Iblis: Pengingkar atau Pencinta Tuhan?


Banyak penggemar filsafat agama yang sering memuji Iblis dalam peristiwa diturunkannya Adam ke dunia. Terutama ketika Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Iblis dimuliakan sebagai mahluk pencinta Allah yang sejati.

Iblis Adalah Makhluk Yang Hanya Mencintai Allah?

Konon, penolakan Iblis ini disebabkan kesetiaannya kepada Allah. Iblis tidak mau bersujud kepada makhluk; ia hanya mencintai Sang Pencipta. Dengan demikian, justru iblislah yang menampilkan sikap beragama yang paling sejati: meyakini tiada Tuhan selain Allah. Bersujud (menyembah) Adam, bahkan atas perintah Tuhan sekalipun, adalah perbuatan syirik yang mesti dihindari.

Maka, orang yang mempercayai bahwa iblis mengusung kebenaran dalam penolakan sujudnya kepada Adam, kadang beranggapan bahwa ia berada satu tingkat di atas umat beragama dalam memahami agama. Tentu anggapan ini agak rancu. Jika umat beragama pada umumnya menyalahkan iblis dan orang tersebut membenarkan iblis, bukankah kedua belah pihak sama-sama melakukan pembenarannya sendiri tentang iblis? Maksudnya, mereka hanya melihat iblis dari salah satu sudut pandang, buruk semata dan baik semata.

Membaca Ulang Kitab Tawasin

Sebelum lebih jauh, agak menarik jika kita menelusuri dari mana paham â??pembenaran penolakan sujud Iblisâ? ini disebarkan. Kemungkinan orang-orang yang berpendapat seperti ini, terpengaruh atas selentingan pembacaan Kitab Tawasin karya Husayn bin Mansur Al-Hallaj, seorang tokoh sufi yang mati syahid dengan cara dipotong-potong tubuhnya pada masa pemerintahan Khalifah Al-Muqtadir dari Bani Abbasiyah.

Dalam kitab Tawasin, Al-Hallaj tidak sungkan untuk memuji Iblis dan Firaun (secara umum disebut raja), lawan Nabi Musa. Bagi Al-Hallaj iblis adalah teman dan Firaun adalah gurunya. Orang yang terlalu cepat menyimpulkan, pasti berpendapat bahwa Al-Hallaj sesat. Mungkin pula sebaliknya, ada yang berpendapat Al-Hallaj tengah mendekonstruksi pemikiran umum agama. Namun, lagi-lagi kita mesti menahan diri.

Iblis Benar Sekaligus Salah

Al-Hallaj memang menyebut iblis sebagai temannya. Ia juga berargumen bahwa Iblis adalah makhluk yang bersetia hanya kepada Allah. Namun, ini adalah pendapatnya dalam satu sisi. Para sufi terbiasa menggunakan beberapa sudut pandang dalam berpendapat. Maka, kita juga perlu melihat sisi lain dari argumen Al-Hallaj.

Al-Hallaj menyatakan iblis sebagai temannya berdasarkan konteks kesamaan â??nasibâ? keduanya. Iblis â??dihinakanâ? Allah dari surga ketika menolak sujud kepada Adam. Sementara itu, Al-Hallaj dihukum gantung dan tubuhnya dibakar oleh sesama umat Islam.

Namun, di sisi lain Al-Hallaj juga menyalahkan iblis. Bagaimana pun, di alam ruh, satu-satunya yang menjadi patokan adalah perintah Allah. Maka, seberat apa pun perintah tersebut, pengingkaran terhadapnya jelas merupakan pelanggaran kodrati alam ruh. Artinya, di satu sisi iblis benar dalam menolak menyekutukan Allah. Tapi, di sisi lain ia juga salah karena melanggar perintah Allah.

Tuhan Senantiasa Transenden, Bahkan Ketika Ia Dianggap Imanen

Konon, penggantungan Al-Hallaj disebabkan ucapannya, â??Ana Al-Haqqâ? (Akulah Tuhan). Di sinilah letak alasan Al-Hallaj menyebut Firaun sebagai guru. Firaun juga pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan Musa. Tentu maksud â??guruâ? di sini bukanlah â??guru yang sebenar-benarnya guruâ?. Al-Hallaj hanya â??meniruâ? ucapan Firaun dalam konteks yang sama sekali berbeda. Hanya kata-kata mereka yang sama, namun keadaan batin Al-Hallaj dan Firaun sama sekali berbeda.

Al-Hallaj yang berkata â??Ana Al-Haqqâ? ini sendiri dalam kehidupannya tidak pernah berpendapat bahwa Tuhan adalah sosok imanen, yang bisa menyatu dengan makhluk-Nya. Dalam beberapa aforismenya, Al-Hallaj senantiasa menampilkan Tuhan sebagai sosok yang jauh tak terhingga bahkan meski Ia begitu dekat dengan manusia. Kalau disebut Al-Hallaj sebagai pelaku syirik atau pendusta, nyatanya ia terbiasa salat 500 rakaat setiap harinya.

Jadi, jika ada pihak yang hanya menggunakan salah satu sudut pandang saja dalam mengadili iblis (iblis benar semata atau salah semata), orang tersebut bisa dipastikan kurang adil dalam bersikap. Apalagi jika orang tersebut menganggap bahwa iblis benar. Ia tidak hanya salah mengolah referensi, tetapi juga â??sok dekonstruktifâ? padahal tidak ada yang perlu didekonstruksikan dalam agama.


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
50
Love
OMG OMG
40
OMG
Yaelah Yaelah
70
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
60
Keren Nih
Ngakak Ngakak
90
Ngakak