Film Jokowi Adalah Kita Ditarik, Ada Apa?


Film “Jokowi Adalah Kita” sudah dapat surat tanda lulus sensor. Filmnya juga sudah dikenalkan pada media sejak jauh hari dan mendapat publikasi yang baik. Namun, setelah sehari edar, film tersebut malah ditarik dari peredaran oleh si empunya film sendiri. Ada apa gerangan?

Ramai diberitakan media, atas saran pendukung Jokowi, Bara JP, Produser K2K Production KK Dheeraj mengambil keputusan memundurkan jadwal penayangan sampai suasana kondusif.

“Ditunda penayangannya. Kenaikan harga BBM mengakibat situasi politik yang panas. Jadi kita tunggu. Kalau suasana aman baru diputar lagi,” ujar KK Dheeraj di kantornya hari Jumat lalu, seperti dilansir dari Liputan6, Sabtu (29/11/2014).

Kenaikan harga BBM bersubsidi membuat gejolak di berbagai sektor. Sementara film “Jokowi Adalah Kita” memberi pesan positif tentang perjuangan Jokowi. “Sayang kalau gara-gara panas BBM lantas malas nonton filmnya. Karena banyak contoh teladan di dalamnya,” paparnya.

“Jokowi Adalah Kita” merupakan film kedua yang mengangkat kehidupan Jokowi di layar lebar. Tahun lalu, rumah produksi yang sama membuat “Jokowi” yang dibintangi Teuku Rifnu Wikana sebagai Jokowi dan Prisia Nasution sebagai Iriana, wanita yang kemudian diperistri Jokowi. Film Jokowi rilisan 2013 mengisahkan jatuh-bangun perjuangan pemuda bernama Joko Widodo yang berasal dari keluarga miskin hingga jadi pengusaha mebel yang sukses.

Dalam beragam kesempatan, KK Dheraaj selalu bilang bahwa film “Jokowi” maupun “Jokowi Adalah Kita” bukanlah film politik. Namun sulit dipungkiri, ketika sebuah film mengangkat seorang figur publik yang menjadi politisi, nuansa itu tetap terasa kental.

Namun apa masalahnya sehingga film “Jokowi” dinilai biasa saja dan “Jokowi Adalah Kita” ditarik? Pada film “Jokowi” masalahnya terletak pada production value. Saat wig yang dikenakan Rifnu Wikana di “Jokowi” terlihat seperti tempelan, kita wajib mempertanyakan film ini rasanya tak dibuat dengan serius.

Sementara itu pada film “Jokowi Adalah Kita” yang terjadi bisa dibilang sebuah bencana marketing. “Jokowi Adalah Kita” rilis berdekatan dengan sang tokoh resmi dilantik jadi presiden RI. Hal itu dianggap momen pas karena sang tokoh sedanng di puncak popularitasnya. Tapi kemudian, setelah resmi jadi pesiden, pada tanggal 17 Oktober silam, Jokowi malah menaikkan harga BBM bersubsidi. Walau kebijakan ini niatnya baik, tetap saja dianggap tak populer bagi orang kebanyakan. Gara-gara menaikkan BBM, Jokowi tak lagi populer.

Bencana marketing datang seperti gempa bumi. Tidak ada seorang pun yang bisa memprediksi kedatangannya. Yang dilakukan KK Dheraaj selaku produser “Jokowi Adalah Kita” sebetulnya tepat. Menarik film agar tak merugi lebih jauh di tengah popularitas yang menurun. Yang bisa dilakukannya kini adalah mencari momen yang tepat kembali untuk merilis filmnya. (tom)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
30
Love
OMG OMG
20
OMG
Yaelah Yaelah
50
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
40
Keren Nih
Ngakak Ngakak
70
Ngakak