Film Hijabers In Love Menuai Kontroversi?


Ichwan Persada, sang produser film “Hijabers In Love” yang akan tayang beberapa waktu mendatang, tampak sibuk dibandingkan biasanya. Pasalnya dirinya kebanjiran kritik di akun Twitter miliknya mengenai film yang diproduserinya itu, padahal filmnya sendiri belum tayang.

“Ya Allah.. Kenapa hijabers dicitrakan seperti ini? Kami hijabers tidak murahan, mengobral cinta…” kata salah satu pengguna Twitter mengkritik filmnya itu. Akun itu memiliki lebih dari dua puluh ribu follower. Maka, kontan followers-nya segera bereaksi. Puluhan di antaranya me-mention Ichwan, sang produser yang juga pemilik cerita asli, dan penulis skenario sekaligus penulis novelnya, Oka Aurora.

Ichwan dan Oka menanggapi sebagian mention orang yang memprotes film “Hijabers in Love”. “Nonton dulu filmnya ya. Setelah itu silakan dinilai,” tulis Ichwan menanggapi mention padanya. Oka menulis, “Maaf jika tak berkenan. Poster adalah konteks. Konten ada di isi film. Moga tak surutkan niat menonton.”

Ichwan dan Oka antara lain mendapat balasan seperti ini: “Maaf ya, tapi kami sebelum nonton sudah risih dengan poster itu. Kami, hijabers, tidak mungkin seperti itu.”

Kritikan itu awalnya datang dari poster film itu sendiri. dahulu. Di poster terdapat judul “Hijabers in Love” dengan font warna-warni khas remaja lengkap dengan tanda hati pengganti titik di huruf “i” kecil pada kata “Hijabers”. Kemudian, ada potret tiga sosok di poster itu, remaja SMA terlihat dari seragam putih abu-abu yang mereka kenakan. Dua remaja cewek berhijab duduk di kursi. Seorang remaja pria berdiri di belakang kursi.

Menarik memperhatikan ke mana arah pandang ketiga sosok di poster itu. Remaja putri berhijab di sebelah kiri tampak melirik cowok di belakang kursi yang berada di tengah. Sedang remaja putri berhijab satunya lagi, yang di sebelah kanan, tampak memandang ke kejauhan. Si remaja pria yang di tengah terlihat menatap dengan wajah dingin ke depan, tak melihat dua cewek berhjijab di kanan kirinya. Jika diperhatikan pula, tak ada persentuhan cowok dan cewek di poster itu. Ichwan sendiri sudah mengatakan kalau tidak ada masalah pada poster itu. “Kalau dilihat lebih detil, poster itu tidak bermasalah,” katanya saat peluncuran novel “Hijabers In Love”, seperti dilansir dari Liputan6, Sabtu (19/7/2014).

Kritikan juga datang dari sinopsis filmnya. Film ini menceritakan tentang Annisa gadis remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Tapi ia jatuh cinta pada Ketua ROHIS sekolah, Ananda namanya. Annisa yang tomboi dan senang main basket tiba-tiba memutuskan berhijab dan ikut ROHIS demi Ananda. Namun, Ananda seperti tak menyadari perhatian Annisa padanya. Pemuda itu malah bersikap lebih ramah pada Jelita, sahabat karib Annisa, gadis berhijab yang pendiam, lembut, dan senang membaca. Dalam bayangan Annisa, gadis salihah seperti Jelita-lah yang akan disukai oleh Ananda. Suatu hari, tanpa sengaja Annisa membaca puisi buatan Jelita dan mendapati bahwa diam-diam Jelita juga mencintai Ananda. Annisa pun dilema. Apakah ia harus menjaga persahabatannya dengan Jelita, atau mengungkapkan perasaannya kepada Ananda?

Dari sinopsis tersebut, banyak yang beranggapan kalau film ini adalah film cinta segitiga antara dua cewek berhijab dan pemuda ROHIS, dan menimbulkan spekulasi akan ada adegan bergandengan tangan antara cowok dan cewek yang bukan muhrim. Namun Ichwan mengatakan kalau untuk bisa mengetahui lebih jelas, maka novelnya harus dibaca dulu, baru menonton filmnya. Setelah itu penonton baru bisa menilai filmnya melanggar pagar-pagar norma agama atau tidak.

Yang jelas, Ichwan kemarin menegaskan, “Hijabers in Love bukan film religi, ini film remaja.” Namun, karena kisah remaja yang diangkat adalah mereka yang berhijab, tak ayal segala tanya dan dugaan filmnya bakal mengundang kontroversi mengemuka. Kita nantikan saja reaksi para penontonnya ketika film ini dirilis pada tanggal 4 September mendatang. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
20
Love
OMG OMG
10
OMG
Yaelah Yaelah
40
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
30
Keren Nih
Ngakak Ngakak
60
Ngakak