Adam Adalah Manusia Pertama (?)


Ada titik yang memungkinkan perseteruan agama dan sains (modern) tidak terlerai; yaitu tentang konsep manusia pertama. Dalam agama Semit (Yahudi, Nasrani, dan Islam) dijelaskan bahwa manusia pertama adalah Adam. Jika dihitung berdasarkan runutan keturunan Adam hingga saat ini, konon Adam baru muncul pada 6000 SM. Sementara itu, sains (modern), terutama teori evolusi, menyandarkan diri pada konsep bahwa manusia saat ini berasal dari manusia-kera; yang jika ditelusuri berasal dari makhluk X, yang melahirkan kera dan manusia-kera tersebut.

Artinya, manusia pertama sudah ada puluhan bahkan mungkin ratusan ribu tahun lalu. Dengan demikian, bagi orang yang percaya teori evolusi (plus memiliki agama), mungkin saja Adam dan Hawa tidak setampan dan secantik yang kita bayangkan. Mungkin pula Adam dan Hawa bisa diartikan sebagai manusia â??cerdasâ? pertama. Jika demikian, tentu silsilah dalam kitab suci bisa saja salah mengingat manusia â??cerdasâ? pertama tak mungkin baru muncul pada 6000 SM. Jadi, mana yang lebih benar? Agama atau sains?

Penjelasan serumit dan secanggih apa pun barangkali hanya menyisakan ruang kekecewaan bagi salah satu pihak yang teorinya dipinggirkan, entah agamawan atau evolusionis. Yang perlu dicermati baik oleh agamawan dan evolusionis, meskipun Adam dan Hawa memang mencitrakan â??manusia pertamaâ?, benarkah Adam dan Hawa mutlak merupakan gambaran â??manusia pertamaâ? tersebut?

Penjelasan Tentang Ruh dan Jiwa

Jauh-jauh hari, dalam era tradisional, manusia menyadari bahwa dirinya terdiri dari tiga entitas dasar yaitu (1) tubuh, (2) jiwa, dan (3) ruh. Konsepsi inilah yang mendasari ucapan â??siapa yang mengenali dirinya; berarti mengenal Tuhannyaâ? yang kadang-kadang dianggap sebagai hadis. Dengan pemahaman atas tiga entitas dasar ini, manusia pada era tradisional menciptakan karya-karya fiktif yang kita kenal sebagai dongeng (penidur anak). Sebenarnya, awalnya dongeng-dongeng tersebut, mulai dari dongeng Herkules yang mesti melakukan 12 tugas rahasia hingga Si Tanduk Panjang di Tapanuli, bertujuan agar sejak dini manusia mengenali dan memahami tiga entitas dasar ini.

Adam Sebagai Ruh dan Hawa Sebagai Jiwa

Demikian pula dengan kasus Adam dan Hawa —terlepas mereka adalah manusia pertama atau bukan—. Perubahan redaksi kisah diturunkannya Adam ke dunia yang berubah (dari Injil ke Alquran), bukan semata-mata masalah â??sejarahâ?. Melainkan, juga penyempurnaan konsep tentang jiwa dan ruh tersebut. Adam adalah ruh murni; yang dekat dengan Tuhan atau ruh hakiki. Sementara itu, Hawa yang konon diciptakan dari tulang rusuk Adam, sebenarnya merupakan tamsilan bahwa jiwa adalah bagian lain ruh yang tercerabut dari kemurniannya.

Jadi, Hawa adalah jiwa (liar). Atas dasar keliaran inilah, Hawa digambarkan menjadi perayu Adam untuk memakan buah pengetahuan baik dan buruk (dalam Islam diidentifikasikan sebagai buah pohon khuldi atau biji gandum). Artinya, jiwa, yang dipenuhi keinginan-keinginan, senantiasa â??membujukâ? ruh untuk lepas dari kemurniannya. Buah pengetahuan baik dan buruk sendiri bisa jadi merupakan tamsilan ketergelinciran ruh dan jiwa untuk masuk ke dalam tubuh; kendaraan ruh dan jiwa selama berada di dunia. Perjalanan Adam (dan Hawa) hingga akhirnya kembali ke surga bisa jadi menunjukkan perjalanan yang mesti ditempuh setiap manusia (yang entitas aslinya ruh dan jiwa, bukan tubuh) untuk kembali kepada ruh hakikinya; yang akan terjadi pasca kematian.

Dengan melihat kemungkinan Adam dan Hawa adalah tamsilan ruh dan jiwa, bisa jadi kita tidak akan terlalu ribet dengan permasalahan siapakah manusia pertama. Setidaknya, ada hal yang lebih penting daripada pembacaan kitab suci yang didasarkan pada pemahaman literal belaka (atau pemahaman yang sekalipun â??khususâ?, hanya melihat sisi eksoteris agama). Pada hakikatnya, toh ruh memang entitas pertama dari diri manusia yang sekarang terjebak dalam tubuh (yang menua dan membusuk di dunia ini).


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
100
Love
OMG OMG
90
OMG
Yaelah Yaelah
20
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
10
Keren Nih
Ngakak Ngakak
40
Ngakak