Islam Negeri (UIN) Arraniry tempat ia selesaikan studi. Tekadnya hanya satu, yaitu bisa mendapatkan penghasilan untuk menyelesaikan studinya. Setelah lama berusaha, akhirnya Mina diterima di perpustakaan Fakultas Syariah UIN Arraniry yang dulunya masih bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Arraniry. Saat itu kepala perpustakaan Fakultas Syariat adalah Ali Abubakar. Di perpustakaan itu, Mina bekerja selama 3 bulan.

“Saya diterima di perpustakaan itu karena Pak Ali sayang sama saya, waktu itu gaji saya dikeluarkan uang dari kantong pribadi Pak Ali,” ujarnya.

Setelah lama bekerja di sana, Ali lalu tak bisa lagi membayar Mina, dan kemudian menawarkan Mina untuk menjadi babysitter anaknya. Mina pun setuju, dan dia pun menjadi seorang babysitter selama 1 bulan di tempat Ali Abubakar. “Saya sempat bingung cara mengurus anak-anak bapak itu, karena memang belum pernah punya pengalaman bekerja seperti itu, anak-anak yang saya urus itu berusia 3 sampai dengan 7 tahun,” katanya.

Tidak hanya sebagai babysitter, berbagai macam pekerjaan telah dilakukan Mina. Termasuk menjadi seorang penulis buku. Dia menjadi penulis buku Damai Usai Perang yang dikeluarkan oleh Lembaga Aceh Institut.

Setelah perjalanan panjang perjuangan menyelesaikan kuliah dengan biaya sendiri, Mina diterima di Central China Normal University (CCNU) Jurusan Magister Librarian and Science di Tiongkok. Mina mengaku, seluruh biaya kuliah di CCNU nantinya sepenuhnya dari beasiswa. Namun Mina tidak menyebutkan mendapatkan beasiswa dari mana. Akan tetapi, Mina sendiri sangat bersyukur bisa diterima melanjutkan S2 di negeri tirai bambu tersebut. “Alhamdulillah saya sekarang diterima di CCNU China, ini beasiswa,” tutur Mina.

Meski demikian, Mina harus menghadapi kendala lagi, lantaran keberangkatannya ke Tiongkok bulan September mendatang itu tersandung masalah keuangan untuk mengurusi paspor dan segala macam administrasi lainnya. “Saya butuh uang Rp 10 juta, jadi saya sampai saat ini belum ada uang sebesar itu, tetapi saya yakin, saya akan dapatkan uang itu dengan segala upaya yang akan saya kerjakan nantinya, Allah pasti akan membuka jalannya nantinya,” ujarnya. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
80
Love
OMG OMG
70
OMG
Yaelah Yaelah
100
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
90
Keren Nih
Ngakak Ngakak
20
Ngakak