STORY: Tak Lulus SD, 3 Pria Ini Sukses Jadi Pengusaha


Kali ini, JadiBerita akan mengulas perjalanan tiga pria yang sukses menjadi pengusaha meski mereka tak memiliki pendidikan yang memadai. Simak cerita lengkapnya di bawah ini. Pria ini masing-masing bernama Komang, Ketut Sweda dan Wayan Sukre.

Ketiganya tidak memiliki hubungan keluarga dengan bapak Hosea dan ibu Herta. Namun mereka sontak mendapat perhatian dan perlakuan yang sama dengan kedua anak kandung pasangan Hosea-Herta. Bahkan, peranan keluarga ini sangat besar pengaruhnya bagi perubahan hidup ketiganya.

Seperti dilansir Jawaban.com, Rabu (20/8/2014), Ketut Sweda yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara itu sukses mengembangkan bidang usaha finishing furniture. Bahkan, bisnis yang dijalani Ketut sudah dipromosikan ke mancanegara.

Kemudian, Wayan Sukre berhasil menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Hukum. Saat masih kecil, mereka terpisah satu sama yang lain dan hidup dalam kemiskinan. “Saya bersaudara tiga orang. Kakak yang tertua namanya Komang Sutama, yang berikutnya Ketut Sweda, kemudian saya sendiri, Wayan Sukre. Saya sejak kecil hidup di desa.” ujar Wayan

“Saya dengar dari ibu saya, ketika saya berusia sekitar dua tahun ditinggal oleh bapak, sehingga saya tidak tahu gimana rasanya punya bapak. Saya ingin punya bapak seperti semua orang lain punya bapak, bisa sekolah. Sejak kecil saya dipisah dengan orang tua. Saya tidak pernah kumpul dengan keluarga sehingga saya merasa hidup sendiri.” tutur Ketut

Selama 4 tahun, Ketut tinggal dengan saudara dari kakeknya. Lalu pada tahun 1974, ia diajak oleh kakeknya ke Denpasar. Di kota inilah Ketut bertemu dengan Komang sanga kakak. Ketut pun diangkat anak oleh bapak Hosea dan tinggal bersama dengan kakaknya.

“Saya sampai di Denpasar, saya dipertemukan dengan saudara saya. Perasaan saya entah bagaimana, ternyata saya punya saudara, namanya Komang. Saya begitu bersukacita. Saya didisiplin oleh keluarga bapak Hosea. Saya memang dianggap mereka sebagai anak. Apapun yang dikerjakan saya selalu diberitahu bagaimana mengerjakannya. Sampai sekaerang saya terngiang-ngiang saat bapak mengatakan pada saya : ‘Ketut, jangan lupa berdoa, jaga kesehatan karena kesehatan itu sangat berharga. Jangan lupa berdoa,” imbuh Ketut

“Kakak saya selalu berdoa agar saya dapat berkumpul bersama-sama mereka lagi. Akhirnya hal itu menjadi kenyataan ketika terjadi gempa tahun 1976. Saya dicari oleh kakak saya ke desa, kemudian saya dibawa kakak saya ke Denpasar. Mulai saat itulah saya mengalami kehidupan baru di kota Denpasar bersama kedua kakak saya. Pagi-pagi saya ke sekolah tapi setelah pulang sekolah saya membantu kakak saya di toko.” kata Wayan

Sementara kedua kakaknya tidak melanjutkan sekolah karena bekerja, Wayan Sukre melanjutkan sekolahnya hingga mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi. “Ketika saya kuliah dan kemudian selesai, saya dipercayakan merintis perusahaan baru. Saya memimpinnya bersama dengan teman-teman dan semuanya berjalan cukup bagus.” lanjutnya.

Mereka pun tak pernah mengira bisa mendapatkan hidup yang layak dan meraih kesuksesan. Untuk itu, mereka tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Sang Khalik.

“Kalau saya mengingat kebaikan Tuhan rasanya sungguh tidak ternilai. Kalau saya pikir “umpama Tuhan tidak menyelamatkan saya’ mungkin kehidupan saya tidak seperti ini. Pasti saya akan jauh dibawah garis kemiskinan. Hingga sekarang saya mempunyai keluarga, punya istri dan anak yang sehat-sehat. Tuhanlah yang memperhatikan keluarga saya, saya sungguh terharu. Kalau saya mengingat-ingat kasih Tuhan itu, saya tidak bisa membayangkannya. Hingga saya dari kecil tidak pernah keluar air mata, biar bagaimanapun himpitan itu, tapi sekarang kalau saya membayangkan bagaimana Tuhan itu memperhatikan saya, keluar air mata saya.” tutupnya. (nha)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
10
Love
OMG OMG
100
OMG
Yaelah Yaelah
30
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
20
Keren Nih
Ngakak Ngakak
50
Ngakak