Sebuah Sistem Kacau Bernama Negara (?)


Negara secara umum didefinisikan sebagai sebuah daerah territorial yang rakyatnya diperintah oleh sejumlah pejabat (birokrasi). Para pejabat ini diperbolehkan untuk menuntut ketaatan rakyatnya pada peraturan yang dibuat pejabat tersebut melalui kekuasaan yang sifatnya monopolistis. Secara ekstrem, rakyat wajib mutlak untuk patuh pada peraturan buatan birokrat pengatur negara tersebut. Entah peraturan tersebut didalihkan demi kepentingan rakyat atau sebenarnya demi menggemukkan kekayaan atau kedudukan pejabat, tidak ada yang benar-benar bisa memastikan kecuali si pejabat tersebut. Bahkan, kadang kepentingan terselubung para pejabat disusupkan pada sebuah proyek atas nama rakyat.

Dikuasai Segelintir Orang

Jika kita sedikit berpikir â??gampanganâ?, kita bisa melihat bahwa dalam negara, hanya ada segelintir orang yang berkuasa. Segelintir orang ini, yang di Indonesia barangkali jumlahnya kurang dari 0,001 % jumlah rakyat, seolah bisa membunuh atau membangkitkan kembali seorang rakyat dari kematiannya.

Penciptaan Musuh Bersama

Di sisi lain, segelintir orang yang mengatur negara ini bisa menghasilkan â??bencana terselubungâ?. Atas dasar kebersatuan seluruh elemen dalam negara, pihak pengatur negara, entah melalui intelijen atau badan terselubung yang tidak terketahui rakyat, menciptakan rasa permusuhan terhadap sebuah kelompok yang dianggap membahayakan.

Kasus pemerintahan Orde Baru yang melulu menyalahkan PKI pasca peristiwa G30S bisa dijadikan contoh. Orde Baru secara jitu mampu membaca keadaan mental rakyat Indonesia yang saat itu membenci PKI. Ditambah dengan isu kudeta PKI yang menewaskan beberapa jenderal Angkatan Darat, rakyat, terutama yang beragama Islam, menganggap PKI berniat menghancurkan Indonesia. Apalagi sejak awal sudah ada bibit-bibit pertikaian antara PKI dengan rakyat Islam di tingkat daerah. Kader PKI konon kerap dianggap ateis dan melecehkan simbol-simbol agama Islam seperti masjid, ayat Alquran, dan salawat Nabi.

Alhasil, Orde Baru seolah cukup â??menarik picuâ? sehingga terjadi pembantaian besar-besaran atau penistaan terhadap orang-orang yang dianggap berafiliasi dengan PKI. Pada zaman Orde Baru, bahkan hingga saat ini, ucapan â??dasar PKIâ? biasanya ditujukan kepada para pengkhianat seolah semua pengkhianat adalah PKI dan PKI hanya terdiri dari para pengkhianat.

Di tingkat internasional, kasus yang sama diterapkan Amerika Serikat ketika WTC (dan Pentagon) diserang oleh para teroris â??Islamâ?. Runtuhnya WTC yang merupakan simbol keagungan Amerika Serikat, membuat rakyat mudah terpancing apa pun ucapan pemerintahan negara adidaya tersebut. AS tinggal mengarahkan tuduhan kepada Usamah bin Ladin dan Taliban yang konon menjadi bekingnya (terlepas Usamah benar-benar terlibat dalam WTC atau tidak). Umat Islam di seluruh negara Eropa juga terkena imbas atas tuduhan ini dalam beberapa tahun. Meskipun kelak terbukti bahwa Usamah bin Ladin tidak pernah bersembunyi di Afghanistan tempat Taliban pernah berkuasa, setidaknya AS berhasil menduduki Afghanistan dengan menggunakan konsep â??musuh bersamaâ? ini.

Adu Domba Dua Kelompok

Keburukan lain dari sistem negara yang berhak mengendalikan rakyatnya dengan cara-cara terselubung demi â??bertahannya negaraâ? adalah â??hak khususâ? negara untuk mengadu-domba sebuah kelompok masyarakat dengan kelompok lain. Contoh yang paling mudah tentu kelompok agama yang memang memiliki fanatisme sempit yang tinggi.

Bukan tidak mungkin konflik Poso yang melibatkan agama Islam dan Nasrani sebenarnya digunakan oleh oknum-oknum tertentu, semisal militer, demi memperkaya diri atau demi idealitas semu bernama â??Bhinneka Tunggal Ikaâ? versi oknum tersebut.

Belum lagi adanya kemungkinan bahwa organisasi-organisasi ekstrem Islam yang lebih mengutamakan otot daripada otak (padahal dalam Alquran ditegaskan bahwa manusia mesti banyak berpikir) ditunggangi negara. Tujuannya, mungkin mengalihkan isu. Mungkin pula demi menjaga keterikatan rakyat terhadap Indonesia. Bayangkan bom Ritz Carlton dan J.W. Marriot 2009 yang secara jitu bisa memberikan berkah bagi pihak penguasa. Setidaknya, rakyat kembali perhatian terhadap pemberantasan terorisme berkedok agama.

Jika teroris tersebut memang benar-benar ingin memusnahkan â??simbol kafirâ? (dan konon Manchester United adalah simbol kafir yang diincar) sekaligus menghancurkan simbol kapitalisme, agak aneh bom tersebut diledakkan sehari sebelum para pemain Setan Merah menginap di hotel. Bukankah lebih baik, dari sudut pandang teroris tersebut, untuk â??menghilangkanâ? para pemain Manchester United tersebut pada hari-H? Kecuali, teroris tadi sudah dipesan agar cuma â??menakut-nakutiâ? rakyat Indonesia yang kadung ingin melihat Wayne Rooney dkk. bermain di Gelora Bung Karno.

Maka, dari sekian kemungkinan, tidak salah jika ada sebutan bahwa negara â??adalah  bentuk  pengakuan bahwa masyarakat di dalamnya  terlibat dalam kontradiksi yang tak terpecahkan dengan dirinya sendiri;  bahwa masyarakat telah terpecah belah menjadi segi-segi yang berlawanan yang tak terdamaikan. Dan, masyarakat tersebut tidak berdaya melepaskan diri mereka  dari keadaan ini.â? Kala negara dipertahankan, tentu mesti ada upaya otoriter para penguasanya yang cuma sedikit itu untuk mencegah kontradiksi tadi dengan cara apa pun. Kata Marx, â??negara tidak lain hanyalah mesin yang dipakai oleh satu kelas untuk menindas kelas lain.â?


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
10
Love
OMG OMG
100
OMG
Yaelah Yaelah
30
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
20
Keren Nih
Ngakak Ngakak
50
Ngakak