STORY: Dari Banyak Utang Kini Sukses Jadi Bos Sido Muncul


Apa yang ada di pikiran Anda ketika mendengar nama Sido Muncul? Pasti yang terlintas dalam benak Anda adalah jamu bukan? Ya, produsen jamu yang terkenal di Indonesia ini sudah sejak lama Anda. Tapi tahukah Anda, pemimpin atau bos Sido Muncul yang sekarang dengan susah payah mendirikan perusahaannya menjadi besar seperti sekarang.

Awalnya, Sido Muncul merupakan milik nenek dari pemilik Sido Muncul bernama Ny. Rakhmat Sulistyo pada tahun 1951. Bisnis jamu ini dirintis secara tak mudah. Dikutip dari Jakarta Post, saat diambil alih oleh Irwan Hidayat yang menjabat sebagai pimpinan sampai sekarang, perusahaan jamunya memiliki banyak masalah dan tumpukan hutang pada tahun 1972. Irwan dan keluarga pun berusaha keras untuk mengembalikan keadaan perusahaan yang hampir musnah.

Saat itu bahkan, perusahaan tidak bisa dikelola sama sekali. Aset pabrik hanya seluas lahan 600 meter persegi tanpa mesin apapun, belum lagi hutang bahan baku yang mencapai 30 bulan omzet perusahaan. Benar-benar tidak ada yang bisa dikelola.

Kemudian, Irwan dan saudaranya berusaha memperbaiki rasa dari jamu Sido Muncul saat itu yang rupanya memiliki rasa pahit. Lewat serangkaian eksperimen, akhirnya ditemukan solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Pada tahun 1997, Irwan memutuskan untuk membangun pabrik untuk memproduksi jamu secara mekanis. Di areal lahan seluas 32 hektar, dibangun laboratorium seluas 3.000 meter persegi dan menghabiskan dana sebanyak Rp 2,5 miliar.

“Pabriknya saya lengkapi lab (laboratoriun ISO 17025) supaya orang percaya sama saya. Kamu pikir saya ngerti? Nggak. Tau apa alasan saya? Biar keren. Sebab tidak diharuskan pabrik jamu seperti ini. Biar keren, wah hebat,” terang Irwan seperti yang dikutip dari lama kompascom.

Sampai sekarang PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) telah berkembang pesat dan telah melakukan serangkaian produksi jamu yang berkualitas. Sido Muncul mencatat laba bersih sebesar Rp325,36 miliar.

Irwan Hidayat pun masuk ke dalam laman Forbes dalam kategori orang kaya Indonesia yang berhati budiman, karena sebagai pemimpin dirinya pun sangat memperhatikan nasib para karyawannya. “Jangan sampai kita kaya, tapi orang lain sakit. Makanya saya buatnya nomor satu produknya harus baik memberikan benefit bagi masyarakat. Pada akhirnya, saya dapat banyak: kepercayaan konsumen tumbuh, karyawan saya senang semua,” pungkasnya.(dea)


Kalo Suka Share Dong!

Gimana Nih Beritanya?

Love Love
70
Love
OMG OMG
60
OMG
Yaelah Yaelah
90
Yaelah
Keren Nih Keren Nih
80
Keren Nih
Ngakak Ngakak
10
Ngakak