Benarkah Manusia Tidak Mengejar Kesempurnaan?


Kita sering mendengar prinsip bahwa manusia tidak sempurna. Jadi, jika seseorang melakukan kesalahan, hal tersebut wajar-wajar saja. Nyatanya, tidak demikian. Prinsip manusia tidak sempurna hanya berlaku jika kita melakukan kesalahan. Sebaliknya, jika orang lain berbuat salah, kita tidak memaafkannya karena dalam bawah sadar kita, ada tuntutan bahwa manusia (lain) mesti sempurna. Nah, berkaitan dengan kesempurnaan ini, kita sering mendengar kisah pencarian Plato terhadap ranting kebenaran berikut.

Kisah Kesempurnaan Ranting

Plato selalu bertanya masalah kesempurnaan kepada gurunya. Sang guru, dikarenakan kebijaksanaannya, tidak mau langsung menjawab masalah Plato. Guru ini berpendapat, semua orang baru bisa mengambil pelajaran dari sesuatu yang dialami sendiri, bukan dari buku, kutipan, atau melihat kejadian yang menimpa orang lain. Maka, suatu hari sang guru berkata pada Plato, â??tolong kau masuk ke dalam hutan belantara di hadapan kita. Cari dan ambillah satu ranting yang paling baik. Pastikan ranting tersebut benar-benar yang terbaik sehingga kau tidak akan merasa menyesal di kemudian hari atas pilihanmu.â?

Plato mematuhi ucapan sang guru. Tanpa memedulikan keselamatannya sendiri mengingat ada kemungkinan di hutan tersebut terdapat naga raksasa yang setiap saat memangsa siapa pun yang berani masuk ke wilayahnya, Plato masuk hutan, mencari ranting terbaik ke sana kemari. Kadang, ia tertarik pada salah satu ranting. Namun, saat itu pula muncul suara di dalam hatinya, â??kau akan menyesal kalau mengambil ranting tersebut. Siapa tahu di depan sana ada ranting yang lebih baik.â?.

Demikianlah seterusnya. Setiap kali Plato menemukan ranting, setiap itu pula hatinya berpaling. Akhirnya Plato datang ke tempat semula, menghadap gurunya, tanpa membawa apa pun. Sang guru tentu saja mempertanyakan hal tersebut.

â??Kau hanya kusuruh mencari satu ranting. Apa beratnya hal tersebut? Mengapa kau tidak mendapatkannya? Ayo, kembali ke hutan, dan temukan!â? kata sang guru setengah membentak.

Plato bergegas lari ke hutan. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengambil salah satu ranting yang tadi sempat dipilihnya (karena tadi keinginan memiliki kesempurnaan menyelubunginya, ranting tadi tidak jadi diambilnya). Dengan cepat pula, Plato kembali ke hadapan gurunya dengan ranting tersebut. Kali ini, sang guru mengubah air muka. Ia tampak lebih bersahabat dan tersenyum.

â??Muridku yang baik, sekarang ceritakan alasanmu memilih ranting itu,â? kata sang guru.

Dengan sedikit tergagap, Plato berkisah, â??Guru, pada pengalaman pertama mencari ranting, saya memeroleh pelajaran. Setiap kali mendapatkan sebuah ranting, saya selalu beranggapan ada ranting yang lebih baik di depan sana setiap kali mendapatkan sebuah ranting. Oleh karena itu, ketika sampai di ujung hutan, saya justru tidak mendapatkan apa pun. Pada pengalaman kedua, saya sadar, jika saya terus-menerus berpikir seperti saat pengalaman pertama, saya tidak akan mendapatkan satu ranting seperti yang diperintahkan guru. Padahal, tugas saya adalah mendapatkan ranting. Oleh karena itu, saya mengambil ranting ini. Walaupun ada ranting yang mungkin lebih baik, saya mencukupkan diri pada ranting ini saja.â?

Sang Guru tersenyum dan berkata, â??muridku, demikianlah pilihan-pilihan dalam hidup. Pengalamanmu yang pertama, adalah pengalaman semua orang dalam menemukan cinta pertama. Mereka selalu mencari yang paling sempurna bagi dirinya. Akan tetapi, hingga ujung waktu, mereka tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan karena terlalu banyak memilih. Pengalamanmu yang kdua, adalah pengalamanmu kelak ketika menikah. Kala itu kau menekan keegoisan dirimu. Kau tahu ada yang lebih baik, tapi kau mencukupkan diri; tetap berpegang teguh pada ranting yang kaudapatkan dengan susah payah.â?

Ruang Ketidaksempurnaan

Kisah di atas, dalam beberapa versi, ditujukan kepada manusia agar tidak terlalu tinggi mencari kesempurnaan. Diibaratkan, pernikahan adalah pengalaman Plato dalam mendapatkan ranting kedua. Ada ranting yang lebih baik, tapi ia berpuas diri pada ranting yang sudah dipilihnya. Secara umum, Plato dianggap sukses menekan ego dirinya. Ia berhasil menyadari konsep umum bahwa kesempurnaan tidak pernah ada di dunia, sejauh apa pun manusia mencarinya, yang ada justru penurunan kualitas kesempurnaan dari waktu ke waktu.

Dalam pemahaman yang lebih dalam, kisah ini membuat kita menyadari bahwa terdapat perbedaan besar antara keinginan dan kebutuhan. Keinginan adalah penyebab tindakan awal Plato yang tidak memilih ranting apa pun sedangkan kebutuhan adalah penyebab tindakan Plato memilih salah satu ranting. Seringkali dalam hidup orang yang mengunggulkan keinginannya, tidak mendapatkan apa-apa sedangkan orang yang menyadari bahwa yang penting ia memenuhi kebutuhannya, akan mendapatkan â??berkahâ? dari kemampuannya berpuas diri. Bahkan, ditekankan pula, jika manusia berpuas diri pada pencukupan kebutuhannya, niscaya tanpa diminta, Tuhan akan membuat keinginannya terpenuhi tanpa ia berharap keinginan tersebut terpenuhi.

Dalam pengalaman yang lebih jauh lagi, kisah Plato dan ranting kebenaran di atas bisa dipahami dalam perspektif berbeda. Plato sebenarnya gagal dalam ujian yang diberikan oleh gurunya. Namun, alih-alih menyadarkan kegagalan Plato, guru tersebut justru membenarkan hasil yang kurang terpuji, kala Plato memilih ranting kurang baik padahal ada yang lebih baik. Alasan sang guru sangat manusiawi dan luar biasa bijaksana. Kegagalan Plato mendapatkan ranting terbaik tersebut ternyata mampu membuat orang lain berpikir lebih baik tentang ketidaksempurnaan hidup.

Plato sendiri, sudah semestinya tidak berpuas diri dengan keadaannya. Bagaimana pun, setiap orang harus berhasil mendapatkan ranting terbaik; bahkan meski pengetahuannya tentang kesempurnaan sangat terbatas.

Meskipun kesannya sangat kejam dan menuntut kesempurnaan yang berlebihan, paksaan agar Plato mendapatkan ranting terbaik ini mampu meminimalisasi berbagai macam dalih manusia ketika gagal. Biasanya, jika manusia mengalami nasib seperti Plato, gagal dalam â??percobaan pertamaâ?, mereka akan beralasan, â??aku tidak bisa karena ini dan ituâ? sambil berharap ada kesempatan kedua. Manusia seharusnya memang sempurna dan melupakan dalih apa pun. Dengan demikian, mereka akan terbiasa untuk bertanggung jawab dan menerima apa yang menjadi kesalahannya. Seorang guru sufi ternama, Dzun-Nun al-Mishri, berkata, â??Manusia biasa (awam) menyesali dosa-dosanya; sedangkan manusia pilihan menyesali kelalaiannya.â?

Tulisan ini bersama beberapa tulisan lain akan diterbitkan dalam buku Dunia Sufi (2011, Fatima Press)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
60
Love
OMG OMG
50
OMG
Yaelah Yaelah
80
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
70
Keren Nih
Ngakak Ngakak
100
Ngakak