STORY: Alween Ong, Pemilik Clinic Handphone


Asal jeli, semua hal bisa menjadi peluang bisnis, meski kadang berawal dari sebuah keterpaksaan. Dari servis ponsel sampai mesin printing, wanita berusia 26 tahun ini berhasil menyulap modal Rp8 juta menjadi ratusan juta rupiah per tahun.

Anak kuliahan yang menjadi wirausahawan akibat tekanan ekonomi memang bukan cerita baru. Banyak orang bilang bahwa kreativitas kadang lahir dari keadaan yang sulit. Demikian pula perjalanan hidup Alween Ong, anak kedua dari lima bersaudara di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sulit.

Awalnya pemudi kelahiran Padang, 29 Januari 1985, mengikuti pola klasik, yaitu berjualan apa saja asal bisa menghasilkan uang. Misalnya, ia menjualkan buku-buku bekas temannya yang sudah tidak dipakai lagi. Jualan ikat pinggang, hingga bertindak sebagai â??makelarâ?? atau perantara bila ada teman yang ingin menjual kendaraan. la juga menjual ponsel titipan orang, dengan sistem komisi. Hasilnya, â??Lumayan, ada uang saku yang saya peroleh,â? katanya.

Kegiatan itu terus dilakukan Alween sampai suatu saat, ponsel temannya rusak. Anak muda sekarang, memang tidak mungkin hidup tanpa ponsel, Jadilah Alween yang awalnya iseng membantu memperbaiki ponsel itu, akhirnya tertarik untuk lebih serius. Mulailah dia belajarâ??kendad tidak formalâ??di selasela kuliahnya di Jurusan Sosial Politik Universitas Sumatra Utara, bagaimana cara memperbaiki sebuah ponsel yang rusak.

“Saya belajar secara otodidak saja. Mulai dari membaca buku, melihat teman memperbaiki ponsel, hingga otak-atik sendiri. Alhamdulilah, berkat tekad yang kuat, doa dan usaha, akhirnya saya bisa juga memperbaiki ponsel,” kata Alween seperti dilansir dari blog Wirasmada, Jumat (14/11/2014).

Itulah awal Alween membuka servis ponsel yang ia istilahkan sebagai â??Clinic Handphoneâ??. la merintis usahanya itu sambil kuliah dan sempat bekerja paruh waktu di sana-sini, mulai dari menjadi agen kartu kredit sampai kolektor sebuah penerbitan.

Alween membuka outlet pertamanya di pasar USU, Sumatera Utara. Dia mengerjakan segalanya sendirian. Dari menjadi pemilik outlet, memperbaiki ponsel, menjadi kasir, sampai membuka dan menutup toko. â??Kalau saya sakit, tokonya tutup,â? ia berkisah. Ternyata, outlet kecil itu punya banyak penggemar.

Salah satu sebabnya, tidak ada anak mudaâ??bahkan juga mereka yang berusia matangâ??yang tahan hidup tanpa ponsel. Sedikit rusak, pasti dibawa ke â??dokterâ?? atau Clinic Handphone. Dan Alween, yang mengerjakannya sendirian, dengan jasa yang paripurna, adalah pilihan terbaik.

Para â??penggemarâ??-nya pula yang kemudian mendorongnya mengikuti lomba Wirausaha Muda Mandiri pada 2008. “Awalnya pesimis. Orang lain yang ikut punya banyak anak bush. Sementara saya hanya sendiri begini,” kenangnya.

Namun, ternyata Alween terpilih sebagai salah satu pemenang. Modal Rp 8 juta yang ditanamnya untuk klinik ponselnya bukan hanya menghasilkan uang, tapi juga beroleh pengakuan dan penghargaan yang cukup bergengsi. Kejeliannya mengubah peluang usaha menjadi uang adalah salah satu kekuatan yang membuat para juri terpikat.

Ketika usahanya meningkat, Alween pun merekrut beberapa orang untuk menjadi stafnya. la juga memperluas usahanya tidak hanya sebagai gerai yang menawarkan perbaikan ponsel, tapi juga menjadi pusat pelatihan dokter ponsel, alias memberi pelatihan bagi orang yang ingin memperbaiki sendiri ponselnya atau ponsel orang lain. Untuk mempromosikan usahanya? Tentu saja Alween tak luput dari mengerahkan jejaring sosial, seperti Twitter dan Facebook, karena keduanya semakin banyak digunakan terutama oleh kalangan muda.

Semoga kisah Alween ini bisa mendoronga orang lain untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Karena jika manusia terus berusaha, maka di situ akan ada jalan. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
80
Love
OMG OMG
70
OMG
Yaelah Yaelah
100
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
90
Keren Nih
Ngakak Ngakak
20
Ngakak